Pengembang Vaksin Merah Putih UGM: Uji Klinis Manusia Akhir Tahun 2022

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Botol kecil berlabel stiker

    Botol kecil berlabel stiker "Vaccine COVID-19" dan jarum suntik medis dalam foto ilustrasi yang diambil pada 10 April 2020. [REUTERS / Dado Ruvi]

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Tim pengembang vaksin Covid-19 nasional atau vaksin Merah Putih Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menyebut masih butuh proses panjang untuk sampai mencapai tahap uji klinis dari vaksin yang kini sedang dikembangkan.

    Baca:
    Medan Magnet Bumi di Balik Bencana Cuaca Ekstrem 42 Ribu Tahun Lalu? 

    “Untuk sampai tahap uji klinis pada manusia mungkin baru di akhir tahun 2022,” ujar anggota tim pengembang vaksin Merah Putih UGM, Tri Wibawa, kepada Tempo, Senin, 22 Februari 2021.

    Peneliti dan pengajar di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM itu menuturkan, saat ini tim vaksin UGM sudah memasuki tahap atau proses mendapatkan proof of concept dari vaksin yang dikembangkan itu.

    Tri mengakui untuk membuat sebuah vaksin seperti vaksin Covid-19 tidak bisa dilakukan secara instan dan cepat karena ada banyak proses dan tahapan yang harus dilalui.

    “Terutama untuk membuktikan bahwa kandidat vaksin itu aman dan berhasil untuk melindungi orang dari Covid-19,” kata peneliti yang pernah meneliti Pengembangan Kit Diagnostik Infeksi Virus Dengue dengan Menggunakan Antibodi Spesifik terhadap Rekombinan Protein PrM/E itu.

    Dari sejumlah kampus di tanah air yang terlibat dalam pengembangan vaksin Merah Putih, UGM berfokus pada pengembangan model DNA protein rekombinan dan adjuvan.

    Yang membedakan pengembangan vaksin UGM ini dengan lainnya soal target epitope dan platform teknologi yang digunakan. “UGM memakai linear epitope, platformnya rekombinan protein,” ujar Tri.

    Keunggulannya, untuk vaksin yang dikembangkan UGM ini, meski sama-sama menggunakan pendekatan protein rekombinan, namun ada yang membuatnya berbeda.

    “Dalam pengembangan vaksin ini kami tidak perlu mengkultur virus yang memerlukan laboratorium dengan tingkat keamanan tinggi,” kata dia.

    Menurut Tri, semua platform memiliki keunggulan dan kelemahan. Semua platform itu kini sedang dikembangkan.

    Adapun untuk mempercepat uji klinis vaksin yang dikembangkan pada manusia itu, tim UGM sendiri berharap adanya dukungan khususnya berbentuk diskusi ahli antarinstitusi.

    “Kami butuh sharing expertise untuk mempercepat pengembangan vaksin ini, lintas universitas dan lembaga penelitian,” kata dia.

    Sejak Menteri Riset dan Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro menyerahkan Surat Keputusan kepada UGM tentang Pelaksanaan Harian Tim Nasional Percepatan Pengembangan Vaksin Covid-19 Desember 2020 lalu, Tri menuturkan dukungan pemerintah tetap ada. “Baik dukungan pendanaan maupun teknis,” ujarya.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.