3 dari 10 Orang Alami Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Vaksin Sinovac

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peserta mengikuti vaksinasi COVID-19 produksi Sinovac Astra Zeneca di Sentra Vaksinasi Central Park dan Neo Soho Mall, Jakarta, Selasa, 8 Juni 2021. Kemenparekraf bekerjasama dengan Alodokter membuka program vaksinasi COVID-19 bagi para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di area Jakarta yang berlangsung dari tanggal 8 hingga 11 Juni 2021. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Peserta mengikuti vaksinasi COVID-19 produksi Sinovac Astra Zeneca di Sentra Vaksinasi Central Park dan Neo Soho Mall, Jakarta, Selasa, 8 Juni 2021. Kemenparekraf bekerjasama dengan Alodokter membuka program vaksinasi COVID-19 bagi para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di area Jakarta yang berlangsung dari tanggal 8 hingga 11 Juni 2021. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Bandung - Sekitar 3 dari 10 orang mengalami Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang menggunakan vaksin Sinovac. “KIPI kalau Sinovac sekitar 30 persen,” kata manajer tim riset vaksin Sinovac dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) Eddy Fadlyana, Rabu 9 Juni 2021.

    Dampak sebesar itu juga muncul dari hasil penelitian pada fase 1 dan 2 yang berlangsung di Cina. Menurut Eddy, gejala KIPI dari vaksin Sinovac berupa reaksi lokal, seperti nyeri di bekas tempat suntikan, kulit kemerahan, atau bengkak.

    Adapun gejala sistemiknya, antara lain lemas, demam, atau nyeri otot. “Tingkat keparahan Sinovac dari hasil penelitian umumnya ringan, rasanya nggak ada yang berat,” kata dia.

    Dibandingkan dengan vaksin lain seperti AstraZeneca, Eddy mengaku tidak mengamati kasus kejadiannya. Selain itu vaksin AstraZeneca yang dipakai di Indonesia jumlahnya sekarang ini masih sedikit dibandingkan dengan Sinovac.

    ADVERTISEMENT

    Dia mengatakan, masyarakat bisa menggunakan vaksin Covid-19 apa saja. “Kesimpulannya sama-sama aman karena dari WHO standar efikasinya sama, minimal di atas 50 persen,” kata dokter anak di Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin Bandung itu.

    Ketua tim riset vaksin Sinovac Kusnandi Rusmil mengatakan, sejauh ini belum ada kejadian berat pasca imunisasi vaksin Sinovac. “Orang yang alergi berat tidak boleh divaksinasi,” kata Ketua Komisi Daerah Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Jawa Barat itu, Rabu. Kejadian yang tergolong berat setelah vaksinasi yaitu pingsan. Kemungkinannya 1 dari 1 juta orang.

    Adapun beberapa laporan sakit yang berat hingga meninggal, kata Kusnandi, setelah diperiksa dinyatakan tidak terkait dengan vaksinasi. “Setelah beberapa lama disuntik kemudian meninggal itu bukan karena vaksin, itu sudah diaudit,” ujarnya.

    Sementara kasus seorang guru yang lumpuh setelah dua pekan divaksinasi, menurut Kusnandi, sebulan sebelumnya guru itu diketahui menderita penyakit tertentu.

    Reaksi orang setelah mendapat vaksin Sinovac akan beragam sesuai kondisi tubuhnya. Pada orang yang punya penyakit bawaan atau komorbid tertentu, kata Kusnandi, tidak bisa divaksinasi.

    Baca:
    Tim Riset: Imunisasi Vaksin Sinovac Kemungkinan Perlu 3 Kali Suntikan


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Greysia / Apriyani, Dipasangkan pada 2017 hingga Juara Olimpade Tokyo 2020

    Greysia / Apriyani berhasil jadi pasangan pertama di ganda putri Indonesia yang merebut medali emas di Olimpiade Tokyo 2020 pada cabang bulu tangkis.