Kematian Diduga Karena Vaksin AstraZeneca, 2 Kasus Telah Dipastikan Penyebabnya

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi - Sejumlah petugas medis mengangkat peti jenazah pasien positif Covid-19 saat simulasi pemakaman di Lhokseumawe, Aceh, Jumat, 17 April 2020. Kredit: ANTARA/Rahmad

    Ilustrasi - Sejumlah petugas medis mengangkat peti jenazah pasien positif Covid-19 saat simulasi pemakaman di Lhokseumawe, Aceh, Jumat, 17 April 2020. Kredit: ANTARA/Rahmad

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebanyak dua dari tiga kasus kematian yang sejauh ini dilaporkan terjadi usai vaksinasi Covid-19 AstraZeneca telah dipastikan tak terkait dengan suntikan vaksin itu. Tersisa satu yang saat ini masih dalam investigasi Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (Komnas KIPI) bersama Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

    Ketua Komnas KIPI Hindra Irawan Satari menerangkan tiga kejadian kematian itu dilaporkan dua di Jakarta dan satu di Ambon, Maluku. Satu yang masih dalam penelitian adalah yang di Jakarta, atas nama Trio Fauqi Virdaus (22), warga Buaran, Duren Sawit, Jakarta Timur.

    "Sulit nyatakan ini terkait imunisasi, tapi juga sulit untuk menyatakan ini tidak terkait imunisasi karena AstraZeneca," kata Hindra dalam Rapat Dengar Pendapat Umum bersama Komisi IX DPR yang dipantau secara virtual di Jakarta, Kamis 20 Mei 2021.

    Komnas KIPI, kata Hindra, telah mengajukan rekomendasi untuk dilakukan autopsi pada jenazah Trio untuk mengumpulkan data hubungan sebab-akibat AstraZeneca dengan peristiwa itu. Dalam keterangan sebelumnya, Hindra mengungkap kesulitan penelusuran karena tidak ada data medis Trio yang tersedia pascakeluhan yang dilaporkan usai vaksinasi.

    Sedang dua kasus lainnya telah dipastikan kejadian kematiannya bukan karena vaksin AstraZeneca--jenis vaksin Covid-19 yang belakangan dikaitkan dengan kejadian langka pembekuan darah di otak yang mematikan. Satu di antaranya adalah seorang pria berusia 60 tahun yang berprofesi sebagai pengendara ojek daring di Jakarta. 

    Saat datang ke tempat pelayanan vaksinasi, kata Hindra, yang bersangkutan sempat diwawancara terkait potensi penyakit bawaan atau komorbid oleh petugas, namun tidak dilakukan pemeriksaan medis. Lalu besoknya dia ke puskesmas di Jakarta karena mengalami sesak napas, "Dan menyatakan sehari sebelum vaksinasi memang sudah sesak," kata Hindra.

    Selanjutnya petugas puskesmas melakukan diagnosa hingga ditemukan radang paru berdasarkan laporan rontgen. Si pasien menolak ketika diminta jalani inkubasi. Saat semakin berat lagi dan mau dirujuk, tempatnya sudah penuh. Pasien tersebut pun dinyatakan meninggal empat hari kemudian. "Jadi bukan gara-gara vaksinnya, tapi karena memang radang paru sebelum vaksin," kata Hindra.

    Satu kejadian kematian lagi yang juga dilaporkan terkait vaksin AstraZeneca terjadi di Ambon. Ini dialami seorang peserta vaksinasi berumur 45 tahun. Sehari setelah imunisasi, dia mengalami demam, batuk pilek yang berat. "Ternyata sudah terpapar positif Covid-19 sebelum vaksinasi dan mengalami gejala berat, lalu meninggal," ujarnya.

    Baca juga:
    Percobaan Ini Tunjukkan Bagaimana Vaksin AstraZeneca Bisa Gumpalkan Darah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.