Kedubes AS Dukung Jurnalisme Data Perangi Hoax Covid-19

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang wartawan disuntik vaksin COVID-19 di Hall Basket, Senayan, Jakarta, Kamis, 25 Februari 2021. Sebanyak 5.500 awak media di Jakarta akan menerima vaksin COVID-19 secara bertahap. ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

    Seorang wartawan disuntik vaksin COVID-19 di Hall Basket, Senayan, Jakarta, Kamis, 25 Februari 2021. Sebanyak 5.500 awak media di Jakarta akan menerima vaksin COVID-19 secara bertahap. ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.CO, Surabaya - Sejumlah jurnalis, dosen dan mahasiswa jurnalistik di Surabaya dan sekitarnya baru-baru ini mendapat kesempatan mengikuti pelatihan jurnalisme data dan komputasi (Data and Computational Journalism 2021) untuk peliputan Covid-19. Kegiatan yang didukung Kedutaan Besar Amerika Serikat ini bisa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta untuk menganalisis data secara lebih kritis dan akurat untuk menjelaskan realita pandemi secara lebih baik.

    Selama lima hari, pada akhir pekan pertama dan kedua April 2021, secara daring peserta pelatihan ini ditempa materi-materi terkait pengolahan dan visualisasi data. Harapannya, jurnalis dapat memberikan cerita yang akurat dan inspiratif kepada pembaca dalam peliputan Covid-19.

    "Pelatihan ini merupakan titik awal bagi jurnalis untuk menggunakan pengetahuan yang sudah diberikan untuk diaplikasikan dalam karya jurnalistiknya,” ujar Atase Press di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Sita Raiter.

    Dia mengatakan, dalam situasi luar biasa seperti pandemi, jurnalis memiliki peran penting dengan memberikan informasi situasi terkini dan berita terbaru terkait Covid-19 - seperti kasus, kebijakan pemerintah, tanggapan masyarakat, temuan ahli medis, analisis di bidang kesehatan dan masih banyak lagi - kepada publik. Jurnalis dalam hal ini berada di barisan depan dalam memerangi disinformasi alias hoax kepada publik.

    Munculnya berbagai data terkait Covid-19, baik dari pemerintah maupun lembaga non profit (LSM), dapat membantu jurnalis untuk menghasilkan pemberitaan yang lebih baik dengan memberikan analisis mendalam, namun sebaliknya juga bisa membingungkan jurnalis. Alasannya, sebagian data terkadang tidak konsisten dan terintegrasi di antara berbagai organisasi dan lembaga pemerintah.

    Tidak hanya itu, minimnya pengetahuan tentang jurnalisme data--membedakan data dengan format benar dan tidak--juga menghambat jurnalis untuk memahami dan mengolah data dari narasumber. Oleh karena itu, DCJ menyadari pelatihan sangat penting dilakukan untuk jurnalis.

    “DCJ bertujuan untuk membekali wartawan dengan keterampilan dan pengetahuan yang luas untuk menangani dan meminimalkan kesalahan atau disinformasi sebelum, selama, dan setelah wabah,” ucap Project Officer DCJ 2021, Utami Diah Kusumawati.

    Pelatihan ini menyoroti praktik jurnalisme data, tantangan dan peluangnya di Indonesia selama pandemi baik di ruang redaksi di ibu kota Jakarta maupun provinsi lain dengan kasus Covid-19 tinggi. Selain juga menampilkan praktik terbaik jurnalisme data, mengeksplorasi teknologi yang muncul, serta untuk bertukar pengetahuan tentang jurnalisme data dan teknologi antara para ahli dari AS dan Indonesia saat puncak acara, yakni konferensi internasional DCJ 2021.

    Rangkaian Pelatihan DCJ 2021 untuk peliputan Covid-19 diadakan di Jakarta (DKI Jakarta), Surabaya (Jawa Timur), Palembang (Sumatera Selatan), Makassar (Sulawesi Timur), Banjarmasin (Kalimantan Timur), dan Ambon ( Maluku). Tahun ini DCJ akan menutup rangkaian pelatihan dengan mengadakan Data and Computational Journalism Conference 2021.

    Baca juga:
    Puasa, Tes Covid-19 Pakai GeNose Kurang Akurat Siang-Sore Hari

    CATATAN:

    Artikel ini telah diubah pada Rabu 14 April 2021, pukul 23.16 WIB, untuk memperbaiki kekeliruan nama narasumber dari Kedubes AS. Terima kasih.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.