Gempa Megathrust, Begini Tsunami Bisa Menciptakan Bencana di Padang

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga terdampak gempa mencari barang berharga di sekitar reruntuhan rumahnya di Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis, 11 Oktober 2018. Pascagempa dan tsunami Palu-Donggala, warga terdampak gempa kembali ke reruntuhan rumahnya untuk mencari barang-barang layak pakai yang terselamatkan. ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang

    Warga terdampak gempa mencari barang berharga di sekitar reruntuhan rumahnya di Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis, 11 Oktober 2018. Pascagempa dan tsunami Palu-Donggala, warga terdampak gempa kembali ke reruntuhan rumahnya untuk mencari barang-barang layak pakai yang terselamatkan. ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Penanggulangan Bencana Provinsi Sumatera Barat mengungkap bagaimana tsunami bisa menerjang Kota Padang bila terjadi gempa dari Mentawai. Zona megathrust Mentawai diprediksi mampu membangkitkan gempa berkekuatan hingga 8,9 Magnitudo.

    "Sekitar 20 sampai 30 menit kemudian disusul gelombang tsunami ke Kota Padang setinggi enam hingga 10 meter dengan jarak dua sampai lima kilometer," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sumatera Barat, Syahrazad Jamil.

    Syahrazad menuturkannya dalam diskusi virtual terkait upaya pengurangan risiko bencana tsunami di Provinsi Sumatera Barat, Jumat 13 November 2020. "Pelabuhan Teluk Bayur dan Bandara Minangkabau hancur," katanya.

    Syahrazad mengaku hanya mengulangi prediksi para ahli mengenai skenario buruk kejadian bencana tersebut. Disebutkannya, gempa dan tsunami bisa berdampak kepada lebih dari 1,3 juta penduduk. Untuk skenario yang terburuk, bencana akan menelan korban sebanyak 39.321 jiwa. Itu tidak termasuk 52.367 hilang dan 103.225 mengalami luka-luka.

    Dia mengingatkan kembali ancaman bencana itu karena, menurutnya, pesisir barat Sumatera sudah beberapa kali dilanda tsunami. Di Sumatera Barat, tsunami terjadi di Kepulauan Mentawai pada 25 Oktober 2010 dan menelan korban 408 jiwa.

    Sebagai upaya membangun kewaspadaan, Syahrazad menyebutkan, Provinsi Sumatera Barat di antaranya membentuk Forum Pengurangan Risiko Bencana dan kelompok siaga bencana sampai ke tingkat desa atau kelurahan. Selain membangun kemitraan dan koordinasi bersama Non Government Organization nasional maupun internasional.

    Selanjutnya, kerja sama dengan TNI dan Polri terus diperkuat dalam hal penanggulangan bencana termasuk dengan perguruan tinggi negeri maupun swasta di provinsi tersebut. Membentuk satuan pendidikan aman bencana, kelompok siaga bencana, latihan evakuasi mandiri dan pembangunan sarana mitigasi serta evakuasi berupa shelter, peta jalur evakuasi, dan peringatan dini.

    Baca juga:
    Riset: Gempa Megathrust dan Tsunami Ancam Mentawai

    "Bantuan shelter yang kita bangun memberikan rasa aman bagi masyarakat. Apalagi, sejak kejadian gempa 2009 sudah menjamur bangunan seperti hotel yang memberikan rasa aman," katanya.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kenali Tanda Masker Medis yang Asli atau Palsu

    Saat pandemi Covid-19 seperti sekarang, masker adalah salah satu benda yang wajib kita pakai kemanapun kita beraktivitas. Kenali masker medis asli.