Video Viral Bikin Alat Oksigen Sendiri, Ahli Ingatkan Ini

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagian dari video tutorial alat pengadaan oksigen untuk orang sesak napas yang viral di media sosial. Peneliti di LIPI imbau inovasi alat kesehatan tak sembarangan. Sumber: media sosial

    Bagian dari video tutorial alat pengadaan oksigen untuk orang sesak napas yang viral di media sosial. Peneliti di LIPI imbau inovasi alat kesehatan tak sembarangan. Sumber: media sosial

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah video berisi tutorial membuat alat oksigen untuk membantu seseorang yang sesak napas viral di media sosial. Video diaku dibuat dan diunggah atas desakan rekan-rekan si pemilik video, setelah alat diaku terbukti menolong anak dan juga istrinya yang sempat mengalami sesak napas saat batuk-batuk.

    Dalam video, pria yang mengaku bernama Ruben itu menyebut inovasinya sebagai alat pengadaan O2 untuk orang yang sedang sesak napas. Inovasi tidak mahal, hanya memerlukan bahan seharga kurang lebih Rp 120 ribuan. "Tapi dapat menyelamatkan nyawa karena saat pandemi (Covid-19) sekarang banyak rumah sakit yang penuh semua,” ujar dia dalam video viral berdurasi 5 menit 13 detik itu.

    Dalam video yang beredar di media sosial, Ruben menjelaskan alatnya terdiri dari aerator atau pompa air seperti yang biasa digunakan untuk memproduksi gelembung-gelembung udara dalam akuarium. Lainnya adalah dua botol bekas kemasan air mineral berukuran kecil, selang kecil sepanjang sekitar dua meter.

    Ruben menyambungkan dua selang pada masing-masing aerator yang memiliki dua lubang keluaran menjadi satu selang. Kemudian ujung selang lainnya dimasukkan ke dalam air di botol.

    Dia juga menyiapkan dua selang lainya dan memasukkan salah satu ujung-ujungnya sedalam 2 sentimeter ke dalam botol yang sama. Ujung selang lainnya, disebutkannya, dimasukkan ke hidung pasien. Ruben kemudian menutup rapat botol dengan keterangan: agar oksigen bisa mengalir lancar.

    "Ini ketika aerator dinyalakan akan muncul gelembung di dalam botol yang dapat menghasilkan O2. Sangat mudah, hanya sedikit capek,” kata dia.

    Menanggapi isi video viral itu, Kepala Balai Pengembangan Instrumentasi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Anto Tri Sugiarto, menjelaskan, alat tersebut tidak akan dapat menambah jumlah oksigen yang dihirup. Pompa aerator, dia berujar, hanya membantu mengirim udara ke saluran pernapasan.

    “Yang dipompakan adalah udara dengan komposisi oksigen sekitar 20,9 persen,” tutur Anto melalui pesan WhatsApp, Rabu, 30 Juni 2021. Itu, Anto menambahkan, berbeda dari memberikan oksigen yang sangat dibutuhkan kepada pasien Covid-19 gejala berat. 

    Anto balik menerangkan bahwa yang digunakan Ruben untuk membangkitkan gelembung atau aerasi dalam air pada botol justru oksigen (>96 persen). Sedang yang dilakukan Ruben ke hidung pasien, menurut Anto, sebenarnya tidak berpengaruh apa-apa selain menambah kelembapan, uap air.

    Warga mengantre untuk isi ulang tabung oksigen di kawasan Manggarai, Jakarta, Senin, 28 Juni 2021. Pengisian tabung oksigen baik dari masyarakat, puskesmas, sampai rumah sakit untuk digunakan bagi pasien Covid-19 bergejala terkait masalah pernapasan. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Lagian, peneliti yang di antaranya mengembangkan alat disinfektan berbasis ozon itu mengungkapkan, ada standard pressure and flow untuk suplai oksigen ke pasien. Jika melihat video Ruben, kata Anto, dikhawatirkan tekanan dan aliran tidak sesuai.

    Anto mengimbau kepada masyarakat untuk tidak sembarang berinovasi peralatan kesehatan. Terutama untuk peralatan kesehatan yang berhubungan langsung dengan tubuh yang sebaiknya mengikuti aturan standar yang berlaku. 

    “Produk inovasinya harus diuji terlebih dahulu sebelum disebarkan. Hal ini untuk mendapatkan hasil optimal dan sudah pasti aman,” kata Anto merujuk kepada isi video viral alat oksigen itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.