Efikasi Vaksin Covid-19 Bukan Harga Mati, Begini Cara Kalkulasinya

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Botol kecil berlabel stiker

    Botol kecil berlabel stiker "Vaccine COVID-19" dan jarum suntik medis dalam foto ilustrasi yang diambil pada 10 April 2020. [REUTERS / Dado Ruvi]

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengumumkan efikasi atau tingkat khasiat vaksin Sinovac yang diuji klinis di Indonesia, tepatnya di Bandung, Jawa Barat. Efikasi vaksin Covid-19 yang dikembangkan Sinovac Biotech dari Cina tersebut dinyatakan sebesar 65,3 persen.

    Guru Besar Fakultas Farmasi Uiversitas Gadjah Mada (UGM) Zullies Ikawati menjelaskan bagaimana cara menghitung angka persentase efikasi dan apa makna dari angka efikasi tersebut. Vaksin dengan efikasi 65,3 persen dalam uji klinis berarti terjadi penurunan 65,3 persen kasus penyakit pada kelompok yang divaksinasi dibandingkan kelompok yang tidak divaksinasi (atau plasebo).

    Jadi, kata Zullies, misalnya pada uji klinik Sinovac di Bandung yang melibatkan 1.600 orang, terdapat 800 subjek yang menerima vaksin, dan 800 subyek yang mendapatkan plasebo (vaksin kosong). Jika dari kelompok yang divaksin ada 26 yang terinfeksi (3,25 persen), sedangkan dari kelompok plasebo ada 75 orang yang kena Covid (9,4 persen), maka efikasi dari vaksin adalah = (0.094 – 0.0325)/0.094 x 100 persen = 65,3 persen.

    “Jadi yang menentukan adalah perbandingan antara kelompok yang divaksin dengan kelompok yang tidak,” kata lulusan tingkat S1, S2, dan S3 Fakultas Farmasi UGM itu.

    Efikasi ini, disebutnya akan dipengaruhi dari karakteristik subjek ujinya. Jika subjek ujinya adalah kelompok risiko tinggi, maka kemungkinan kelompok placebo akan lebih banyak yang terpapar, sehingga perhitungan efikasinya menjadi meningkat.

    Jadi misalnya pada kelompok vaksin ada 26 yang terinfeksi, sedangkan kelompok placebo bertambah menjadi 120 yang terinfeksi, maka efikasinya meningkat menjadi 78,3 persen. Uji klinik di Brazil menggunakan kelompok berisiko tinggi yaitu tenaga Kesehatan, sehingga efikasinya diperoleh lebih tinggi.

    “Sedangkan di Indonesia menggunakan populasi masyarakat umum yang risikonya lebih kecil,” kata Zullies.

    Jika subjek ujinya berisiko rendah, apalagi taat dengan protokol kesehatan, tidak pernah keluar rumah sehingga tidak banyak yang terinfeksi, maka perbandingan kejadian infeksi antara kelompok plasebo dengan kelompok vaksin menjadi lebih rendah, dan menghasilkan angka yang lebih rendah.

    Katakanlah, Zullies menambahkan, misalnya pada kelompok vaksin ada 26 yang terinfeksi Covid-19 (3,25 persen) sedangkan di kelompok placebo cuma 40 orang (5 persen) karena menjaga protokol kesehatan dengan ketat, maka efikasi vaksin bisa turun menjadi hanya 35 persen, yaitu dari hitungan (5 - 3,25)/5 x 100 persen = 35 persen.

    Baca juga:
    Pandemi Covid-19 di Indonesia, 83 Persen Dokter Umum Sudah Burn Out Sedang

    Jadi, menurut peraih gelar apoteker terbaik pada 1993 di UGM ini, angka efikasi ini bukan harga mati, dan dapat dipengaruhi oleh banyak faktor ketika uji klinis dilakukan. Selain itu, jumlah subjek uji dan lama pengamatan juga dapat mempengaruhi hasil.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fatwa MUI Nyatakan Vaksin Covid-19 Sinovac Berstatus Halal, Ini Alasannya

    Keputusan halal untuk vaksin Covid-19 itu diambil setelah sejumlah pengamatan di fasilitas Sinovac berikut pengawasan proses pembuatan secara rinci.