Terapi Plasma Darah Disebar ke 29 RS untuk Uji Klinis Fase 2

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis memeriksa kantong berisi plasma konvalesen dari pasien sembuh COVID-19 di Unit Tranfusi Darah (UTD) Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta, Selasa 18 Agustus 2020. Pengambilan plasma konvalesen pasien sembuh COVID-19  yang menggunakan alat apheresis bertujuan untuk membantu penyembuhan pasien terkonfirmasi COVID-19. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    Petugas medis memeriksa kantong berisi plasma konvalesen dari pasien sembuh COVID-19 di Unit Tranfusi Darah (UTD) Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta, Selasa 18 Agustus 2020. Pengambilan plasma konvalesen pasien sembuh COVID-19 yang menggunakan alat apheresis bertujuan untuk membantu penyembuhan pasien terkonfirmasi COVID-19. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    TEMPO.CO, Jakarta - Terapi plasma konvalesen untuk pasien Covid-19 di Indonesia akan memasuki uji klinis fase 2. Tahap pertama sudah dilalui di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat atau RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, dengan hasil menunjukkan terapi donor plasma darah berisi antibodi dari pasien yang sudah sembuh itu aman dan tidak memberi efek samping untuk pasien yang lain.

    Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro mengungkap itu dalam konferensi pers mengenai Pengembangan Vaksin, Terapi dan Inovasi Covid-19, Selasa 20 Oktober 2020. "Aman, tidak ada efek samping dan disimpulkan lebih baik diberikan untuk pasien dengan gejala sedang," katanya dalam konpers yang digelar daring itu. 

    Menurut Bambang, uji klinis fase dua akan dilakukan melibatkan pasien Covid-19 yang lebih luas, yakni di 29 rumah sakit. Bersama uji klinis lanjutan itu, Bambang mengungkapkan, dikembangkan pula alat ukur kadar antibodi spesifik Covid-19 dalam tubuh oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

    Bisa digunakan pula di era vaksinasi--saat vaksin Covid-19 sudah tersedia--nanti, Bambang menerangkan, "Alat bisa mengukur apakah muncul immunity yang cukup tinggi pasca terapi dan berapa lama dia akan bertahan."

    Dalam kesempatan itu Bambang menerangkan pengembangan lain yang sedang dilakukan di bawah koordinasi Kementerian Ristek/BRIN terkait inovasi Covid-19. Di antaranya adalah uji validasi tahap dua yang dilakukan terhadap GeNose, alat deteksi Covid-19 lewat embusan napas pasien yang dikembangkan tim peneliti di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

    Ada pula pengembangan rapid swab test berbasis antigen yang dikembangkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Juga modifikasi mobile lab BCL 2 untuk menambah kapasitas testing di daerah-daerah dari bentuk kontainer menjadi bus.

    Baca juga:
    Riset Bibit Vaksin Merah Putih, Menristek Siap Kucurkan Sampai Rp 60 Miliar

    "Pada akhir tahun ini diharapkan GeNose maupun RT-Lamp bisa mulai diproduksi secara luas," kata Menristek sambil menambahkan, "Ini akan meringankan beban biaya karena lebih murah daripada PCR, tak memerlukan laboratorium, namun akurasi tinggi." 


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H