Ivermectin Diklaim Turunkan Kematian Pasien Covid-19 India, Ini Kata Dokter

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ivermectin. Kredit: Brazilian Report

    Ivermectin. Kredit: Brazilian Report

    TEMPO.CO, Jakarta - Obat cacing dan generik Ivermectin dikabarkan ampuh untuk pasien Covid-19. Namun, Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Agus Dwi Susanto menjelaskan bahwa obat tersebut belum masuk dalam pedoman tata laksana Covid-19 dari lima organisasi profesi kesehatan di Indonesia.

    Organisasi profesi tersebut adalah Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI), Majelis Kolegium Kedokteran Gigi Indonesia (MKKGI), dan Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI).

    “Masih belum ada dalam pedoman tata laksana Covid-19,” ujar dia melalui sambungan telepon, Senin, 14 Juni 2021.

    Menurut Agus, perkembangan terbaru dari Ivermectin saat ini dari beberapa jurnal memang ada yang menyebutkan memiliki dampak positif, tapi banyak juga yang negatif. Selain itu, organisasi kesehatan dunia atau WHO juga hanya memperbolehkan penggunaannya dalam rangka uji klinis.

    ADVERTISEMENT

    Agus yang juga Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (Paru) yang aktif melayani pasien di RSUP Persahabatan itu menjelaskan bahwa pihaknya sedang bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), RSUP Persahabatan, RSPI Sulianti Saroso, untuk melakukan uji klinis Ivermectin.

    “Uji klinis mulai bulan ini. Untuk hasilnya butuh waktu, kita tunggu saja. Saat ini ya tentunya tidak bisa dipakai luas kalau tidak dalam pengawasan dokter,” ujarnya.

    Agus memperingatkan kepada masyarakat bahwa yang terpenting harus mengikuti rekomendasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Menurut dia, BPOM saat ini menyebutkan bahwa izin edar dari Ivermectin adalah untuk obat parasit, bukan Covid-19. “Untuk Covid-19 belum ada emergency use authorization.”

    Jadi, Agus berujar, kepada masyarakat jangan mudah percaya penggunaan Ivermectin untuk Covid-19. “Konsultasikan kepada dokter apabila terkena Covid-19, jangan asal percaya dengan informasi yang belum jelas asalnya,” kata dia.

    Senada dengan Agus, Ahli Patologi Klinik Universitas Sebelas Maret (UNS), Tonang Dwi Ardyanto, juga menerangkan bahwa WHO hanya mengizinkan penggunaan Ivermectin dalam koridor uji klinis, bukan sebagai terapi definitif—penggunaan antibiotik pada kasus infeksi yang sudah diketahui jenis bakteri penyebab dan pola kepekaannya. “Artinya sisi safety dan efficacy-nya masih dalam uji klinis,” tutur dia menambahkan.

    Di India, obat tersebut dinilai berhasil menurunkan jumlah kematian hingga 25 persen dan memangkas jumlah orang yang terinfeksi hingga 80 persen. Dikutip dari Reuters, negara bagian Goa dan Uttarakhand memutuskan untuk menggunakan obat anti-parasitik Ivermectin untuk merawat pasien Covid-19. Padahal, WHO mengeluarkan peringatan untuk tidak menggunakannya.

    Kedua negara bagian itu dinyatakan sudah menetapkan panduan penggunaan Ivermectin. Namun, masing-masing memiliki tata penggunaan yang berbeda. Goa, misalnya, menetapkan Ivermectin hanya boleh digunakan pada mereka yang berusia 18 tahun ke atas. Sementara itu, di Uttarkhand, Ivermectin boleh dipakai pada siapapun yang berusia di atas 2 tahun, kecuali ibu yang hamil atau menyusui.

    Baca:
    Mengapa Banyak Pengguna Memilih Mematikan Update Windows 10?


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Greysia / Apriyani, Dipasangkan pada 2017 hingga Juara Olimpade Tokyo 2020

    Greysia / Apriyani berhasil jadi pasangan pertama di ganda putri Indonesia yang merebut medali emas di Olimpiade Tokyo 2020 pada cabang bulu tangkis.