Ahli UGM Beberkan Efektivitas Alat Deteksi Covid-19 GeNose dan Pantangannya

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Alat tes Covid-19 lewat napas GeNose yang dikembangkan UGM. Foto: dok.UGM

    Alat tes Covid-19 lewat napas GeNose yang dikembangkan UGM. Foto: dok.UGM

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Alat pendeteksi Covid-19 besutan para ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM), GeNose, sudah mengantongi izin edar dan siap dipasarkan.

    Kepada Tempo, ketua tim pengembang GeNose, Kuwat Triyana, membeberkan efektivitas, berikut keunggulan dan kekurangan yang masih jadi catatan alat yang diproyeksikan bisa menggeser tes cepat itu.

    “Akurasi deteksi alat itu sampai saat ini 93-95 persen,” ujar Kuwat, Ahad, 27 Desember 2020.

    Baca: Tes Covid-19 Pakai GeNose Dipatok Mulai Rp 15.000 dan Cuma 2 Menit

    Akurasi alat yang mendeteksi gejala awal Covid melalui hembusan napas ini berkaitan dengan banyak hal, mulai dari sensitivitas dan kondisi yang mempengaruhinya.  

    Prinsip kerja alat berbasis sistem kecerdasan buatan atau artificial intelligence itu, semakin banyak sampel yang dipakai untuk menguji maka tingkat akurasi alat ini pun akan semakin baik.

    Persentase akurasi 93-95 persen alat ini diperoleh dari uji diagnostic dari 2.000 subjek lebih di delapan rumah sakit rujukan Covid-19.

    Tingkat pengukuran akurasi itu merujuk pada hasil test PCR dari tiap subjek. Secara sederhana, jika tes alat itu mendapatkan hasil reaktif maka hampir dipastikan subjek itu pasti positif Covid-19. Begitu pula sebaliknya.

    Namun Kuwat mengingatkan, saat deteksi alat itu menunjukkan hasil reaktif, masih ada langkah yang bisa ditempuh operator demi memastikan hasil test itu.

    Caranya dengan mengambil jeda 30 menit sebelum melakukan tes kembali, atau setelah ada metabolisme baru dalam tubuh pasien.

    Sebab, ujar Kuwat, sensor dari pendeteksi hembusan napas alat ini sangat sensitif, sehingga pasien yang menggunakannya pun harus memenuhi kondisi-kondisi tertentu lebih dulu untuk mendapatkan hasil tes optimal.

    Ada sejumlah ketentuan bagi pengguna agar alat ini dapat bekerja optimal.

    Pertama, pasien satu jam sebelum pengetesan dilarang mengkonsumsi alkohol. Kedua, pasien diizinkan untuk makan satu jam sebelum pengetesan namun disarankan tidak mengkonsumsi makanan dengan aroma sensitif seperti jengkol, durian, juga petai. Ketiga, pasien juga tidak boleh merokok satu jam sebelumnya.

    “Untuk hal-hal yang berbau sensitif berpotensi mengganggu sinyal deteksi alat ini, bisa-bisa malah dianggap positif (reaktif),” ujarnya.

    Untuk pasien yang sedang memiliki sakit gigi dan membuat bau napasnya menyengat juga menjadi catatan.

    Kuwat menuturkan, dalam penelitian atas alat ini timnya memgakui belum sempat memisahkan deteksi bau napas akibat sakit gigi dan lainnya.

    Dalam satu bulan ke depan, Kuwat menjanjikan tim akan kembali menganilisa dan memperbaharui lagi software sistem kecerdasan buatan yang menjadi otak alat itu, sehingga orang dalam kondisi sakit gigi pun bisa menggunakan alat itu lebih optimal.

    Menurutnya, saat hasil reaktif diperoleh lewat alat itu, tak selalu harus diulang. Apabila hasil pengetesan pertama lewat alat itu sudah memenuhi syarat-syarat prakondisi pengetesan probabilitas pengujiannya mendekati 100 persen.

    “Pengujian ulang saat hasil pertama reaktif dibutuhkan hanya jika prakondisi penggunaan alat itu belum terpenuhi, sebab tak semua pasien jujur. Mungkin sebelumnya dia merokok, konsumsi alkohol, atau makan jengkol,” ujarnya.

    Kuwat menuturkan, sebelum mulai diproduksi massal Januari 2021 nanti, sebanyak 100 unit alat pertama telah dikirimkan kepada Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) untuk meningkatkan akurasinya.

    Alat ini diciptakan khusus untuk menyasar screening cepat, yang selama ini masih mengandalkan metode rapid test. Alat ini, ujar Kuwat, belum memiliki kemampuan untuk level diagnostik kasus seperti halnya tes swab atau PCR.

    “Tapi alat ini sangat mungkin menggantikan rapid test,” ujarnya.

    Izin edar GeNose dari Kementerian Kesehatan sendiri turun pada Kamis, 24 Desember 2020. Kuwat menegaskan setelah mendapatkan izin edar GeNose C19 akan segera diproduksi massal.

    Tim berharap bila ada 1.000 unit GeNose, kemampuan tes diprediksi bisa mencapai 120 ribu orang sehari. Bila ada 10 ribu unit (sesuai target di akhir Februari 2021) maka Indonesia akan menunjukkan jumlah tes Covid-19 per hari terbanyak di dunia yakni 1,2 juta orang per hari.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketentuan THR Ramadan 2021: Tidak Boleh Dicicil

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah mengeluarkan edaran THR Ramadan 2021 yang mewajibkan perusahaan membayarnya sesuai dengan undang-undang.