Covid-19 Varian Delta Cepat Menular, Kepala Eijkman Beberkan Karakternya

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang petugas kesehatan menyuntikan vaksin Covid-19 COVISHIELD yang diproduksi oleh Serum Institute of India, pada seorang penggembala dalam perjalanan vaksinasi di Lidderwat dekat Pahalgam, di distrik Anantnag, Kashmir selatan, 10 Juni 2021. Kementerian Kesehatan India melaporkan bahwa 94.052 kasus Corona tercatat dalam 24 jam terakhir. REUTERS/Sanna Irshad Mattoo

    Seorang petugas kesehatan menyuntikan vaksin Covid-19 COVISHIELD yang diproduksi oleh Serum Institute of India, pada seorang penggembala dalam perjalanan vaksinasi di Lidderwat dekat Pahalgam, di distrik Anantnag, Kashmir selatan, 10 Juni 2021. Kementerian Kesehatan India melaporkan bahwa 94.052 kasus Corona tercatat dalam 24 jam terakhir. REUTERS/Sanna Irshad Mattoo

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio, menjelaskan alasan SARS-CoV-2 varian B.1.617 atau Delta yang pertama kali ditemukan di India lebih menular daripada varian Covid-19 lainnya. Varian virus penyebab Covid-19 itu kini sudah menyebar di Indonesia.

    “Perbedaan yang utama itu pada mutasinya, di protein S. B.1.617 itu memang mutasinya lebih banyak daripada varian lain,” ujar Amin saat dihubungi Selasa malam, 15 Juni 2021.

    Mutasi yang lebih banyak, Guru Besar Ilmu Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu menambahkan, mampu membuat varian Delta melakukan perubahan lebih banyak dibandingkan dengan varian lain.

    Varian lain, seperti B.1.1.7 atau Alpha yang pertama kali diidentifikasi di Inggris, dan B.1.351 atau Beta yang pertama muncul di Afrika Selatan, disebut Amin, mutasinya tidak sebanyak Delta.

    ADVERTISEMENT

    Selain itu, perbedaan lebih spesifiknya juga ada di daerah receptor biding domain (RBD) atau domain pengikat reseptor. RBD merupakan bagian penting virus yang terletak di protein S yang memungkinkan virus melekat pada reseptor tubuh untuk masuk ke dalam sel dan menyebabkan infeksi.

    “Varian Delta ini memiliki perubahan juga pada wilayah RBD," kata peraih gelar Ph.D dari Osaka University/Kobe University, Jepang, itu.

    RBD menjadi target utama dalam pencegahan dan pengobatan infeksi virus termasuk virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19. Jika terjadi perubahan signifikan pada RBD, maka dapat mempengaruhi karakteristik virus dan berdampak pula pada aspek kemanjuran pengembangan vaksin Covid-19.

    Saat ini, berdasarkan data Kemenkes per 13 Juni yang diperoleh Tempo, sudah ditemukan 104 kasus varian Delta di lima provinsi, yaitu Sumatera Selatan 3 kasus (Palembang, Prabumulih, Penukal Abab Lematang Ilir), DKI Jakarta 20 kasus, Jawa Tengah 75 kasus (Kudus, Brebes, Cilacap), Kalimantan Tengah 3 kasus (Gunung Mas, Palangkaraya) dan Kalimantan Timur 3 kasus (Samarinda).

    Virus varian Delta ini juga disebut-sebut sebagai penyebab terjadinya gelombang tsunami Covid-19 di India beberapa waktu lalu, bahkan menjadikan India sebagai negara pertama yang mencatat rekor tertinggi kasus infeksi baru harian yang mencapai lebih dari 400 ribu kasus.

    Baca:
    Kepala Eijkman: Gejala Pasien Covid-19 Varian Delta di Indonesia Ringan


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Makan di Warteg saat PPKM Level 4 dan 3 di Jawa - Bali

    Pemerintah membuat aturan yang terkesan lucu pada penerapan PPKM Level 4 dan 3 soal makan di warteg. Mendagri Tito Karnavian ikut memberikan pendapat.