Mahasiswa FTUI Raih Juara Kedua CIOB Global Student Challenge 2021

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim Harsa Bayanaka FTUI yang berhasil meraih runner-up pada ajang The Chartered Institute of Building (CIOB) Global Student Challenge 2021. Kredit: Humas UI

    Tim Harsa Bayanaka FTUI yang berhasil meraih runner-up pada ajang The Chartered Institute of Building (CIOB) Global Student Challenge 2021. Kredit: Humas UI

    TEMPO.CO, Jakarta - Empat mahasiswa Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) angkatan 2017, berhasil meraih posisi runner-up pada ajang The Chartered Institute of Building (CIOB) Global Student Challenge 2021.

    Acara ini diselenggarakan secara daring oleh The Chartered Institute of Building (UK) dan diikuti oleh 35 tim dari seluruh dunia. Empat mahasiswa yang tergabung dalam Tim Harsa Bayanaka tersebut adalah Alfi Rizka Thoriq, Satria Adipradana, Annisa Luthfia, dan Al-Zahra Aisha Namira, di bawah bimbingan dosen Departemen Teknik Sipil FTUI, Rossy Armyn.

    "Dengan berkompetisi di CIOB Global Student Challenge sangat menambah pengalaman kami dalam bidang manajemen konstruksi. Kemenangan ini juga melanjutkan tradisi FTUI yang sejak keikutsertaannya di tahun 2019, selalu membawa pulang gelar juara dari tiga besar,” ujar Satria melalui keterangan tertulis, Rabu, 21 Juli 2021.

    CIOB Global Student Challenge 2021 merupakan lomba inovasi bidang konstruksi tingkat internasional yang mengusung tema Online Construction Business Game. Pada tahap pre-competition yang dimulai pada 15 Maret 2021, setiap tim mengikuti trial sessions.

    ADVERTISEMENT

    Selanjutnya, pada babak penyisihan yang diselenggarakan pada 14 April–25 Mei 2021, seluruh tim bertanding sebanyak enam ronde untuk mendapatkan posisi Top 6. Pada tahap final, hanya enam tim terpilih yang kemudian dapat mengikuti The Global Student Challenge Final. Pembacaan pemenang yang seharusnya dilaksanakan di Sydney, Australia, akhirnya dilaksanakan secara daring di mana Tim Harsa Bayanaka terpilih sebagai runner-up.

    Ada enam tahapan awal di babak pre-competition. Setiap tim akan dinilai setiap minggunya berdasarkan Key Performance Indicators, termasuk rasio laba kotor terhadap perputaran, rasio laba operasi terhadap perputaran, nilai perusahaan, harga saham, dan kepuasan klien. Nilai akhir kemudian menentukan posisi tim dengan peringkat kompetisi secara keseluruhan sebelum akhirnya dipilih enam tim teratas yang menjadi finalis.

    Kompetisi ini menggunakan MERIT, sebuah game online yang menyimulasikan manajemen sebuah perusahaan konstruksi. Setiap tim, yang terdiri dari empat orang, ditugaskan untuk mengelola perusahaan konstruksi virtual sendiri.

    Selama kompetisi, setiap tim diberikan data dan grafik untuk membantu tim menganalisis kinerja perusahaan, termasuk informasi klien, nilai kontrak, keuangan perusahaan, harga saham, investasi, omset, laba, nilai, overhead, staf dan agensi, kapasitas dan pelatihan biaya.

    Pada babak final, setiap anggota tim memegang peranan penting dalam perusahaan konstruksi simulasi. Masing-masing peranan tersebut adalah financial manager, overhead manager, estimating manager, dan construction manager.

    "Financial manager bertugas mengatur keuangan perusahaan konstruksi kami termasuk kegiatan investasi perusahaan dan overhead manager bertugas meloloskan pekerjaan yang tersedia di pasar dalam tahap prekualifikasi dan menentukan jumlah staf yang dibutuhkan perusahaan,” kata Al-Zahra menjelaskan simulasi inovasi perusahaan bidang konstruksi yang diusung oleh Tim Harsa Bayanaka.

    Estimating manager bertugas untuk menghitung perkiraan biaya pekerjaan untuk dilanjutkan pada proses bidding pekerjaan dan juga bertugas untuk melakukan proses bidding pekerjaan.

    Construction manager bertugas mengatur Sumber Daya Manusia (SDM) yang terlibat dalam pelaksanaan proyek seperti project manager dan pekerja serta menghitung pengeluaran yang dibutuhkan serta keuntungan yang didapatkan dari proyek yang sedang dijalankan. "Selain itu, semua keputusan dan strategi yang kami buat harus mempertimbangkan dampak yang terjadi pada periode-periode pertandingan selanjutnya,” kata Alfi.

    “Banyak hal yang kami pelajari selama bertanding di Global Student Challenge 2021, salah satunya team work. Bekerja dalam tim bukanlah hal yang mudah, karena banyak perbedaan pendapat untuk mencapai suatu keputusan selama lomba ini, namun kami belajar bahwa semua pendapat perlu didengar, dan tidak semua pendapat harus dilaksanakan,"ujar Annisa.

    "Kami belajar untuk berdiskusi dengan efektif dan profesional untuk mendapatkan keputusan yang paling tepat untuk perusahaan konstruksi kami. Kami juga banyak belajar tentang manajemen waktu, karena kami berempat memiliki kesibukan masing-masing seperti magang, kuliah, dan skripsi. Kami belajar untuk lebih memiliki toleransi dan disipilin terhadap waktu karena tidak banyak waktu di mana kami berempat benar-benar bisa berdiskusi bersama,” tambahnya.

    Rossy Armyn yang merupakan pakar bidang keselamatan konstruksi dan pembimbing Tim Harsa Bayanaka menyatakan bahwa, kesabaran, semangat berusaha, dan doa menjadi penyemangat tim ini untuk mencapai yang terbaik.

    “Dari awal diskusi, saya melihat optimisime yang ditunjukan dari Tim Harsa Bayanaka untuk menjadi yang terbaik, sehingga pada saat kompetisi CIOB ini berlangsung, tim ini mampu untuk mengambil langkah strategis dalam setiap keputusan yang diambil untuk pengembangan proyek, baik untuk kinerja investasi, menganalisa sumber daya, dan operasional manajemen proyek," ujar dia.

    Baca:
    Mahasiswa Matematika ITB Usia 18 Tahun Jadi Wisudawan Termuda


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Pernikahan dan Hajatan saat PPKM Level 4 dan 3, Ada Sanksi jika Melanggar

    Pemerintah mengatur resepsi pernikahan saat PPKM Level 4 dan lebih rendah. Aturan itu diikuti sanksi bagi pelaku usaha, perorangan, dan kepala daerah.