Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Virus Corona N439K, ITS, Gunung Merapi

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi - Dokter memegang botol ampul kaca mengandung sel molekul virus corona Covid-19 asal Inggris yang telah mengalami mutasi RNA menjadi varian baru. (ANTARA/Shutterstock/pri.)

    ilustrasi - Dokter memegang botol ampul kaca mengandung sel molekul virus corona Covid-19 asal Inggris yang telah mengalami mutasi RNA menjadi varian baru. (ANTARA/Shutterstock/pri.)

    TEMPO.CO, Jakarta - Top 3 Tekno berita hari ini dimulai dari topik tentang Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin kembali menegaskan derajat ancaman mutasi virus corona Covid-19 varian N439K yang telah lama menyebar di Indonesia. Varian mutasi itu disebutnya belum menjadi perhatian dunia berdasarkan laju penularan dan tingkat keparahan infeksi.

    Baca:
    Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Lapisan Kerak Mars, KPK, Galaxy A52

    Berita terpopuler selanjutnya tentang Tim peneliti di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya membuat cat dan coating sticker antibakteri. Menggunakan partikel nano dari tembaga, cat dan coating sticker itu diklaim mampu membunuh pula 99,9 persen virus yang menempel dalam satu jam.

    Selain itu, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menyatakan dua kubah lava yang ada di bagian tengah kawah dan barat daya Gunung Merapi terus tumbuh. Keunikan dua pusat erupsi kali ini patut diwaspadai pemerintah serta masyarakat khususnya di sekitar lereng gunung itu.

    Berikut tiga berita terpopuler di kanal Tekno:

    1. Varian Corona Ini Sudah Lama di Indonesia, Menkes: Tak Jadi Perhatian WHO

    ilustrasi - Dokter memegang botol ampul kaca mengandung sel molekul virus corona Covid-19 asal Inggris yang telah mengalami mutasi RNA menjadi varian baru. (ANTARA/Shutterstock/pri.)

    Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin kembali menegaskan derajat ancaman mutasi virus corona Covid-19 varian N439K yang telah lama menyebar di Indonesia. Varian mutasi itu disebutnya belum menjadi perhatian dunia berdasarkan laju penularan dan tingkat keparahan infeksi.

    "Banyak varian baru yang hilangnya cepat. Setahu saya ini (N439K) juga salah satu varian yang hilangnya cepat," kata Budi Gunadi saat jumpa pers yang digelar Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) secara daring diikuti di Jakarta, Jumat 19 Maret 2021.

    Menkes menyatakan itu menjawab laporan Satgas Ikatan Dokter Indonesia (Satgas IDI) yang menyebut kemunculan 48 kasus infeksi virus Covid-19 jenis N439K di Indonesia. Budi mengatakan virus yang kali pertama dilaporkan di Skotlandia pada Maret 2020 itu sebenarnya sudah cukup lama masuk ke Indonesia.

    2. ITS Kembangkan Cat Tak Ramah Virus dan Bakteri, Cocok di Gagang Pintu

    Staf hotel sedang menyemprotkan cairan disinfektan ke dinding dan pintu hotel. Dok. Kemenparekraf

    Tim peneliti di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya membuat cat dan coating sticker antibakteri. Menggunakan partikel nano dari tembaga, cat dan coating sticker itu diklaim mampu membunuh pula 99,9 persen virus yang menempel dalam satu jam.

    Produk temuannya diberi nama CoFilm yang telah diaplikasikan, sebagai laboratorium uji, di gagang pintu hingga meja Medical Center ITS. "Cat dan stiker CoFilm ini bisa dimanfaatkan di mana saja secara permanen. Artinya tidak sekali pakai dibuang, tapi ada jangka waktu tertentu," kata Ketua Tim Peneliti, Agung Kurniawan, Jumat.

    Dia menerangkan, digunakan coating sticker teknologi nano copper untuk melihat secara langsung masa bertahan dari produk yang dipasang. Agung menambahkan, teknologi tersebut yakni tembaga pada cat dan coating sticker hasil inovasi itu masih terus dikembangkan.

    3. BPPTKG: Waspadai Dampak 2 Pusat Erupsi Gunung Merapi Akhir Maret

    Guguran lava pijar Gunung Merapi terlihat dari Turi, Sleman, D.I Yogyakarta, Jumat, 5 Maret 2021. Menurut data Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) periode pengamatan Kamis hingga Jumat Gunung Merapi mengalami 81 kali guguran lava pijar dengan jarak luncur maksimal 1.200 m ke arah barat daya. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

    Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menyatakan dua kubah lava yang ada di bagian tengah kawah dan barat daya Gunung Merapi terus tumbuh. Keunikan dua pusat erupsi kali ini patut diwaspadai pemerintah serta masyarakat khususnya di sekitar lereng gunung itu.

    Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Agus Budi Santoso mengatakan laju ekstruksi pembentukan kubah lava sekitar 20 meter kubik per hari itu berpotensi mengeluarkan material lebih banyak dan lebih tersebar. "Guguran lava pijar dan awan panas tidak hanya ke arah barat daya potensinya, tapi juga ke arah (tenggara) ke hulu Kali Gendol sesuai bukaan kawah yang terjadi saat ini," kata Agus, Jumat 19 Maret 2021.

    Meningkatnya potensi dampak erupsi Gunung Merapi dengan dua pusat erupsi itu, BPPTKG mencatat, salah satunya ditandai dengan makin seringnya hujan abu di sekitar lereng. "Hujan abu ini sudah sering terjadi saat ini, harap pemerintah dan warga mewaspadainya," ujar Agus. Simak Top 3 Tekno Berita Hari Ini lainnya di Tempo.co.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perkiraan Ukuran Tubuh Megalodon, Pemangsa Zaman Purba

    Setelah berbagai macam penelitian yang dilakukan para ahli, akhirnya mereka bisa menyimpulkan perkiraan ukuran tubuh Megalodon, sang hiu purba.