Ung Aing dan Natalee, Sepasang Orangutan Sumatra yang Pulang dari Thailand

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Orangutan menggunakan sarung tinju saat pertandingan  kickboxing di Safari World,  Bangkok, Thailand, 13 September 2015. Metro.co.uk

    Orangutan menggunakan sarung tinju saat pertandingan kickboxing di Safari World, Bangkok, Thailand, 13 September 2015. Metro.co.uk

    TEMPO.CO, Bangkok - Sepasang orangutan Sumatra (Pongo abelii) korban penyelundupan dipulangkan dari Thailand, Kamis 17 Desember 2020. Setibanya di Indonesia, keduanya langsung menjalani rehabilitasi sebelum rencananya akan dilepasliarkan kembali di habitat aslinya di hutan Jambi.

    Ung Aing dan Natalee, dua orangutan berusia enam tahun itu dibawa dari pusat penyelamatan hewan liar di Provinsi Ratchaburi ke Bandara Internasional Suvarnabhumi Bangkok. Direktur Badan Perlindungan Satwa Liar Thailand, Suraphong Chaweepak, mengatakan sebelum diterbangkan ke Bandara Soekarno-Hatta, Ung Aing dan Natalee sempat dibekalinya pisang dan apel hijau.

    Keduanya juga dinyatakan telah melalui berbagai pemeriksaan kesehatan, termasuk tes Covid-19. "Ini adalah pengembalian kelima orangutan (dari Thailand) ke Indonesia sejak 2006," kata pejabat Departemen Taman Nasional, Satwa Liar, dan Konservasi Tanaman Thailand, Prakit Vongsrivattanakul, saat ditemui di bandara.

    Secara keseluruhan, Thailand telah mengembalikan 71 orangutan ke Indonesia. Terbaru, Ung Aing dan Natalee, berasal dari sitaan petugas di perbatasan negara itu dengan Malaysia dari tangan para penyelundupnya pada 2017. Setelah negosiasi diplomasi selama empat tahun, Thailand melalui Kementerian Konservasi Lingkungan Hidup akhirnya setuju untuk mengembalikan dua satwa endemik Indonesia itu.

    Orangutan kerap diburu para penyelundup dari habitat aslinya di hutan untuk dijadikan santapan maupun obat. Tidak hanya itu, hewan yang terancam punah itu juga ditangkap untuk dipaksa berkembang biak dan dijadikan barang dagang sebagai obyek hiburan di pasar gelap internasional.

    Petugas sedang melihat salah satu kotak berisi orangutan sumatera korban perdagangan ilegal yang dipulangkan dari Thailand ke Indonesia, Kamis 17 Desember 2020. (ANTARA/HO-KLHK)

    Menurut catatan World Wildlife Fund (WWF), tersisa sekitar 100 ribu saja orangutan Borneo/Kalimantan yang tersisa di alam liar. Sedang kerabatnya yang di Sumatra lebih tertekan lagi karena hanya tertinggal 7.500 yang masih bertahan di habitat aslinya.

    Baca juga:
    Buaya 2,5 Meter Curi Ikan dalam Karamba Dijerat Warga

    Tidak hanya diburu, populasi orangutan juga terancam karena rusaknya hutan-hutan yang menjadi habitat asli mereka. Kerusakan habitat itu disebabkan aktivitas penebangan hutan skala besar dan alih fungsi hutan jadi perkebunan maupun proyek lainnya.

    Sumber: Reuters 


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketentuan THR Ramadan 2021: Tidak Boleh Dicicil

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah mengeluarkan edaran THR Ramadan 2021 yang mewajibkan perusahaan membayarnya sesuai dengan undang-undang.