Sosok Sarah Gilbert Ilmuwan yang Rela Melepas Hak Paten Vaksin AstraZeneca

Reporter:
Editor:

Iqbal Muhtarom

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sarah Gilbert lahir di Northamptonshire, Inggris, yang memulai karirnya melalui pendidikan bidang Biologi di University of East Anglia yang akhirnya menjabat sebagai profesor di Universitas Oxford pada tahun 1994. Telegraph.co.uk

    Sarah Gilbert lahir di Northamptonshire, Inggris, yang memulai karirnya melalui pendidikan bidang Biologi di University of East Anglia yang akhirnya menjabat sebagai profesor di Universitas Oxford pada tahun 1994. Telegraph.co.uk

    TEMPO.CO, Jakarta -Sarah Gilbert, nama ini belakangan menjadi newsmaker di sejumlah pemberitaan media global. Namanya menjadi sorotan setelah  menerima standing ovation ketika hadir saat laga pembuka turnamen tenis Wimbledon pada 28 Juni 2021 lalu. Bukan atlet tenis, atau pengurus tenis dunia, Sarah Gilbert adalah profesor vaksinologi.

    Sarah Gilbert adalah orang di balik penciptaan vaksin AstraZeneca yang kini menjadi satu diantara vaksin yang dijadikan peluru untuk membasmi virus corona yang mewabah diseantero penjuru dunia.

    Tidak hanya disitu, kisah Sarah Gilbert berlanjut ketika dia melepas hak paten dalam proses produksi vaksin AstraZeneca. Itu artinya, publik bisa memperoleh harga vaksin yang bisa lebih murah. Disitulah penghormatan diberikan kepada Sarah Gilbert.  

    Sarah Gilbert, lahir di Kettering, Northamptonshire pada April 1962. Gilbert memiliki seorang ayah yang bekerja di bisnis sepatu dan ibu yang bekerja sebagai guru Bahasa Inggris. Kini, Gilbert merupakan Profesor Vaksinologi di Universitas Oxford dan salah satu pendiri Vaccitech, sebuah perusahaan bioteknologi yang mengembangkan vaksin dan imunoterapi. 

    Gilbert mendapatkan gelar sarjananya di Universitas East Anglia. Ketertarikannya dan kekagumannya pada keragaman pemikiran di bidang sains mendorong dirinya untuk mengambil jurusan biologi. Ia melanjutkan pendidikan doktoralnya di Universitas Hull di mana ia menginvestigasi genetika dan biokimia ragi Rhodosporidium toruloides.  

    Menurut laman National Center for Biotechnology Information, vaksin pertama yang digarap Gilbert di Universitas Oxford dimulai pada tahun 1994. Bersama dengan Adrian Hill, Gilbert melakukan penelitian yang berfokus pada vaksin malaria.

    Karir Gilbert sebagai peneliti vaksin terus berkembang sejak saat itu. Ia mulai mengerjakan berbagai macam vaksin untuk berbagai penyakit, seperti influenza, Ebola, Mers, dan virus Zika.  

    Sebagai Ketua komite manajemen yang mengawasi produksi vaksin di Universitas Oxford, Gilbert dan rekan-rekannya telah menangguhkan semua penelitian vaksin untuk memprioritaskan upaya pengembangan vaksin COVID-19.

    Dengan karir yang panjang dan prestasi yang menjulang, Sarah Gilbert tetaplah sosok yang rendah hati. Ia dengan tulus mengatakan bahwa ada peran tim yang terdiri dari beragam keahlian yang ada di belakangnya dalam proses produksi vaksin AstraZeneca selama sebelas bulan sejak Januari 2020. "Ini sebuah capaian yang sangat besar, dan tanpa mereka kami tidak dapat melakukan progres secepat yang kemarin," katanya.

    DINA OKTAFERIA

    Baca juga: Indra Rudiansyah, Sarah Gilbert, dan Vaksin AstraZeneca untuk Dunia


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.