Tips dari Para Ahli Agar Tidak Tertular Covid-19 Varian Baru

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi - Dokter memegang botol ampul kaca mengandung sel molekul virus corona Covid-19 asal Inggris yang telah mengalami mutasi RNA menjadi varian baru. (ANTARA/Shutterstock/pri.)

    ilustrasi - Dokter memegang botol ampul kaca mengandung sel molekul virus corona Covid-19 asal Inggris yang telah mengalami mutasi RNA menjadi varian baru. (ANTARA/Shutterstock/pri.)

    TEMPO.CO, Jakarta - Kasus infeksi SARS-CoV-2, virus corona penyebab Covid-19, terus meningkat belakangan ini. Motornya adalah empat varian baru virus itu yang sejauh ini sudah diidentifikasi lebih mudah menginfeksi dan menyebar.

    Tak terkecuali di Indonesia. Hasil pengurutan gen yang dilakukan telah menemukan tiga dari empat varian itu dalam sampel spesimen Covid-19 di tanah air. Ketiganya adalah Covid-19 varian Alpha atau B.1.1.7; varian Beta atau B.1.351; dan varian Delta atau B.1.617.

    Lalu bagaimana cara agar tidak tertular dari penyakit dan infeksi virus-virus tersebut? “Baik varian Delta, Alpha, atau lainnya intinya adalah 5 M,” ujar Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio, Selasa malam, 15 Juni 2021.

    Amin menjelaskan, 5 M merupakan protokol kesehatan sebagai strategi pencegahan penularan Covid-19 yang terdiri dari memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi.

    ADVERTISEMENT

    Jadi, Guru Besar Ilmu Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu menegaskan, bahwa tindakan pencegahannya tak berbeda antar varian SARS-CoV-2 yang satu dengan yang lainnya. Alasannya, tidak bisa membedakan virus apa yang ada beredar di lingkungan masing-masing.

    “Kita tidak tahu persis, virus yang ada di lingkungan atau seseorang terinfeksi varian apa. Jadi harus menerapkan prinsip yang sama (5M),” tutur Amin.

    Ahli Patologi Klinik Universitas Sebelas Maret, Tonang Dwi Ardyanto, menerangkan, bermutasinya virus didorong oleh selection pressure, semacam cara virus menghindar dari tekanan. Wujud tekanan itu bisa karena terapi obat-obatan, cara pencegahan (protokol kesehatan), sampai vaksinasi. 

    Untuk obat-obatan, kata dia, sejauh ini belum ada yang spesifik dan definitif. Namun, untuk protokol kesehatan, masyarakat juga sudah tahu dan telah dijalankannya, yaitu 5 M. "Semakin lengkap paket protokol kesehatannya, makin kecil peluang virus bisa masuk ke tubuh,” kata Tonang, Senin 14 Juni 2021.

    Virus yang lolos akan menghadapi sistem imun tubuh. Ini adalah benteng pertahanan alami tubuh. “Artinya menjaga imun tubuh juga penting,” katanya menambahkan.

    Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ari Fahrian Syam, menekankan Covid-19 varian Delta yang lebih mudah dan cepat menginfeksi daripada varian lain. Varian ini meningkatkan risiko terjadinya hilang pendengaran, nyeri ulu hati, dan mual. 

    Jika seseorang yang terinfeksi Covid-19 varian Delta bersin atau berbicara, maka virus akan lebih cepat berpindah ke orang lain. “Jadi tetap jalankan protokol kesehatan ketat,” tutur Ari yang juga Dekan FKUI itu, Senin.

    Baca juga:
    Ini Virus Covid-19 Paling Dominan di Indonesia Saat Ini: B.1.466.2


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Makan di Warteg saat PPKM Level 4 dan 3 di Jawa - Bali

    Pemerintah membuat aturan yang terkesan lucu pada penerapan PPKM Level 4 dan 3 soal makan di warteg. Mendagri Tito Karnavian ikut memberikan pendapat.