BATAN Kembangkan 3 Produk Radioisotop dan Radiofarmaka untuk Kesehatan

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • BATAN mengembangkan produksi radioisotop dan radiofarmaka untuk kesehatan. Kredit: BATAN

    BATAN mengembangkan produksi radioisotop dan radiofarmaka untuk kesehatan. Kredit: BATAN

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) mengembangkan tiga produk radioisotop dan radiofarmaka untuk kesehatan, yaitu Generator Mo-99/Tc-99m, radiofarmaka berbasis PSMA (prostate specific membrane antigen) atau Lu-177-PSMA, dan Kit radiofarmaka Nanokoloid HSA.

    Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan, mengatakan saat ini BATAN mendapat penugasan dari pemerintah sebagai koordinator untuk kegiatan prioritas riset nasional (PRN), salah satu dari kegiatan tersebut adalah pengembangan produksi radioisotop dan radiofarmaka.

    Kebutuhan dalam negeri terhadap radioisotop dan radiofarmaka ini terus meningkat seiring dengan berkembangnya pemanfaatan iptek nuklir di berbagai bidang khususnya di bidang kesehatan. “Selama ini pasokan radioisotop dan radiofarmaka di dalam negeri dipenuhi oleh produk impor yang mencapai hingga di atas 90 persen. Padahal Indonesia mempunyai reaktor riset yang dapat digunakan untuk memproduksi radioisotop dan radiofarmaka,” kata Anhar pada jumpa pers di Kawasan Nuklir Serpong, Tangsel, Selasa, 20 Oktober 2020.

    Melalui kegiatan PRN ini, Anhar menambahkan, PTRR menggandeng beberapa stakeholder di antaranya PT Kimia Farma, LIPI, BPPT, BPOM, Bapeten, dan Universitas Padjajaran mengembangkan produksi radioisotop dan radiofarmaka. Targetnya adalah memproduksi radioisotop dan radiofarmaka untuk penanganan penyakit kanker, baik untuk diagnosa maupun terapi yang banyak dibutuhkan di dalam negeri.

    ADVERTISEMENT

    Secara detail, Kepala PTRR, Rohadi Awaludin menjelaskan Tc-99m banyak digunakan untuk diagnosis penyakit kanker, jantung, dan ginjal. Produk Lu-177-PSMA selain untuk diagnosis dan terapi prostat, hasil pencitraan sebaran radiofarmakanya dapat digunakan pula untuk mengetahui status terakhir sebaran kanker yang ada di dalam tubuh. Sedangkan Kit radiofarmaka nanokoloid HSA berguna untuk mendiagnosis sebaran kanker ke kelenjar limfa (limfoscintigrafi), khususnya sebaran dari kanker payudara.

    “Ketiga produk ini diharapkan dapat mensubstitusi impor luar negeri, bahkan produk Radiofarmaka berbasis PSMA saat ini mulai banyak digunakan di luar negeri dan ini mempunyai potensi penggunaan yang sangat tinggi di dalam negeri,” kata Rohadi.

    Rohadi menambahkan, tahapan kegiatan PRN dalam menghasilkan radioisotop dan radiofarmaka yang harus dilalui antara lain sintesis dan preparasi, peningkatan kapasitas produksi, uji praklinis jika diperlukan, dan uji klinis. Menurutnya, tidak semua produk radioisotop dan radiofarmaka memerlukan uji pra klinis karena merupakan hasil dari inovasi proses.

    “Produk hasil inovasi proses merupakan substitusi produk impor yang telah ada selama ini sehingga tidak memerlukan uji pra klinis secara lengkap, yang diperlukan adalah uji kesetaraan dengan produk yang telah digunakan selama ini,” tambahnya.

    Status capaian kegiatan pengembangan produksi radioisotop dan radiofarmaka di tahun 2020 ini secara umum adalah tahap sintesis dan preparasi. Sintesis dan preparasi radioisotop dan radiofarmaka dalam skala kecil telah berhasil dibuat di laboratorium.

    “Tahun 2021 diharapkan skala pembuatan dapat ditingkatkan (peningkatan kapasitas) sampai skala dapat digunakan. Selanjutnya dilakukan serangkaian pengujian untuk memastikan dapat digunakan untuk pasien,” jelasnya.

    Untuk produk Generator Mo-99/Tc-99m tutur Rohadi, pada tahun 2020 telah berhasil dibuat dalam skala laboratorium dan di akhir tahun ini generator secara utuh dapat diselesaikan. Tahun 2021 akan mulai dilakukan serangkaian pengujian untuk memastikan bahwa generator tersebut aman diangkut dan digunakan di rumah sakit.

    Lu-177-PSMA tahun 2020 telah berhasil disintesis dalam skala kecil (puluhan mCi). Kemurnian radiokimia telah memenuhi persyaratan yaitu lebih dari 95 persen. Namun masih perlu dipastikan dari sisi stabilitasnya dalam berbagai media dan berbagai suhu.

    “Sedangkan produk Nanokoloid HSA pada tahun 2020 telah berhasil dilakukan sintesis dan preparasi. Hasil sintesis dan preparasi nonsteril skala kecil telah berhasil diperoleh sesuai dengan persyaratan, yaitu kurang dari 100 nm dan kemurnian radiokimia hasil penandaan dengan Tc-99m lebih dari 90 persen,” pungkasnya.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Makan di Warteg saat PPKM Level 4 dan 3 di Jawa - Bali

    Pemerintah membuat aturan yang terkesan lucu pada penerapan PPKM Level 4 dan 3 soal makan di warteg. Mendagri Tito Karnavian ikut memberikan pendapat.