Facebook Tidak Infokan 533 Juta Pengguna yang Datanya Bocor

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siluet pengguna ponsel terlihat di samping layar proyeksi logo Facebook dalam ilustrasi gambar yang diambil 28 Maret 2018. [REUTERS / Dado Ruvic / Ilustrasi]

    Siluet pengguna ponsel terlihat di samping layar proyeksi logo Facebook dalam ilustrasi gambar yang diambil 28 Maret 2018. [REUTERS / Dado Ruvic / Ilustrasi]

    TEMPO.CO, Jakarta - Facebook menjelaskan pihaknya tidak memberi tahu lebih dari 530 juta pengguna yang data pribadinya bocor secara online. “Saat ini tidak memiliki rencana untuk melakukannya,” ujar juru bicara perusahaan kepada Reuters, Rabu, 7 April 2021.

    Baca:
    533 Juta Data Pengguna Facebook Bocor, Ini Saran dari Kaspersky 

    Akhir pekan lalu, Business Insider melaporkan bahwa data pribadi sebanyak 533 juta pengguna Facebook bocor dan dipublikasikan. Data tersebut berupa nomor telepon, ID Facebook, nama lengkap, lokasi, tanggal lahir, bios, dan dalam beberapa kasus ada alamat email.

    Kebocoran juga mencakup pengguna dari 106 negara, termasuk lebih dari 32 juta di Amerika Serikat, 11 juta di Inggris, dan 6 juta di India. Data tersebut dibocorkan oleh pengguna di forum peretasan secara online.

    Facebook mengatakan dalam sebuah posting blog pada hari Selasa, 6 April 2021 bahwa aktor jahat telah memperoleh data sebelum September 2019. “Mereka mengorek profil menggunakan kerentanan di alat platform untuk menyelaraskan kontak,” tulis Facebook.

    Juru bicara Facebook mengatakan perusahaan media sosial itu tidak yakin memiliki visibilitas penuh yang perlu diberitahukan kepada pengguna. Dan menjelaskan hal itu juga memperhitungkan bahwa pengguna tidak dapat memperbaiki masalahnya dan memutuskan untuk tidak memberi tahu pengguna.

    “Kami telah menutup lubang setelah mengidentifikasi masalah pada saat itu,” katanya.

    Menurut perusahaan besutan Mark Zuckerberg itu, informasi yang diambil tidak termasuk informasi keuangan, kesehatan atau kata sandi. Namun, data yang dikumpulkan dapat memberikan informasi berharga untuk peretasan atau penyalahgunaan lainnya.

    Facebook, yang telah lama diawasi tentang bagaimana menangani privasi pengguna, pada 2019 mencapai penyelesaian penting dengan Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat atas penyelidikannya atas tuduhan perusahaan menyalahgunakan data pengguna.

    Komisi Perlindungan Data Irlandia, regulator utama Uni Eropa untuk Facebook, mengatakan bahwa pihaknya telah menghubungi perusahaan tersebut tentang kebocoran data. “Tidak ada komunikasi proaktif dari Facebook, meskipun sudah terhubung.”

    REUTERS | BUSINESS INSIDER


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketentuan THR Ramadan 2021: Tidak Boleh Dicicil

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah mengeluarkan edaran THR Ramadan 2021 yang mewajibkan perusahaan membayarnya sesuai dengan undang-undang.