Survei Awali Program Restorasi Terumbu Karang Terbesar di Indonesia

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Instalasi alat yang menjadi bagian dari kegiatan survei kelautan dalam program restorasi terumbu karang terbesar di Indonesia yang dilakukan di Nusa Dua, Bali, pada November 2020. Foto/MTCRC

    Instalasi alat yang menjadi bagian dari kegiatan survei kelautan dalam program restorasi terumbu karang terbesar di Indonesia yang dilakukan di Nusa Dua, Bali, pada November 2020. Foto/MTCRC

    TEMPO.CO, Jakarta - Survei kelautan untuk program restorasi terumbu karang terbesar di Indonesia, Indonesia Coral Reef Garden, di perairan Pulau Bali mulai dilakukan. Survei yang sudah dijalankan untuk program yang sekaligus ditujukan untuk pemulihan ekonomi nasional pasca pandemi corona tersebut mencakup kawasan perairan di Nusa Dua sepanjang 174,4 kilometer.

    Dalam program restorasi dengan cara transplantasi terumbu karang di bangkai kapal perang yang ditenggelamkan itu, lokasi di Nusa Dua memang menjadi prioritas. Seluruhnya ada lima lokasi restorasi yang ditetapkan yakni Nusa Dua, Buleleng Tengah, Sanur, Serangan, dan Pandawa. Total luas lokasi restorasi terumbu karang yang direncanakan adalah 50 hektare dari potensi 1.606 hektare.

    Baca juga:
    Teknologi Pewarnaan Tenun Bali Gunakan Abu Vulkanik Gunung Agung

    “Program pemulihan ekosistem laut lewat transplantasi karang ini nanti akan melibatkan 11 ribu pekerja dan hasilnya akan menghidupkan kembali wisata bahari di Provinsi Bali," kata Safri Burhanuddin, Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim di Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi, lewat keterangan tertulis Selasa 1 Desember 2020.

    ADVERTISEMENT

    Penelitian dan survei untuk penentuan lokasi transplantasi terumbu karang itu dilakukan tim peneliti Korea-Indonesia di Pusat Riset Kerja Sama Teknologi Kelautan (MTCRC). Mereka telah melakukan survei batimetri, data fisik oseanografi, studi dasar laut, dan data kualitas air sejak 18 November hingga 5 Desember nanti

    Haryo Farras, juru bicara program itu di MTCRC, menerangkan, survei batimetri dilakukan untuk mengukur kedalaman perairan. Survei dasar laut dilakukan untuk mengetahui topografi dan profil dasar laut. Sedangkan data fisik oseanografi dan data kualitas air digunakan sebagai data pendukung.

    "Hasil survei ini akan berupa peta rekomendasi yang berisi informasi tentang kedalaman dan profil dasar laut untuk menentukan lokasi penenggelaman kapal yang tepat sebagai rumah terumbu karang nanti," katanya saat dihubungi, Kamis 3 Desember 2020.

    Survei dilengkapi dengan berbagai alat dan perlengkapan MTCRC yaitu Multibeam Echosounder, Single Beam Echosounder, CTD, Grab Sampler, Tide Gauge, Drone, dan kapal survei. Secara keseluruhan, kegiatan survei dibagi menjadi 2 tujuan yaitu survei drone untuk memetakan kondisi ekosistem pesisir dan survei oseanografi untuk mengetahui bentuk dasar laut dan parameter lingkungan.

    Desain survei yang dilakukan untuk Indonesia Coral Reef Garden mempertimbangkan kedalaman air tidak lebih dari 50 meter. Hasilnya, di Nusa Dua, survei dilakukan di sepanjang 174,4 kilometer dan menetapkan 35 lokasi pengambilan sampel untuk parameter oseanografi.

    "Kami sangat senang dapat berkontribusi bagi pembangunan Indonesia melalui kerja sama ilmu pengetahuan dan teknologi maritim Korea. Kami menantikan kerja sama yang lebih banyak lagi kedepannya,” kata Hansan Park sebagai Co-Director MTCRC Korea, dalam keterangan tertulis MTCRC.

    Totok Suprijo selaku Co-Director MTCRC Indonesia mengungkap harapannya MTCRC dapat memberikan dukungan fasilitas peralatan dan tenaga ahli serta berperan aktif secara berkelanjutan dalam kegiatan Pemulihan Ekonomi Nasional - Indonesia Coral Reef Garden.

    Baca juga:
    Studi: Terumbu Karang Dunia akan Menghilang pada 2100

    "Saya juga berharap pengetahuan dan keahlian untuk merestorasi taman terumbu karang juga dikembangkan di MTCRC dan menjadi aset bangsa," katanya.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Greysia / Apriyani, Dipasangkan pada 2017 hingga Juara Olimpade Tokyo 2020

    Greysia / Apriyani berhasil jadi pasangan pertama di ganda putri Indonesia yang merebut medali emas di Olimpiade Tokyo 2020 pada cabang bulu tangkis.