Ventilator Alat Bantu Pernapasan, Begini Cara Kerjanya

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Alat bantu pernafasan ventilator resusitator manual atau Pindad VRM buatan PT Pindad, Bandung, Kamis, 30 April 2002. Mahal dan langkanya ventilator saat pandemi covid-19 membuat PT Pindad mengembangkan Pindad VRM yang harganya sekitar Rp 10 juta per unit. TEMPO/Prima Mulia

    Alat bantu pernafasan ventilator resusitator manual atau Pindad VRM buatan PT Pindad, Bandung, Kamis, 30 April 2002. Mahal dan langkanya ventilator saat pandemi covid-19 membuat PT Pindad mengembangkan Pindad VRM yang harganya sekitar Rp 10 juta per unit. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CPO, Jakarta - Banyak pasien Covid-19 yang mengalami kesulitan bernapas dibantu dengan ventilator. Ventilator adalah alat bantu napas yang digunakan pasien dalam kondisi kritis. Pipa napas endotrakeal pada alat ini dimasukkan ke dalam saluran pernafasan melalui prosedur intubasi endotrakeal.

    Intubasi merupakan teknik pemberian napas buatan guna menjaga saluran pernapasan pasien tetap terbuka. Pasien akan ditidurkan dengan pembiusan saat proses intubasi hingga pasien sembuh atau meninggal dunia.

    Ada berbagai alat kesehatan yang dihubungkan ke tubuh pasien. Pertama, pipa nafas endotrakeal dihubungkan ke tenggorokan melalui mulut pasien untuk membantunya bernafas. Kedua, dokter memasukkan pipa nasogastrik ke perut pasien melalui hidung untuk menyalurkan makanan. Ketiga, infus dipasang di tangan untuk memasukkan obat. Keempat, sebuah kantong dipasang di sekitar pantat untuk mengumpulkan kotoran dan urin. Kelima, pipa kateter arteri dipasang untuk memantau tekanan darah pasien.

    Alat-alat ini dihubungkan ke tubuh pasien untuk menopang hidup mereka. Kondisi pasien yang ditidurkan selama pemasangan ventilator membuat mereka tidak dapat melakukan aktivitas normal. Ventilator dan mesin yang menopang hidup pasien menyebabkan rasa sakit dan tidak nyaman, sehingga dokter harus memberikan obat penenang dan penghilang rasa sakit secara terus-menerus. “Orang dengan daya tahan tubuh rendah rawan untuk meninggal dunia karena tidak tahan menjalani perawatan," tulis tim administrator Kawal COVID-19 dikutip dari laman miliknya, Selasa, 20 Juli 2021.

    Sementara pasien masih ditopang ventilator, tenaga kesehatan akan terus memantau kondisi pasien. Level oksigen, karbondioksida, dan tekanan darah dipantau setiap waktu. Hal ini untuk memastikan bahwa pipa yang membantu pasien bernapas tetap berada di posisi aman. Berdasarkan data yang diperoleh, dokter akan menyesuaikan ventilator dan pengaturan lainnya.

    Selama menjalani prosedur ini, tenaga medis akan menyedot lendir dari pipa secara reguler. Sebagai pengganti makanan pada umumnya, pasien akan diberikan asupan nutrisi melalui selang nasogastrik atau sonde.

    Jika pasien dinilai sudah dapat bernafas tanpa bantuan mesin, dokter akan melepas alat dari tubuh pasien. Prosedur ini biasanya dilakukan sebelum obat bius habis atau sebelum pasien bangun. Pasien mungkin akan batuk-batuk dan mengalami sakit tenggorokan ketika pipa dicopot. Jika pasien memang dapat bernapas sendiri tanpa bantuan, maka pasien tidak lagi membutuhkan ventilator.

    Prosedur pemasangan ventilator merupakan prosedur yang kompleks. Siapa saja dapat mengalami kondisi di mana hidupnya harus ditopang mesin, terutama pada masa pandemi Covid-19 seperti sekarang.

    DINA OKTAFERIA 

    Baca: Korea Selatan Kirim Bantuan Ventilator ke Indonesia


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.