Evaluasi Data 2 Pekan, Status Gunung Semeru Tetap Waspada

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gunung Semeru mengeluarkan material vulkanik terpantau dari Tumpang, Malang, Jawa Timur, Selasa, 1 Desember 2020.  Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menghimbau warga yang berada di radius 10 kilometer untuk waspada dan tetap berada di pengungsian dikarenakan aktivitas Semeru masih fluktuatif. ANTARA/Ari Bowo Sucipto

    Gunung Semeru mengeluarkan material vulkanik terpantau dari Tumpang, Malang, Jawa Timur, Selasa, 1 Desember 2020. Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menghimbau warga yang berada di radius 10 kilometer untuk waspada dan tetap berada di pengungsian dikarenakan aktivitas Semeru masih fluktuatif. ANTARA/Ari Bowo Sucipto

    TEMPO.CO, Lumajang - Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM Kasbani mengatakan status Gunung Semeru tetap pada Level II atau Waspada berdasarkan hasil evaluasi selama sepekan. Data kegempaan masih fluktuatif dan awan panas guguran masih teramati dari puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa itu (3.676 m dpl).

    Berdasarkan hasil evaluasi terbaru itu, masyarakat tetap diimbau tidak beraktivitas dalam radius satu kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru dan jarak empat kilometer arah bukaan kawah di sektor selatan-tenggara. Pun dengan mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru.

    Baca juga:
    Erupsi Bareng, Aktivitas Gunung Ile, Merapi dan Semeru Tak Saling Terkait

    "PVMBG juga merekomendasikan agar masyarakat juga mewaspadai potensi luncuran awan panas di sepanjang aliran Besuk Kobokan," ujar Kasbani dalam siaran pers, Rabu 16 Desember 2020.

    Selama periode evaluasi, katanya, teramati aktivitas guguran lava pijar dengan jarak luncur 400-700 meter arah Besuk Kobokan. Kolom asap letusan teramati dengan ketinggian 200-500 meter warna asap putih tebal condong ke arah utara.

    Berdasarkan pengamatan instrumental, jumlah dan jenis gempa yang terekam periode 8 hingga 15 Desember 2020 didominasi oleh gempa guguran, gempa Letusan, dan gempa embusan. Gempa-gempa vulkanik (Gempa Vulkanik Dalam, Vulkanik Dangkal, dan Tremor) terekam dengan jumlah rendah.

    Kasbani mengatakan setelah kejadian awan panas guguran pada 1 Desember 2020, secara visual menunjukkan adanya penurunan jumlah kejadian guguran lava pijar dengan jarak luncur berkisar antara 400-700 meter arah Besuk Kobokan. Sedangkan awan panas guguran masih teramati sebanyak 2 kejadian.

    "Kegempaan masih berfluktuatif, didominasi oleh gempa-gempa permukaan. Jumlah kejadian gempa guguran, gempa letusan, dan gempa embusan dalam periode itu masih tinggi yang mengindikasikan pergerakan magma ke permukaan masih terjadi," katanya.

    Sebelumnya, Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat PVMBG, Nia Haerani, menjelaskan status Gunung Semeru dapat dinaikkan menjadi Siaga atau Level III apabila memenuhi kriteria bahwa hasil pengamatan visual dan instrumental memperlihatkan peningkatan aktivitas yang semakin nyata atau gunung api mengalami erupsi.

    Baca juga:
    Gunung Slamet Pernah 7 Kali Letuskan Awan Panas

    "Pada Status Siaga, ancaman bahaya erupsi bisa meluas, namun tidak mengancam permukiman penduduk dengan luas daerah ancaman berbeda-beda untuk setiap gunung api," ujarnya.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H