Yayasan BOS Melepasliarkan 7 Orangutan ke Hutan Lindung Bukit Batikap

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seekor orang utan (Pongo pygmaeus) berada di lokasi pra-pelepasliaran di Pulau Kaja, Sei Gohong, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis, 19 September 2019. Sebanyak 37 orang utan yang dirawat di pusat rehabilitasi Yayasan BOS (Borneo Orangutan Survival) di Nyaru Menteng, Palangka Raya, terjangkit infeksi saluran pernafasan akibat menghirup kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan. ANTARA

    Seekor orang utan (Pongo pygmaeus) berada di lokasi pra-pelepasliaran di Pulau Kaja, Sei Gohong, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis, 19 September 2019. Sebanyak 37 orang utan yang dirawat di pusat rehabilitasi Yayasan BOS (Borneo Orangutan Survival) di Nyaru Menteng, Palangka Raya, terjangkit infeksi saluran pernafasan akibat menghirup kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan. ANTARA

    TEMPO.CO, Palangkaraya - Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantang Tengah melepasliarkan tujuh orangutan dari Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng ke Hutan Lindung Bukit Batikap, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah.

    Baca:
    Medan Magnet Bumi di Balik Bencana Cuaca Ekstrem 42 Ribu Tahun Lalu?

    CEO BOS Jamartin Sihite mengatakan pelepasliaran itu melibatkan lima jantan dan dua betina, dan di antaranya ada sepasang ibu-anak. Dari Nyaru Menteng, orangutan dibawa melalui jalan darat sampai ke Kota Kuala Kurun, Kabupaten Gunung Mas, tempat sebuah helikopter sewaan dari Hevilift telah menanti.

    “Orangutan kemudian diterbangkan langsung dari Bandara Kuala Kurun ke titik-titik pelepasliaran di jantung Hutan Lindung Bukit Batikap,” ujarnya dalam rilis Senin, 22 Februari 2021.

    Jamartin mengatakan sudah hampir setahun ini mereka tidak melakukan lepas liar karena Covid-19. Namun demikian, BOS  tetap berkomitmen penuh bagi upaya pelestarian orangutan.

    “Kami memanfaatkan jeda hampir setahun ini untuk menyusun dan mematangkan sejumlah protokol baru pelaksanaan kegiatan di tengah pandemi untuk melanjutkan aksi penyelamatan orangutan,” katanya.

    Tak hanya itu BOS juga  melakukan tes berkala bagi para staf dan memastikan semua yang berinteraksi dengan orangutan aman dari virus Covid-19 dan memastikan orangutan yang dikirim ke luar pusat rehabilitasi sehat serta bebas virus SARS-CoV-2.

    “Kami telah menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan menyiapkan upaya mitigasi seandainya ada orangutan yang menunjukkan gejala terpapar virus ini,” tegasnya.

    Pemanfaatan helikopter pun, menurut dia, bertujuan mengurangi risiko penyebaran virus Covid-19 melalui interaksi dengan manusia, terutama penduduk desa di jalan yang biasanya dilalui.

    “Kami bersyukur semua prosedur yang kami terapkan sampai hari ini berhasil.  Kami terus berupaya untuk mencegah penularan virus Covid-19 kepada orangutan, baik yang kami rawat maupun yang telah kami lepasliarkan ke alam liar,” ujar Jamartin.

    KARANA WW


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berjemur dan Dampak Positifnya Bagi Mata

    Mata merupakan jendela dunia. Penggunaan gawai yang berlebihan bisa berbahaya. Oleh karena itu kita harus merawatnya dengan memperhatikan banyak hal.