Begini BMKG Jelaskan Hubungan La Nina dan Ramainya Badai Siklon Tropis

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pria bersepeda melewati tanda rusak saat Topan Molave menghantam pantai Vietnam di desa Binh Chau, provinsi Quang Ngai, 28 Oktober 2020. REUTERS/Thanh Hue

    Seorang pria bersepeda melewati tanda rusak saat Topan Molave menghantam pantai Vietnam di desa Binh Chau, provinsi Quang Ngai, 28 Oktober 2020. REUTERS/Thanh Hue

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat tujuh siklon tropis tumbuh di Samudera Pasifik dan Laut Cina Selatan sepanjang Oktober 2020 lalu. Jumlah tersebut di atas normal, karena rata-rata klimatologis kejadian siklon tropis selama Oktober biasanya 3-4 kejadian.

    Badai siklon tropis yang terjadi selama Oktober TC Chan-hom (2 Oktober), TS Linfa (9 Oktpber), TS Nangka (11 Oktober), Depresi Tropis Ofel (13 Oktober), TC Saudel (16 Oktober), Depresi Tropis 20 W (19 Oktober), TC Molave (23 Oktober), TC Goni (27 Oktober), TS Atsani (28 Oktober).

    TC adalah tropical cyclone (siklon tropis) sedangkan TS, tropical storm (badai tropis). Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal menerangkan keduanya adalah jenis badai tropis, tapi berbeda tingkatan. "Jenis siklon tropis memiliki luasan pusaran dan kecepatan angin yang lebih kuat daripada jenis tropical storm," ujar dia dalam keterangan tertulis, Senin, 2 November 2020.

    Sejumlah studi menyebutkan terdapat hubungan antara jumlah siklon tropis di Samudera Pasifik Barat dan Laut Cina Selatan itu dengan fenomena La Nina yang saat ini sedang terjadi. La Nina adalah kondisi penyimpangan atau anomali suhu permukaan laut Samudera Pasifik tropis bagian tengah dan timur yang lebih dingin daripada kondisi normal.

    Secara teoritis, kata Herizal, badai atau siklon tropis umumnya hanya bisa berkembang dan menguat di wilayah tropis di luar wilayah 10 derajat lintang utara atau selatan. Hal ini dikarenakan secara fisis pembentukan siklon dapat terjadi bila memenuhi syarat anomali suhu muka laut yang lebih hangat dibanding wilayah sekitarnya (umumnya lebih dari 28 derajat Celsius) dan adanya potensi pusaran yang besar karena pengaruh gaya korioli.

    "Gaya korioli di wilayah Indonesia umumnya bernilai kecil karena dekat dengan garis ekuator, sehingga relatif lebih kecil peluang terjadinya siklon tropis di Indonesia," kata Herizal.

    Baca juga:
    Peneliti LAPAN: Banjir Besar Jakarta Berpotensi Terulang Awal 2021

    Selain itu, BMKG mengimbau agar masyarakat tetap tenang menanggapi berita-berita yang tidak benar terkait badai tropis yang dianggap sama dengan  fenomena La Nina. Namun, juga diharapkan tetap waspada dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak La Nina yaitu dengan ancaman banjir, banjir bandang, dan longsor akibat curah hujan ekstrem.

    Masyarakat, Herizal berujar, bisa berpartisipasi dengan memperbaiki saluran air, meningkatkan kapasitas tampungan air dan memanen hujan, serta  memangkas ranting pohon yang berlebih ataupun rapuh. "Berhati-hati dan memperhatikan tingkat kekuatan papan reklame, jembatan penyeberangan, dan lebih perhatian terhadap perkembangan cuaca yang dinamis dan cepat, serta mengikuti layanan informasi dari BMKG," ujar dia.

     

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?