BMKG Prediksi Musim Kemarau Mulai April, Puncaknya Agustus

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga mengambil air dari lubang buatan di Dusun Asemrudung, Grobogan, Jawa Tengah, Senin, 21 September 2020. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat hingga September 2020 mencacat ada 97 desa dari 14 kecamatan di Kabupaten Grobogan mengalami krisis air bersih akibat musim kemarau. ANTARA/Yusuf Nugroho

    Warga mengambil air dari lubang buatan di Dusun Asemrudung, Grobogan, Jawa Tengah, Senin, 21 September 2020. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat hingga September 2020 mencacat ada 97 desa dari 14 kecamatan di Kabupaten Grobogan mengalami krisis air bersih akibat musim kemarau. ANTARA/Yusuf Nugroho

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau akan mulai terjadi bulan April. Menurut BMKG, peralihan angin monsun akan terjadi pada akhir Maret, kemudian monsun Australia mulai aktif.

    Baca:
    Pendaftaran Dibuka April, Lakukan 6 Hal Ini Sebelum Memilih Sekolah Kedinasan

    “Karena itu, musim kemarau 2021 diprediksi akan mulai terjadi pada April," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati lewat siaran pers, Kamis, 25 Maret 2021.

    Awal musim kemarau itu diperkirakan mencakup 22,8 persen zona musim, yaitu Nusa Tenggara, Bali, dan sebagian Jawa.

    Dwikorita menyebutkan periode April-Mei merupakan masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau atau masa pancaroba.

    Adapun hasil pemantauan terhadap anomali iklim global menunjukkan kondisi La Nina diprediksi masih akan terus berlangsung hingga Mei 2021 dengan intensitas yang terus melemah. Sedangkan pemantauan kondisi Indian Ocean Dipole Mode (IOD) diprediksi netral hingga September 2021.

    Deputi Bidang Klimatologi Herizal mengatakan dari total 342 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 22,8 persen diprediksi akan mengawali musim kemarau pada April 2021, yaitu di Nusa Tenggara, Bali, dan sebagian Jawa.

    Kemudian 30,4 persen wilayah yang akan memasuki kemarau pada Mei mencakup sebagian Nusa Tenggara, Bali, Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Papua.

    Adapun 27,5 persen wilayah akan kemarau pada Juni, meliputi sebagian Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, sebagian kecil Maluku, dan Papua. Pada masa pancaroba April-Mei, Herizal mengatakan kondisi cuaca perlu diwaspadai.

    “Potensi hujan lebat dengan durasi singkat, angin kencang, puting beliung dan potensi hujan es yang biasa terjadi pada periode tersebut,” katanya.

    Menurut Herizal, musim kemarau tahun ini akan datang lebih lambat namun cenderung normal. “Kecil peluang terjadinya kekeringan ekstrem, seperti musim kemarau 2015 dan 2019,” ujarnya. Herizal. Adapun puncak musim kemarau diprediksi BMKG pada Agustus.

    Selain itu BMKG memprediksi juga sebagian daerah yang akan mengalami musim kemarau lebih kering dari normalnya yaitu di Aceh bagian tengah, sebagian Sumatera Utara, Riau bagian utara, Sumatera Barat bagian timur, Jambi bagian barat dan timur, Bengkulu bagian utara, Jawa Barat bagian tengah, sebagian Jawa Timur, sebagian Bali, dan Sulawesi Selatan bagian selatan.

    ANWAR SISWADI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H