Studi AS Ungkap Obat Statin Turunkan Risiko Kematian Pasien Covid-19

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pasien berada di teras gedung IGD RSUD Jayapura, Papua, Jumat, 16 Juli 2021. Pasien yang hasil tesnya reaktif COvid-19 diberikan tempat perawatan di luar gedung. ANTARA/Indrayadi TH

    Sejumlah pasien berada di teras gedung IGD RSUD Jayapura, Papua, Jumat, 16 Juli 2021. Pasien yang hasil tesnya reaktif COvid-19 diberikan tempat perawatan di luar gedung. ANTARA/Indrayadi TH

    TEMPO.CO, Jakarta - Studi baru dari Fakultas Kedokteran University of California (UC), San Diego, Amerika Serikat mengkonfirmasi pasien Covid-19 yang menggunakan obat statin memiliki risiko kematian di rumah sakit 41 persen lebih rendah. Temuan ini dipublikasikan 15 Juli 2021 di PLOS ONE dan memperluas penelitian sebelumnya yang dilakukan kampus tersebut tahun lalu.

    Statin biasanya digunakan untuk mengurangi kadar kolesterol darah dengan menghalangi enzim hati yang bertanggung jawab membuat kolesterol. Obat itu diresepkan secara luas, bahkan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) memperkirakan bahwa 93 persen pasien Covid-19 menggunakan statin.

    Pemimpin studi Lori Daniels menjelaskan, ketika menghadapi SARS-CoV-2 di awal pandemi, ada banyak spekulasi seputar obat-obatan tertentu yang mempengaruhi reseptor ACE2 tubuh, termasuk statin, yang disebut-sebut dapat mengurangi risiko Covid-19.

    "Pada saat itu kami berpikir bahwa statin dapat menghambat infeksi virus melalui efek anti-inflamasi dan kemampuan mengikat yang diketahui, yang berpotensi menghentikan perkembangan virus,” ujar profesor dan direktur Unit Perawatan Intensif Kardiovaskular di UC San Diego itu, seperti dikutip Medical Xpress, 16 Juli 2021.

    Tim peneliti ini menggunakan data dari American Heart Association's Covid-19 Cardiovascular Disease Registry, temuan berdasarkan studi kohort—studi observasional yang mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit dengan memilih dua atau lebih kelompok studi—yang mereka lakukan sebelumnya. Isinya tentang data kesehatan yang tidak teridentifikasi pada pasien yang dirawat karena Covid-19 di lebih dari 140 rumah sakit yang berpartisipasi di seluruh negeri.

    Pada Juli 2021, data dari lebih dari 49.000 catatan pasien telah dikontribusikan ke dalam platform. Namun, secara khusus, mereka menganalisis catatan medis anonim dari 10.541 pasien yang dirawat karena Covid-19 selama periode sembilan bulan, Januari-September 2020, di 104 rumah sakit yang berbeda. 

    Menurut Daniels, dari data itu pihaknya melakukan analisis lebih lanjut saat mencoba untuk mengontrol kondisi medis yang hidup berdampingan, status sosial ekonomi dan faktor rumah sakit. “Dengan demikian, kami mengkonfirmasi temuan kami sebelumnya bahwa statin dikaitkan dengan penurunan risiko kematian akibat Covid-19 di antara pasien yang dirawat di rumah sakit karena Covid-19,” katanya.

    Daniels menjelaskan, tampaknya sebagian besar manfaat obat itu adalah di antara pasien dengan alasan medis yang baik untuk menggunakan statin, seperti riwayat penyakit kardiovaskular atau tekanan darah tinggi. Menurut tim peneliti, penggunaan statin ini dikaitkan dengan risiko kematian 32 persen lebih rendah di antara pasien rawat inap Covid-19 dengan riwayat penyakit kardiovaskular atau hipertensi. 

    Selain itu, dalam studi tersebut, teknik pencocokan statistik digunakan untuk membandingkan hasil untuk pasien yang menggunakan statin dengan pasien serupa yang tidak menggunakannya. 

    Peneliti yang terlibat dalam studi ini, Karen Messer, menambahkan, pihaknya mencocokkan setiap pasien dengan satu atau lebih pasien yang serupa, menggunakan lokasi rumah sakit, bulan masuk, usia, ras, etnis, jenis kelamin, dan daftar kondisi yang sudah ada sebelumnya. “Tujuannya untuk membuat kedua kelompok dapat dibandingkan," tutur profesor biostatistik di UC San Diego itu.

    Reseptor ACE2—target regulasi statin—membantu mengontrol tekanan darah. Pada tahun 2020, ditemukan bahwa SARS-CoV-2 menggunakan reseptor yang sama untuk memasuki sel paru-paru. Menurut peneliti, statin yang diresepkan mampu menstabilkan penyakit, dan membuat pasien lebih mungkin untuk pulih dari Covid-19. 

    Daniels juga menambahkan, seperti halnya studi observasional, timnya tidak dapat mengatakan dengan pasti bahwa hubungan yang dia gambarkan antara penggunaan statin dan penurunan keparahan infeksi Covid-19 pasti disebabkan oleh statin itu sendiri. Namun, kata dia, timnya sekarang dapat mengatakan dengan bukti yang sangat kuat bahwa obat itu mungkin berperan berperan dalam menurunkan risiko kematian pasien akibat Covid-19 secara substansial.

    "Kami berharap temuan penelitian kami menjadi insentif bagi pasien untuk melanjutkan pengobatan mereka." 

    Studi awal yang disebutkan termasuk dalam 170 catatan medis anonim dari pasien yang menerima perawatan di UC San Diego. Para peneliti menemukan bahwa penggunaan statin sebelum masuk rumah sakit untuk Covid-19 menghasilkan lebih dari 50 persen pengurangan risiko pengembangan infeksi parah. 

    MEDICAL XPRESS | PLOS ONE

    Baca:
    Varian Delta, Penularan Harian Covid-19 Kota Yogyakarta Naik 1.000 Persen Lebih 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.