Tentang Covid-19 varian Lambda yang Menyedot Perhatian di Amerika Latin

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi - Dokter memegang botol ampul kaca mengandung sel molekul virus corona Covid-19 asal Inggris yang telah mengalami mutasi RNA menjadi varian baru. (ANTARA/Shutterstock/pri.)

    ilustrasi - Dokter memegang botol ampul kaca mengandung sel molekul virus corona Covid-19 asal Inggris yang telah mengalami mutasi RNA menjadi varian baru. (ANTARA/Shutterstock/pri.)

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketika banyak negara bergulat dengan Covid-19 varian Delta, ada varian lain yang juga telah mulai menyita perhatian yaitu varian Lambda. Varian ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pejabat di Amerika Latin karena serangkaian mutasinya yang diduga tidak biasa.  

    Meskipun Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) belum melacak varian ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mendaftarkannya sebagai Variant of Interest pada 15 Juni lalu. Sementara Inggris menambahkannya ke daftar varian yang sedang diselidiki tersebut pada 23 Juni. 

    Penasihat penyakit virus baru di Pan-American Health Organization, Jairo Méndez Rico, menjelaskan, saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa varian Lambda lebih agresif daripada varian lain. “Mungkin saja tingkat penularannya lebih tinggi, tapi lebih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan untuk memastikan itu," ujar dia, seperti dikutip Financial Times, Kamis 8 Juli 2021.

    Menurut WHO, varian Lambda pertama kali diidentifikasi di Peru pada Agustus 2020 dan kini telah menyebar ke sedikitnya 29 negara. Varian ini paling dominan di Peru, menjadi 81 persen dari semua kasus baru di negara itu sepanjang Mei-Juni lalu. 

    Sementara sistem pelaporan varian Covid-19 global GISAID menyebutkan setidaknya sudah ada 563 kasus infeksi varian ini di Amerika Serikat. Para peneliti di University of Nevada, Las Vegas, misalnya, mendeteksi varian Lambda di air limbah yang menunjukkan bahwa varian itu sudah menyebar di masyarakatnya.  

    Jeff Barrett, Direktur Inisiatif Genomik Covid-19 di Wellcome Sanger Institute, Inggris, Covid-19 varian Lambda membawa kombinasi mutasi yang tidak biasa dengan potensi mengubah kemampuannya untuk menular atau menolak vaksinasi. Dia mengutip hasil studi dari University of Chile--belum peer review--yang menemukan bahwa varian itu lebih menular daripada varian Alpha.

    Namun, penelitian ini baru sebatas dilakukan di laboratorium. “Sulit untuk menilai seberapa jauh lebih menular varian Lambda dalam dunia nyata karena fasilitas pengurutan genetik di Amerika Selatan jarang,” tutur Barrett.

    Menurut WHO, mutasi yang dibawa oleh suatu varian secara teoritis dapat meningkatkan ketahanannya terhadap perlindungan yang diberikan oleh vaksin. Untungnya, studi dari NYU Grossman School of Medicine menawarkan lebih banyak bukti bahwa vaksin yang ada saat ini masih efektif melawan varian Lambda. 

    Petugas pemakaman menggunakan pakaian pelindung saat menata peti mati jenazah korban virus corona atau COVID-19 di Lima, Peru, 9 Mei 2020. REUTERS/Sebastian Castaneda

    Faheem Younus, kepala bagian penyakit menular di School of Medicine di University of Maryland, AS, berpendapat kekhawatiran tentang varian Lambda adalah hal yang berlebihan. "Ini Variant of Interest, bukan Variant of Concern,” cuit dia akun Twitter-nya, Kamis.

    Varian tertentu ditetapkan Variant of Concern jika semakin banyak bukti untuk kemampuannya menular lebih cepat, mengelak dari vaksin, dan menyebabkan sakit yang lebih parah dibandingkan Covid-19 varian awal saat pandemi merebak tahun lalu.

    BUSINESS INSIDER | FINANCIAL TIMES

    Baca juga:
    Hadapi 15 Varian Sekaligus, Vaksin Covid-19 Ini Hanya Capai Efikasi 48 Persen


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.