Bos Signal: WhatsApp dan Signal 2 Aplikasi Pesan yang Berbeda

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bos Signal Brian Acton. Kredit: Techcrunch

    Bos Signal Brian Acton. Kredit: Techcrunch

    TEMPO.CO, Jakarta - Unduhan aplikasi pesan terenkripsi Signal telah meroket sejak WhatsApp, layanan saingannya, mengumumkan akan membuat pengguna berbagi beberapa data pribadi dengan perusahaan induknya, Facebook.

    Bos Signal Brian Acton—pendiri WhatsApp—mengatakan aplikasi Signal berbeda dengan WhatsApp. “Signal tidak akan menggantikan WhatsApp. Kedua aplikasi ini memiliki tujuan yang berbeda,” ujar Brian Acton, seperti dikutip Business Insider, Rabu, 13 Januari 2021.

    Baca:
    Aplikasi Pesan Teraman, Ini Perbandingan WhatsApp vs Telegram vs Signal 

    Acton merupakan salah satu pendiri WhatsApp, yang kemudian menjualnya ke Facebook seharga US$ 22 miliar pada tahun 2014. “Saya tidak ingin melakukan semua hal yang dilakukan WhatsApp," kata Acton.

    Acton tidak menjelaskan detail bagian mana dari WhatsApp yang tidak ingin dia tiru. Dia berharap orang-orang mengandalkan Signal untuk berbicara dengan keluarga dan teman dekat sambil terus berbicara dengan orang lain di WhatsApp.

    "Keinginan saya adalah memberi orang pilihan, ini tidak sepenuhnya winner-take-all scenario,” tutur Acton.

    Acton yang sempat bekerja untuk Facebook di bagian teknik secara internal untuk WhatsApp selama tiga tahun, telah menjadi kritikus Facebook yang blak-blakan. Bahkan, pada 2018, dia mendesak pengguna Facebook untuk menghapus akun mereka.

    Dia mengatakan dia meninggalkan WhatsApp pada 2017 karena perbedaan seputar penggunaan data pelanggan dan iklan bertarget. Kemudian, pada 2018, dia mendirikan Signal Foundation dengan CEO Moxie Marlinspike menggunakan US$ 50 juta dari uangnya sendiri.

    Signal, pertama kali dibuat pada tahun 2014, fokus pada privasi dan berjanji untuk tidak pernah menjual data pengguna atau menampilkan iklan dalam aplikasi.

    Pada 6 Januari, WhatsApp mengumumkan akan mengubah persyaratan layanannya untuk memaksa pengguna membagikan beberapa data pribadi, termasuk nomor telepon dan lokasi, dengan Facebook. Pengguna ditetapkan akan kehilangan layanan chat dan panggilan mulai pada 8 Februari jika mereka tidak menyetujui perubahan tersebut.

    WhatsApp mengklarifikasi bahwa ini hanya akan mempengaruhi pengguna di luar Uni Eropa dan Inggris. Dan dikatakan bahwa perubahan tersebut tidak mempengaruhi privasi pesan pengguna dengan teman atau keluarga dengan cara apa pun.

    “Perubahan telah mendorong orang untuk menggunakan Signal. Peristiwa terkecil membantu memicu hasil terbesar,” ujar Acton kepada TechCrunch.

    Menurut perusahaan analisis aplikasi Sensor Tower, Signal diunduh oleh sekitar 7,5 juta kali di Apple App Store dan Google Play store dari 6-10 Januari. Itu mewakili peningkatan 4.200 persen dari minggu sebelumnya. Selain itu, Telegram, aplikasi pesan terenkripsi lainnya, diunduh lebih dari 25 juta kali dari Sabtu-Selasa setelah pengumuman berbagi data WhatsApp.

    "Kami juga senang bahwa kami melakukan percakapan tentang privasi online dan keamanan digital. Dan orang-orang beralih ke Signal sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut," katanya menambahkan.

    Acton mengatakan bahwa karena Signal didanai oleh donasi pengguna bukan iklan atau penjualan data, tim kecil yang terdiri dari kurang dari 50 staf termotivasi untuk terus meningkatkan aplikasi. “Satu-satunya cara untuk mendapatkan donasi itu adalah dengan membangun produk yang inovatif dan menyenangkan,” tutur dia.

    BUSINESS INSIDER | TECH CRUNCH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fatwa MUI Nyatakan Vaksin Covid-19 Sinovac Berstatus Halal, Ini Alasannya

    Keputusan halal untuk vaksin Covid-19 itu diambil setelah sejumlah pengamatan di fasilitas Sinovac berikut pengawasan proses pembuatan secara rinci.