Nadiem: Konservasi Aksara Daerah Ke Platform Digital Agar Bisa Bertahan

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu, 10 Maret 2021. Rapat kerja tanggal 20 Januari 2021 mengenai skema kebijakan afirmatif dan opsi lain GTK honorer, dan perkembangan program 1 juta PPPK tahun 2021. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu, 10 Maret 2021. Rapat kerja tanggal 20 Januari 2021 mengenai skema kebijakan afirmatif dan opsi lain GTK honorer, dan perkembangan program 1 juta PPPK tahun 2021. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menilai konservasi aksara daerah sebagai bagian kebudayaan lokal ke dalam platform digital mutlak dilakukan jika ingin bertahan.

    Baca:
    Buka Kongres Aksara Jawa, Sultan HB X Runut Upaya Digitalisasi

    “Pemanfaatan teknologi digital menjadi strategi kemajuan dan pengarusutamaan kebudayaan lokal yang harus diupayakan agar mendapat pengakuan di tengah situasi global yang menuntut modernitas,” ujar Nadiem saat membuka secara daring Kongres Aksara Jawa I yang dilaksanakan di Yogyakarta, Senin, 22 Maret 2021.

    Nadiem mengatakan pihaknya mendukung penuh Kongres Aksara Jawa yang digelar Pemerintah DI Yogyakarta karena salah satu temanya mengangkat upaya integrasi aksara Jawa dalam platform digital. Inisiatif itu, menurutnya, patut ditindaklanjuti untuk mendukung eksistensi aksara Jawa di tengah modernitas ekosistem dunia.

    Nadiem mengakui belakangan aksara Jawa juga aksara daerah lain harus susah payah bertahan di dunia yang didominasi aksara Latin. 

    “Perkembangan teknologi informasi secara tak langsung mengamplifikasi dominasi bahasa Latin tersebut dan makin menyudutkan aksara daerah. Terlihat dari penggunaan aksara Latin yang sebagian besar digunakan dari yang kita akses saat ini,” katanya.

    Nadiem menambahkan, aksara Jawa menjadi salah satu bahasa daerah yang memainkan peranan penting dalam pertumbuhan literasi dan paradigma pendidikan kebudayaan dan falsafah lokal bangsa.

    Ia mencontohkan Kitab Serat Panitya Sastra misalnya, yang menekankan bahwa kehalusan budi pekerti juga tercermin melalui keindahan bahasa dan karakter seseorang pun bisa dinilai dari perilaku, cara bicara dan perasaannya.

    “Dari situ, penguasaan bahasa daerah, Bahasa Jawa khususnya, lebih dari penguasaan alat komunikasi tetap juga berhubungan erat dengan pembangunan budi pekerti,” kata dia.

    Nadiem memaparkan, aksara menjadi unsur paling pokok dalam bahasa, yang berperan dari raga, bahasa dan kebudayaan. “Semoga kongres ini semakin mendorong upaya untuk memajukan budaya Jawa yang semakin inklusif di masa mendatang,” kata dia.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lakon DPR, Jokowi, dan MK dalam Riwayat Akhir Kisah KPK

    Pada 4 Mei 2021, Mahkamah Konstitusi menolak uji formil UU KPK. Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden Jokowi juga punya andil dalam pelemahan komisi.