Pengembangan Vaksin Covid-19, Menristek Minta Dukungan Airin

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) RI Bambang Brodjonegoro (kiri) berbincang terkait alat tes PCR BioCov-19  dengan Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir (kanan) saat kunjungan kerja di Bio Farma, Bandung, Rabu, 29 Juli 2020. Kunjungan kerja Menristek tersebut guna meninjau kesiapan Bio Farma terkait Uji Klinis vaksi Sinovac yang melibatkan 1.400 relawan. ANTARA/Novrian Arbi

    Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) RI Bambang Brodjonegoro (kiri) berbincang terkait alat tes PCR BioCov-19 dengan Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir (kanan) saat kunjungan kerja di Bio Farma, Bandung, Rabu, 29 Juli 2020. Kunjungan kerja Menristek tersebut guna meninjau kesiapan Bio Farma terkait Uji Klinis vaksi Sinovac yang melibatkan 1.400 relawan. ANTARA/Novrian Arbi

    TEMPO.CO, Tangerang Selatan - Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro mengungkap kembali rencana pembangunan pusat pengembangan vaksin nasional di kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) di Serpong, Tangerang Selatan.

    Rencana terkait percepatan pengembangan vaksin Covid-19 buatan lokal atau Vaksin Merah Putih itu disinggungnya saat berada di kantor Pemerintah Kota Tangerang Selatan, Kamis 22 Oktober 2020. "Kami butuh dukungan untuk keperluan syarat perizinan pembangunannya nanti," katanya di hadapan Wali Kota Tangerang Selatan saat ini, Airin Rachmi Diany.

    Menristek menjelaskan kalau pembangunan nantinya terdiri dari laboratorium untuk mencaroi bibit vaksin dan sebuah pabrik pilot. Pabrik rintisan itu akan diplot untuk produksi vaksin skala kecil untuk memenuhi kebutuhan uji klinis kandidat vaksin yang dihasilkan.

    Dalam keterangan sebelumnya, Menristek Bambang Brodjonegoro menuturkan kalau Indonesia menempuh kebijakan dua skema paralel atau "double track" dalam pengembangan vaksin untuk penanganan pandemi Covid-19. Keduanya adalah kerja sama dengan pihak luar negeri dan membuat vaksin secara mandiri.

    Penggunaan vaksin-vaksin yang dikembangkan di luar negeri merupakan upaya jangka pendek yang dapat segera dilakukan pemerintah. Sedangkan Vaksin Merah Putih dikembangkan sebagai upaya jangka menengah dan panjang dalam penyediaan vaksin untuk kebutuhan masyarakat Indonesia.

    Sejauh ini Vaksin Merah Putih dikembangkan oleh sejumlah institusi penelitian dan perguruan tinggi dalam negeri dengan menggunakan sejumlah platform pengembangan. Institusi tersebut adalah Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Airlangga, dan Universitas Gajah Mada.

    Baca juga:
    Riset Bibit Vaksin Merah Putih, Kemenristek/BRIN Siap Kucurkan Rp 60 Miliar

    "Vaksin Merah Putih merupakan vaksin yang dikembangkan menggunakan isolat virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 yang bertransmisi di Indonesia," katanya.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berjemur dan Dampak Positifnya Bagi Mata

    Mata merupakan jendela dunia. Penggunaan gawai yang berlebihan bisa berbahaya. Oleh karena itu kita harus merawatnya dengan memperhatikan banyak hal.