Pandemi Covid-19, Amerika Catat 300.000 Kematian Lebih Banyak

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis memberi semangat kepada pasien virus Corona yang dirawat di Rumah Sakit Sotiria di Athena, Yunani, 8 April 2020. Kasus COVID-19 di seluruh dunia menembus angka 2,1 juta, dengan Amerika Serikat, Spanyol, dan Italia sebagai negara dengan jumlah kasus tertinggi. REUTERS/Stefan Jeremiah

    Petugas medis memberi semangat kepada pasien virus Corona yang dirawat di Rumah Sakit Sotiria di Athena, Yunani, 8 April 2020. Kasus COVID-19 di seluruh dunia menembus angka 2,1 juta, dengan Amerika Serikat, Spanyol, dan Italia sebagai negara dengan jumlah kasus tertinggi. REUTERS/Stefan Jeremiah

    TEMPO.CO, New York City - Sejak merebaknya pandemi Covid-19, Amerika Serikat (AS) telah mencatat 300.000 kematian lebih banyak dari biasanya, menurut laporan terbaru pemerintah.

    Mengutip data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), laporan tersebut menunjukkan bahwa dari Februari hingga September, kematian yang dilaporkan di AS biasanya sekitar 1,9 juta. Sementara tahun ini, jumlahnya mendekati 2,2 juta, atau naik 14,5 persen.

    Sejumlah pejabat CDC mengatakan virus corona Covid-19 terlibat dalam sekitar dua pertiga dari kematian yang lebih banyak tersebut, dan kemungkinan virus itu juga menjadi faktor yang mengakibatkan banyak kematian lainnya.

    Misalnya, seseorang dengan gejala serangan jantung mungkin ragu untuk pergi ke rumah sakit yang sibuk dengan pasien virus corona, kata mereka.

    Total 95.000 kematian yang lebih banyak terjadi di kalangan warga lansia berusia 75 hingga 84 tahun, naik 21,5 persen dibandingkan dengan jumlah pada tahun normal, tetapi peningkatan relatif terbesar, yakni 26,5 persen, terjadi pada kelompok usia 25 hingga 44 tahun.

    ANTARA | XINHUA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    QAnon dan Proud Boys, Kelompok Ekstremis Sayap Kanan Pendukung Donald Trump

    QAnon dan Proud Boys disebut melakukan berbagai tindakan kontroversial saat memberi dukungan kepada Donald Trump, seperti kekerasan dan misinformasi.