Ditunggu, Penjelasan Riset Vaksin Nusantara dari Peneliti di Jawa Tengah

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah tim medis mengevakuasi seorang pasien menuju Ruang Isolasi Khusus Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Kariadi saat simulasi penanganan wabah virus novel Coronavirus (nCoV) di Semarang, Jawa Tengah, Kamis, 30 Januari 2020. Berbagai simulasi penanganan yang dilakukan oleh RSUP Kariadi bersama Dinas Kesehatan Pemprov Jateng. ANTARA

    Sejumlah tim medis mengevakuasi seorang pasien menuju Ruang Isolasi Khusus Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Kariadi saat simulasi penanganan wabah virus novel Coronavirus (nCoV) di Semarang, Jawa Tengah, Kamis, 30 Januari 2020. Berbagai simulasi penanganan yang dilakukan oleh RSUP Kariadi bersama Dinas Kesehatan Pemprov Jateng. ANTARA

    TEMPO.CO, Semarang - Belum juga ada keterangan dari tim peneliti di Jawa Tengah yang terlibat dalam riset uji klinis Vaksin Nusantara untuk Covid-19. Riset yang memicu pro dan kontra karena tak gubris peringatan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengenai prosedur ilmiahnya itu awalnya dikerjakan di RSUP dr Kariadi Semarang, sebelum kini dipindahkan ke RSPAD Gatot Soebroto Jakarta.

    Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memanggil anggota tim peneliti itu yang berasal dari RSUD Dokter Moewardi, rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Kamis 22 April 2021. Ganjar meminta laporan tertulis dari jalannya riset namun belum bisa disediakan para peneliti pada hari itu.

    "Saya juga tanya hasil yang sudah pernah dicapai pada fase pertama, tapi belum bisa dijawab," kata Ganjar mengungkapkan isi pertemuan yang dilakukan tertutup itu. Dia menambahkan, "Mudah-mudahan pekan depan sudah ada laporannya."

    Ganjar mengaku selama ini belum pernah menerima laporan progres penelitian vaksin berbasis sel dendritik yang biasa diterapkan dalam terapi kanker tersebut. 
    Ganjar juga mengaku tak mengetahui masalah apa yang mengganjal jalannya penelitian hingga dinilai bermasalah oleh BPOM.

    Dia mengaku selama ini hanya bisa memantau perkembangan Vaksin Nusantara dari pemberitaan di media. "Apakah di izin, apakah di metode, saya tidak tahu. Justru ketika saya nonton televisi dan lihat di berita bahwa prosesnya jalan lagi di RSPAD, loh berati tidak ada masalah, terus apa yang kemarin ramai-ramai?" katanya.

    Itu sebabnya, Ganjar menjelaskan, memanggil para peneliti di rumah sakit itu ke kantornya. Dia menyatakan tak mau ada muatan politis dalam riset yang dipimpin eks Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto tersebut. "Jawa Tengah jadi tempat riset itu, saya harus tahu progresnya. Kalau tidak tahu nanti bagaimana saya menjelaskan?" kata dia.

    Selama ini anggota tim peneliti di Jawa Tengah yang terlibat dalam riset Vaksin Nusantara--berdasarkan isi SK yang pernah dibikin Terawan semasa jadi menkes--menutup keterangan kepada awak media. Mereka baik yang berada di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, RSUD Moewardi maupun RSUP Kariadi. Termasuk sebelum dan sesudah pertemuan dengan Ganjar, Kamis, mereka juga menghindar.

    Baca juga:

    Sel Dendritik dan Vaksin Nusantara, Ahli Patologi: Bisa Disuntik Seumur Hidup

     


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perkiraan Ukuran Tubuh Megalodon, Pemangsa Zaman Purba

    Setelah berbagai macam penelitian yang dilakukan para ahli, akhirnya mereka bisa menyimpulkan perkiraan ukuran tubuh Megalodon, sang hiu purba.