Isolasi Mandiri Sering Tak Mempan Tekan Covid-19, Sleman Perbanyak Shelter Desa

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ruang Bersalin di RS lapangan khusus ibu bersalin positif COVID-19 di Klinik Permata Bhakti, Moyudan, Sleman, D.I Yogyakarta, Jumat, 5 Februari 2021. ANTARA/Andreas Fitri Atmoko

    Ruang Bersalin di RS lapangan khusus ibu bersalin positif COVID-19 di Klinik Permata Bhakti, Moyudan, Sleman, D.I Yogyakarta, Jumat, 5 Februari 2021. ANTARA/Andreas Fitri Atmoko

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Pemerintah Kabupaten Sleman menyebut proses karantina atau isolasi mandiri pasien Covid-19 dengan kategori Orang Tanpa Gejala (OTG) sering kali tak mempan untuk menekan penularan yang terjadi.

    Baca:
    Tenaga Kesehatan Wafat Setelah Vaksinasi, Ketua Tim Riset Duga Akibat Penyakit

    Pemerintah setempat akhirnya mendorong pemanfaatan gedung atau balai di tingkat desa/kecamatan menjadi shelter Covid-19 agar warga yang terpapar benar-benar bisa melakukan isolasi secara efektif.

    “Dari hasil evaluasi, ternyata karantina mandiri atau isolasi di rumah masih memiliki potensi adanya penularan karena kontrol yang kurang ketat,” kata Carik Kalurahan Tamanmartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman Tomi Nugraha, Rabu, 24 Februari 2021.

    Tomi mencontohkan, kontrol yang kurang ketat dari masyarakat yang melakukan isolasi mandiri di rumah ini sehingga kerap ditemukan pasien masih melakukan kontak dengan keluarga dekat yang berada di sekitarnya. Menurutnya, hal tersebut dapat menjadi potensi adanya penularan atau klaster keluarga.

    Akhirnya pemerintah desa membuat shelter Covid-19 di Kantor Kelurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan yang memanfaatkan bangunan yang sebelumnya dipakai oleh lembaga-lembaga seperti Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM), Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dan Badan Pemberdayaan Desa (BPD) dengan fasilitas sementara tujuh kamar.

    “Shelter ini diperuntukkan bagi pasien Covid-19 dengan kategori Orang Tanpa Gejala (OTG) yang dilengkapi dengan kasur, kamar mandi, peralatan mandi dan kebutuhan sehari–hari,” katanya.

    Tomi mengatakan secara teknis masyarakat yang masuk dalam kategori OTG akan dipindah ke shelter Covid-19 berdasarkan dari hasil pemantauan Satgas Covid-19 tingkat padukuhan.

    Shelter Covid-19 tingkat desa memang masih jarang saat ini. Untuk skala kabupaten, Pemerintah Kabupaten Sleman memiliki shelter antara lain rusunawa Gemawang dan shelter Asrama Haji. Mengandalkan dua shelter itu belumlah cukup karena Sleman termasuk wilayah yang masih tertinggi penularannya di wilayah DIY.

    Hingga 23 Februari 2021, Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Sleman mencatat kasus terkonfirmasi positif sebanyak 9780 orang di mana pasien tanpa gejala atau asimptomatik ada lebih dari separo atau sebanyak 5.387 kasus. Namun dari jumlah itu kasus sembuh sebanyak 8.725 kasus dan meninggal dunia sebanyak 265 kasus.

    Pelaksana Harian Bupati Sleman, Harda Kiswaya mengatakan pendirian shelter di tingkat desa sejalan dengan upaya Pemerintah Kabupaten Sleman menekan penularan Covid-19 di tingkat pedesaan. “Shelter Covid-19 tingkat desa ini inovasi yang kami harapkan dalam menyikapi pandemi Covid-19,” ujarnya.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketentuan THR Ramadan 2021: Tidak Boleh Dicicil

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah mengeluarkan edaran THR Ramadan 2021 yang mewajibkan perusahaan membayarnya sesuai dengan undang-undang.