Kajian BMKG, Bandara Yogyakarta Kurangi Risiko Tsunami di Pantai Selatan

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo meresmikan Bandara YIA di Kulon Progo Yogyakarta, Jumat 28 Agustus 2020. Dokumentasi Sekretariat Presiden

    Presiden Joko Widodo meresmikan Bandara YIA di Kulon Progo Yogyakarta, Jumat 28 Agustus 2020. Dokumentasi Sekretariat Presiden

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengungkap hasil mitigasi potensi tsunami di bandara Yogyakarta, Yogyakarta International Airport (YIA), yang dilakukan melalui koordinasi BMKG Yogyakarta.

    Baca:
    Dua Guru Besar Bicara Vaksin Nusantara yang Dikembangkan Terawan 

    “Kajian yang dilakukan BMKG menghasilkan harapan positif terkait keberadaan Bandara YIA yang letaknya di pesisir pantai mampu mengurangi risiko terjadinya tsunami,” ujar Dwikorita di sela pertemuan dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Yogyakarta, Selasa, 23 Februari 2021.

    Dwikorita menuturkan, apabila terjadi gempa dengan kekuatan 8,8 skala Richter dan tsunami setinggi 26 meter masuk ke arah bandara sampai jalan nasional serta melewati Jalan Deandels untuk rendamannya, YIA mampu menahan dampak tsunami itu menjadi 9 meter saja. “Dalam hal ini, keberadaan bandara mampu menjadi tanggul penghalang,” kata dia.

    Dengan adanya kajian tersebut, memberikan pelajaran bagi BMKG bahwa keberadaan YIA bisa mengurangi risiko tsunami di pantai selatan.

    Kepala Balai Besar BMKG Wilayah II Hendro Nugroho mengatakan pihaknya masih terus berkoordinasi dengan BPBD dalam hal mitigasi bencana gempa bumi, tsunami dan meteorologi.

    Sebagai pengingat, Pelaksana tugas sementara General Manager (GM) Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Agus Pandu Purnama sebelumnya sempat membahas isu terkait potensi gempa besar di pesisir selatan Jawa sejak bandara baru di Kabupaten Kulon Progo itu telah beroperasi. Isu itu dibahas di sela pertemuan dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Yogyakarta, 13 Agustus 2019 silam.

    Pandu mengatakan pihaknya memaklumi isu itu, namun ia mengingatkan bahwa ancaman itu merupakan potensi, bukan prediksi. Itu karena letak Indonesia yang disebutnya berada di ring of fire. "Persoalannya, sejauh apa mitigasi bencana bisa dilakukan, sehingga meminimalisir potensi risiko itu," kata Pandu saat itu.

    Pandu menuturkan isu ancaman bencana besar itu sudah muncul bahkan sejak proyek bandara baru di Kulon Progo belum dibangun.

    Oleh sebab itu, isu potensi bencana itu jadi masukan ketika bandara YIA dibangun dan meningkatkan langkah mitigasi bencana. Misalnya saja dengan membuat green belt atau sabuk pelindung berupa penanaman cemara udang sepanjang lima kilometer di pantai selatan Kulon Progo. Bandara YIA pun telah dibangun dengan konstruksi tahan gempa hingga 8,8 skala Richter.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketentuan THR Ramadan 2021: Tidak Boleh Dicicil

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah mengeluarkan edaran THR Ramadan 2021 yang mewajibkan perusahaan membayarnya sesuai dengan undang-undang.