Top 3 Tekno Berita Kemarin: Filipina Singgung Kapal Selam KRI Nanggala dan Cina

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto 29 Agustus 2018 yang dirilis Angkatan Bersenjata Filipina, memperlihatkan kapal Angkatan Laut Filipina BRP Gregorio del Pilar terlihat setelah lepas sauh selama patroli rutin di sekitar Half Moon Shoal, yang disebut Hasa Hasa di Filipina, dari gugus kepulauan Spratly yang disengketakan di Laut Cina Selatan. (Angkatan Bersenjata Filipina melalui AP, File)

    Foto 29 Agustus 2018 yang dirilis Angkatan Bersenjata Filipina, memperlihatkan kapal Angkatan Laut Filipina BRP Gregorio del Pilar terlihat setelah lepas sauh selama patroli rutin di sekitar Half Moon Shoal, yang disebut Hasa Hasa di Filipina, dari gugus kepulauan Spratly yang disengketakan di Laut Cina Selatan. (Angkatan Bersenjata Filipina melalui AP, File)

    TEMPO.CO, Jakarta - Top 3 Tekno Berita Kemarin, Senin 17 Mei 2021, diawali dari berita Fiipina yang berencana membeli kapal selam serang untuk memperkuat pertahanannya di laut dalam. Rencana terus didorong meski dibayangi tragedi KRI Nanggala-402 di Indonesia. Alasannya, ancaman aktivitas armada Angkatan Laut Cina.

    Berita kedua masih tentang KRI Nanggala-402. Bedanya, artikel berasal dari penjelasan pakar kelautan Universitas Padjadjaran yang menyebut lokasi tenggelamnya kapal selam dan 53 awaknya itu berada di zona lereng benua, perbatasan antara paparan Sunda dan Sahul.

    Berita yang ketiga berbeda. Isinya, hasil percobaan pada tikus yang dilakukan ilmuwan di Jerman yang menunjukkan kalau bahan pengawet vaksin Covid-19 AstraZeneca mampu memicu reaksi berlebihan yang jarang terjadi pada sistem kekebalan tubuh. Reaksi itu yang kemudian menyebabkan pembekuan darah, seperti yang diduga terjadi pada sebagian kecil penerima vaksin itu di sejumlah negara.

    Berikut ini Top 3 Tekno Berita Kemarin, Senin 17 Mei 2021, selengkapnya,

    1. Filipina Berencana Beli Kapal Selam, Singgung KRI Nanggala dan Indonesia

    Filipina berniat membeli tiga kapal selam untuk memperkuat armada angkatan lautnya menghadapi potensi ancaman konflik dengan Cina. Pembelian kapal selam dipandang sebagai prioritas di antara rencana pengadaan 16 kapal perang yang telah ditetapkan hingga tahun anggaran 2028.

    “Kapal selam serang akan sangat berguna untuk melindungi wilayah perairan dalam kita di Laut Filipina Barat," kata Johnny Pimentel, ketua komite intelejen strategis di DPR Filipina, seperti dikutip dari Philstar, Senin 17 Mei 2021.

    Kapal selam, kata dia, bisa melakukan operasi-operasi intelejen, pengintaian, dan pertahanan terhadap aktivitas militer Cina yang tidak diharapkan di perairan itu. Didukung torpedo, rudal, dan ranjau, kapal selam serang juga disebutnya memiliki kemampuan membidik jarak jauh dan ke daratan.

    2. Pakar Kelautan Unpad Beberkan Tipikal Laut Lokasi Karamnya KRI Nanggala-402

    Kapal selam KRI Nanggala-402 resmi dinyatakan tenggelam atau subsunk oleh TNI AL dan diperkirakan berada di kedalaman 838 meter di wilayah perairan Bali, pada Sabtu 24 April 2021 lalu.

    Dosen dan peneliti kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran Syawaludin Alisyahbana Harahap, M.Sc mengatakan, secara teori lokasi tenggelamnya kapal selam tersebut berada di zona laut dalam.

    Dilansir dari unpad.ac.id, bila dilihat dari gambaran lokasi, menurut Syawaludin, karamnya KRI Nanggala-402 berada pada zona lereng benua di perairan Bali. Secara geografis, kawasan laut Bali merupakan zona bertemunya paparan Sunda di sebelah barat dengan paparan Sahul di sebelah timur, yang dipisahkan oleh Kepulauan Kangean yang terletak di sebelah utara dari pulau Bali.

    3. Percobaan Ini Tunjukkan Bagaimana Vaksin AstraZeneca Bisa Gumpalkan Darah

    Riset oleh peneliti darah dan imunologi dari Jerman, Andreas Greinacher, menunjukkan bahan pengawet vaksin Covid-19 AstraZeneca dapat memicu reaksi berlebihan yang jarang terjadi pada sistem kekebalan tubuh. Reaksi itu yang kemudian menyebabkan pembekuan darah, seperti yang diduga terjadi pada sebagian kecil penerima vaksin itu di sejumlah negara.

    Bahan pengawet tersebut adalah EDTA, atau asam ethylenediaminetetraacetic yang biasa digunakan dalam obat-obatan dan kosmetik. “Bahan tersebut dapat membuat tubuh memproduksi antibodi secara berlebihan dan memicu reaksi kedua dari sistem kekebalan yang kemudian mulai membekukan darah,” ujar Greinacher menuturkan, Minggu 16 Mei 2021. 

    Greinacher adalah Kepala Institut Imunologi dan Transfusi di Rumah Sakit Universitas Greifswald. Dia dan rekannya melakukan penelitian pada tikus yang menunjukkan bahwa EDTA menyebabkan protein dalam cairan vaksin bocor ke aliran darah dan mengaktifkan platelet dengan menabraknya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.