Cina Luncurkan Misi Bawa Pulang Tanah dari Bulan Pekan Ini

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Roket Long March-5 Y5 terlihat di Situs Peluncuran Wahana Antariksa Wenchang di Provinsi Hainan, Cina selatan, Selasa, 17 November 2020. Roket pengangkut wahana penjelajah Bulan Chang'e-5 milik Cina rencananya akan diluncurkan pada akhir November. (Xinhua/Guo Cheng)

    Roket Long March-5 Y5 terlihat di Situs Peluncuran Wahana Antariksa Wenchang di Provinsi Hainan, Cina selatan, Selasa, 17 November 2020. Roket pengangkut wahana penjelajah Bulan Chang'e-5 milik Cina rencananya akan diluncurkan pada akhir November. (Xinhua/Guo Cheng)

    TEMPO.CO, Jakarta - Cina berencana meluncurkan kembali pesawat ruang angkasa nirawak ke Bulan pada pekan ini. Misinya kali ini adalah mengambil sampel batuan dari satelit alami Bumi itu. 

    Misi yang dibebankan kepada pesawat atau wahana antariksa Chang'e-5 itu akan mengumpulkan materi yang dapat membantu ilmuwan memahami asal-usul dan pembentukan Bulan. Misi Chang'e-5 sekaligus akan menguji kemampuan Cina sebelum menjalankan misi yang lebih kompleks di Bulan.

    Baca juga:
    Cina Temukan Gel Hijau di Bulan, Mirip Misi Apollo Amerika

    Jika berhasil, misi tersebut akan menjadikan Cina sebagai negara ketiga yang pernah mengambil sampel dari Bulan setelah Amerika Serikat dan Uni Soviet beberapa dekade lalu. Beberapa negara lain seperti Jepang dan India juga telah luncurkan misi ke Bulan, tapi tidak sampai membawa pulang sampel.

    Uni Soviet mengerahkan tiga misi pengambilan sampel yang berhasil dilakukan pada 1970-an. Yang terakhir, Luna 24, mengambil 170,1 gram sampel pada 1976 dari Mare Crisium, atau 'Sea of Crises'.

    Sedang program Apollo Amerika, di antara pendaratan 12 astronotnya, telah membawa pulang batuan dan tanah dari Bulan seberat 382 kilogram dalam enam misinya antara 1969-1972 

    Misi penjelajahan Cina, yang dijadwalkan meluncur dalam beberapa hari mendatang, akan berusaha mengumpulkan 2 kilogram sampel. Lokasi yang dituju adalah daerah yang sebelumnya tidak pernah dikunjungi misi negara lain, yakni di dataran lava besar yang dikenal sebagai Oceanus Procellarum, atau 'Ocean of Storms'.

    "Zona sampel Apollo-Luna di Bulan, meskipun penting bagi pemahaman kami, dilakukan di daerah yang jaraknya kurang dari setengah keliling permukaan bulan," ujar James Head, seorang ilmuwan planet di Brown University, Amerika.

    Di sisi lain, dia menambahkan, data lanjutan dari misi penginderaan jauh orbital telah menunjukkan keragaman jenis batuan, mineralogi dan usia yang lebih luas daripada yang diwakili dalam koleksi sampel Apollo-Luna. Dia juga menjelaskan ilmuwan tentang Bulan telah mengadvokasi misi membawa pulang sampel secara robotik dari banyak area kritis yang berbeda.

    "Misi itu untuk menjawab sejumlah pertanyaan mendasar yang tersisa dari eksplorasi Bulan sebelumnya," kata Head.

    Chang'e-5, yang namanya diambil dari nama Dewi Bulan dalam cerita Cina kuno, di yakini dapat membantu menjawab sebagian pertanyaan dasar itu. Misalnya, berapa lama Bulan tetap aktif secara vulkanik di interiornya dan kapan medan magnetnya--kunci untuk melindungi segala bentuk kehidupan dari radiasi Matahari--menghilang.

    Misi Change-4 Cina berhasil mendarat di Bulan, Januari 2019. (CNSA / CLEP)

    Sesampainya di orbit bulan nanti, wahana tersebut akan mengerahkan sepasang kendaraan robotik: wahana pendarat yang akan mengebor ke tanah, kemudian mentransfer sampel tanah dan batuannya ke wahana yang akan lepas landas dan berlabuh dengan modul orbit. Jika berhasil, sampel akan dipindahkan ke kapsul yang akan mengembalikannya ke Bumi.

    Cina melakukan pendaratan wahananya di Bulan pertama kali pada 2013. Pada Januari 2019, Chang'e-4 mendarat di sisi jauh Bulan, yang pertama oleh wahana antariksa negara mana pun.

    Baca juga:
    Wahana Penjelajah Mars Cina Tianwen-1 Telah Tempuh 300 Juta Kilometer

    Dalam satu dekade ke depan, Cina berencana mendirikan stasiun pangkalan robotik untuk melakukan eksplorasi nirawak di kawasan kutub selatan. Ini akan dikembangkan melalui misi Chang'e-6, 7 dan 8 sepanjang 2020-an dan diperluas hingga 2030-an menjelang pendaratan manusia.

    Cina berencana mengambil sampel dari Mars pada 2030. Pada Juli lalu, Negeri Tirai Bambu itu telah meluncurkan wahana nirawak ke Mars dalam misi independen pertamanya ke planet lain.

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.