Sederet Kontribusi Mahasiswa Kedokteran untuk Pandemi Covid-19

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang mahasiswa menunjukan hasil laboratorium pembuatan cairan antiseptik di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Jawa Tengah, Rabu 18 Maret 2020. Cairan antiseptik pembersih tangan (hand sanitizer) yang diproduksi oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan, UKSW tersebut terbuat dari bahan alami seperti daun sirih, lidah buaya, serai wangi serta campuran bahan kimia triclosan, alkohol dan gliserin untuk pencegahan penyebaran virus COVID-19 yang akan dibagikan secara gratis kepada civitas akademika serta masyarakat sekitar kampus. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho

    Seorang mahasiswa menunjukan hasil laboratorium pembuatan cairan antiseptik di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Jawa Tengah, Rabu 18 Maret 2020. Cairan antiseptik pembersih tangan (hand sanitizer) yang diproduksi oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan, UKSW tersebut terbuat dari bahan alami seperti daun sirih, lidah buaya, serai wangi serta campuran bahan kimia triclosan, alkohol dan gliserin untuk pencegahan penyebaran virus COVID-19 yang akan dibagikan secara gratis kepada civitas akademika serta masyarakat sekitar kampus. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho

    TEMPO.CO, Jakarta - Inisiatif mahasiswa kedokteran sudah cukup banyak sepanjang periode pandemi Covid-19 saat ini. Mulai dari membuat Nutrisi Garda Terdepan—platform pengumpul dana yang mendukung tenaga kesehatan dalam bentuk nutrisi, pengumpulan alat pelindung diri (APD)--hingga terlibat membuat beberapa publikasi atau riset.

    Mahasiswa juga membantu sebagai tenaga vaksinator di berbagai daerah yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. "Banyak terobosan-terobosan yang sudah dihadirkan oleh mahasiswa,” ujar Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ari Farial Syam, Kamis 15 Juli 2021.

    Ari menanggapi hasil survei yang dibuat Kelompok Mahasiswa FKUI bernama MEDICO-19 yang mengungkap bahwa satu dari dua mahasiswa kedokteran di Indonesia, atau 48,7 persen, bersedia menjadi relawan penanganan pandemi Covid-19. Data tersebut berdasarkan hasil survei daring yang dilakukan pada periode 13 Juli-11 Oktober 2020 terhadap 4.780 mahasiswa

    Pernyataan Ari diamini Ketua Asosiasi Institusi Kedokteran Indonesia (AIPKI), Budu. Menurut Budu yang juga dokter spesiali mata konsultan itu, keterlibatan mahasiswa kedokteran dalam penanganan pandemi  Covid-19 sekarang ini sudah berjalan. Dia menyebut Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) yang bahkan sudah melibatkan 15-20 ribu mahasiswa melakukan manajemen intervensi atau prevensi pandemi agar infeksi tidak meluas.

    “Data ini sebaiknya bisa menjadi tambahan untuk penelitian MEDICO-19. Karena relawan itu sebenarnya masif sekali," tutur Dekan di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, tersebut.

    Selain itu, Budu juga meyakini bahwa masing-masing program studi kedokteran di berbagai perguruan tinggi  sudah melakukan kegiatan dengan tujuan menyelesaikan masalah pandemi. Di Unhas, Profesor Ilmu Kesehatan Mata ini mencontohkan, ada program kuliah kerja nyata (KKN) khusus untuk profesi kesehatan, mulai dari Fakultas Farmasi, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, dan lainnya yang membawa tema komunikasi informasi edukasi pandemi.

    Wakil Dekan III Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Sulistiawati, meyakini yang sama bahwa semua fakultas kedokteran di Indonesia memiliki terobosan penanggulangan pandemi. “Kampus kami dari pre klinik sudah ada modul Covid-19, pendampingan kelompok rentan, kemudian yang profesi menjadi vaksinator sudah dilakukan,” katanya.

    Sulistiawati yang merupakan ahli kesehatan masyarakat itu menerangkan, Badan Eksekutif Mahasiswa dan Organisasi Kemahasiswaan di kampusnya juga ikut memberikan dukungan di berbagai kegiatan. “Saya kagum, mereka juga support,” katanya, sambil menambahkan bahwa hal itu sangat membantu para tenaga kesehatan dalam menangani pandemi.

    Vaksinator menyuntikkan vaksin Covid-19 Sinovac kepada tenaga kesehatan di Istora Senayan, Jakarta, Kamis, 4 Februari 2021. Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta membuka vaksinasi massal Covid-19 dengan target peserta 6.000 tenaga kesehatan. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Dia juga menjelaskan bahwa untuk penanggulangan pandemi, filosofinya harus ada yang merangkul. Menurutnya, jika semua kompak melakukan dengan dukungan pimpinan institusi, maka semua akan terbantu. Tapi, kata dia, hal ini memerlukan waktu dan harus tetap memperhatikan segi keamanan dan keselamatan mahasiswanya.

    “Diperlukan SOP yang jelas kalau diperlukan untuk turun ke lapangan. termasuk juga dengan komorbid para mahasiswa agar tidak menjadi malapetaka juga,” tutur dia.

    Baca berita sebelumnya:
    Survei Ungkap 1 dari 2 Mahasiswa Kedokteran Siap Jadi Relawan, tapi ...


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.