Berlangsung 5 Jam, Waktu Puncak Gerhana Bulan Total Supermoon Hanya 14,5 Menit

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto kolase planet Mars terlihat saat terjadinya fenomena gerhana bulan total di langit Indramayu, Jawa Barat, Sabtu, 28 Juli 2018. Gerhana bulan total tahun ini merupakan fenomena langka karena terjadi selama 1 jam 43 menit, atau merupakan gerhana terlama yang terjadi pada abad ini. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

    Foto kolase planet Mars terlihat saat terjadinya fenomena gerhana bulan total di langit Indramayu, Jawa Barat, Sabtu, 28 Juli 2018. Gerhana bulan total tahun ini merupakan fenomena langka karena terjadi selama 1 jam 43 menit, atau merupakan gerhana terlama yang terjadi pada abad ini. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

    TEMPO.CO, Jakarta - Seluruh proses gerhana bulan total supermoon dari awal sampai tuntas pada Rabu, 26 Mei 2021, akan berlangsung selama 5 jam 5 menit dan 2 detik. Waktunya untuk wilayah Indonesia bagian barat, misalnya dari pukul 15:47:39 hingga 20.49 WIB.

    “Durasi fase total gerhananya terbilang cukup singkat, yakni 14 menit 30 detik,” kata Andi Pangerang, Peneliti Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Rabu 26 Mei 2021.

    Menurutnya, waktu puncak gerhana bulan total supermoon itu akan terjadi pada pukul 18.18.43 WIB atau 19.43.18 WITA atau 20.43.18 WIT. Adapun jarak Bulan saat puncak gerhana yaitu 357.464 kilometer dari Bumi.

    Karena dalam posisi tergolong berjarak dekat dengan Bumi, maka Bulan akan tampak lebih terang 15,6 persen dari rata-rata purnama biasanya. “Atau 29,1 persen lebih terang dibandingkan dengan ketika Bulan dalam posisi terjauh dari bumi,” ujarnya lewat keterangan tertulis.

    ADVERTISEMENT

    Selain itu keunikan lainnya terutama pada fase puncak gerhana, yaitu terkait dengan detik-detik Waisak pada 26 Mei 2021 pukul 18.13.30 WIB atau 19.13.30 WITA, atau 20.13.30 WIT dengan jarak bulan 357.461 kilometer dari Bumi. “Detik-detik Waisak terjadi ketika Purnama Waisak atau disebut juga Waisaka Purnima,” kata Andi.

    Pada saat bulan purnama, menurutnya, Matahari dan Bulan sedang berada dalam satu garis lurus sehingga cahaya Matahari dapat menerangi permukaan Bulan secara maksimal. Kelurusan posisi dikenal dengan istilah oposisi (solar) atau istiqbal. “Jadi Matahari dan Bulan membentuk sudut 180 derajat satu sama lain dalam peredarannya,” katanya.

    Posisi itu, menurut Andi, yang disebut sebagai detik-detik Waisak pada bulan Waisaka berdasarkan penanggalan India yang didasari oleh perederan Bulan. LAPAN rencananya akan menggelar pengamatan gerhana bulan total serentak di sembilan lokasi. Hasil pengamatannya disiarkan langsung lewat Internet di laman atau akun media sosial Lapan. Beberapa perangkat yang juga disiapkan seperti teleskop, kamera, dan komputer.

    Baca:
    Mengapa Gerhana Bulan Total Malam Nanti Disebut Super Blood Moon Eclipse?


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Greysia / Apriyani, Dipasangkan pada 2017 hingga Juara Olimpade Tokyo 2020

    Greysia / Apriyani berhasil jadi pasangan pertama di ganda putri Indonesia yang merebut medali emas di Olimpiade Tokyo 2020 pada cabang bulu tangkis.