Top Tekno Berita Kemarin: Anjlok Kasus Covid-19 Yogya, Aturan Vaksin dan Opname

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pasien menjalani perawatan di tenda barak IGD tambahan RSUP Dr Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta, Ahad, 4 Juli 2021. RSUP Sardjito mengatakan tidak semua pasien yang meninggal dalam rentang 24 jam ini akibat kehabisan oksigen. ANTARA/Hendra Nurdiyansyah

    Sejumlah pasien menjalani perawatan di tenda barak IGD tambahan RSUP Dr Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta, Ahad, 4 Juli 2021. RSUP Sardjito mengatakan tidak semua pasien yang meninggal dalam rentang 24 jam ini akibat kehabisan oksigen. ANTARA/Hendra Nurdiyansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Top 3 Tekno Berita Kemarin, Sabtu 17 Juli 2021, didominasi artikel Covid-19. Dimulai dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang mencatat penurunan drastis jumlah kasus infeksi baru pada Jumat. Penurunan terjadi di tengah penularan yang masih tinggi dan terbukti jumlahnya naik lagi pada Sabtu. 

    Berita kedua mengenai Vaksin Covid-19 dosis pertama dan kedua. Seperti diketahui jenis vaksin yang didistribusikan di Indonesia seluruhnya mensyaratkan dua dosis atau dua kali suntik. Pertanyaan lalu muncul, apakah boleh menerima dosis yang kedua di tempat atau oleh penyelenggara yang berbeda?

    Berita ketiga datang dari diskusi daring, berisi penjelasan Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Abdul Kadir, tentang kondisi ketersediaan dan kebutuhan ruang di rumah sakit untuk pasien Covid-19. Kebijakan baru disosialisasikannya bahwa hanya pasien dengan saturasi oksigen kurang dari 95 persen yang kini bisa diterima dirawat inap.

    Berikut Top 3 Tekno Berita Kemarin, Sabtu 17 Juli 2021, selengkapnya,

    1. Dari Hampir 3.000, Kasus Baru Covid-19 Yogya Dilaporkan Anjlok Hari Ini

    Gugus Tugas Covid-19 Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat penambahan kasus baru yang menurun drastis pada Jumat 16 Juli 2021. "Penambahan kasus terkonfirmasi Covid-19 di DIY hari ini sebanyak 1.661 kasus, sehingga total kasus terkonfirmasi menjadi 87.442 kasus," kata Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 DIY, Berty Murtiningsih, Jumat.

    Penurunan kasus baru di DIY ini cukup drastis dibanding kasus baru harian tiga hari terakhir yang sempat mendekati 3.000 kasus. Pada S elasa lalu, misalnya, ada tambahan 2.731 kasus baru, lalu Rabu sedikit menurun jadi 2.350 kasus dan Kamis naik lagi jadi 2.706.

    Penambahan kasus hari ini hanya terpaut tipis dengan penambahan kasus sembuh yang mencapai sebanyak 1.235 kasus. Untuk kasus aktif masih ada 24.614 dan penambahan kasus meninggal sebanyak 65 orang. "Total kasus meninggal menjadi 2.249 kasus," kata Berty.

    2. Bolehkah Vaksin Covid-19 Dosis Pertama dan Kedua Dilakukan di Tempat Berbeda?

    Guna meningkatkan efektivitas, vaksin Covid-19 umumnya diberikan dalam dua dosis. Dilansir dari JAMA Patient Page, suntikan dosis pertama vaksin Covid-19 tidak membuat sistem imun tubuh bereaksi cukup untuk menangkal virus SARS-CoV-2. Vaksinasi ke-2 membuat imun tubuh menjadi jauh lebih kuat lagi.

    Seorang perempuan berfoto usai mengikuti Vaksinasi Massal Covid-19 di lapangan parkir kantor Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Rabu, 14 Juli 2021. TEMPO/Nurdiansah

    Pemberian vaksin dalam dua dosis ini berlaku untuk beberapa jenis vaksin. Dilansir dari Healthline, berikut adalah beberapa jenis vaksin yang memerlukan vaksinasi dua dosis:

    • Oxford-AstraZeneca: dua dosis diberikan secara terpisah dalam rentang waktu 8 hingga 12 minggu
    • Novavax:dua dosis diberikan secara terpisah dalam rentang waktu 3 minggu 
    • Sputnik V: dua dosis diberikan secara terpisah dalam rentang waktu 3 minggu
    • Coronavac: dua dosis diberikan secara terpisah dalam rentang waktu 1 bulan

    3. Aturan Opname Pasien Covid-19, Kemenkes: Saturasi Oksigen di Bawah 95 Persen

    Kementerian Kesehatan menetapkan kebijakan baru, hanya pasien Covid-19 dengan saturasi di bawah 95 persen yang bisa diterima dirawat di rumah sakit atau opname. Jika kadar oksigen dalam darahnya masih di atas 95 persen, rumah sakit diminta memotivasi pasien untuk jalani isolasi, terpusat ataupun mandiri.

    Seorang pasien beristirahat di lantai di tenda darurat di tengah pandemi COVID-19 di rumah sakit daerah Bekasi di Bekasi, 25 Juni 2021. REUTERS/Willy Kurniawan

    "Ini biar orang tidak berlomba-lomba mencari rumah sakit hanya setelah mengetahui hasil PCR dari laboratorium positif Covid-19, padahal banyak yang sebenarnya tidak butuh (dirawat di rumah sakit)," kata Direktur Jenderal Layanan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Abdul Kadir, dalam diskusi daring yang digelar daring oleh Vox Point Indonesia pada Jumat malam, 16 Juli 2021.

    Menurut Abdul Kadir, penuhnya rumah sakit seperti yang sekarang terjadi membuat petugas medis kelelahan dan bisa berdampak kepada penurunan standar pelayanan. Jika itu terjadi, Abdul Kadir menambahkan, menyumbang kepada banyak korban meninggal, baik pasien maupun petugas kesehatan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.