Kepala Eijkman Ingatkan Bahaya Permainan Data Kasus Covid-19

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kata

    Kata "COVID-19" tercermin dalam setetes jarum suntik dalam ilustrasi yang diambil pada 9 November 2020. [REUTERS / Dado Ruvic / Ilustrasi]

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Amin Soebandrio, memperingatkan bahayanya jika mempermainkan data jumlah infeksi Covid-19. Menurut dia, jika tidak menggunakan data terkini, bisa saja justru meningkatkan jumlah kasus Covid-19.

    Artinya, Amin memberikan contoh, misalnya di suatu daerah dilaporkan jumlah kasusnya menurun, secara psikologis itu akan menyebabkan timbulnya rasa percaya diri bahwa kondisi membaik. Di sisi lain jumlah kasus yang sebenarnya lebih banyak dari yang dilaporkan.

    “Tentu sangat berbahaya. Karena dianggap sudah terkendali, padahal belum tentu, kewaspadaan masyarakat kendur,” ujar dia saat dihubungi, Kamis, 22 Juli 2021.

    Amin yang Guru Besar Ilmu Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu meminta masyarakat tidak kendur dalam menjalankan protokol kesehatan 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas). Sementara pemerintah tetap fokus dengan 3T (testing, tracing, dan treatmen). “Bagaimanapun kondisinya, sampai benar-benar kasus mereda.”

    Selain itu, Amin juga mengingatkan masyarakat yang sudah divaksin harus tetap menjalankan protokol kesehatan selama beraktivitas di luar. Karena, kata dia, belajar dari negara lain, ada yang sudah 80 persen warganya divaksinasi, ditambah jumlah kasus rendah, dan mereka memperbolehkan warganya keluar tanpa menggunakan masker, kasusnya meningkat kembali beberapa pekan kemudian.

    “Itu akan terjadi. Seperti satu fenomena begitu turun dikendurkan, begitu dikendurkan nanti naik lagi kasusnya. Jadi bolak-balik seperti itu saja,” tutur pria kelahiran Semarang 68 tahun lalu itu.

    Perbedaan data kasus Covid-19 yang dilaporkan pemerintah dan di lapangan ini diungkap oleh lembaga inisiator pemantau wabah, LaporCovid-19. Mereka bahkan telah berulang kali mengingatkan pemerintah perihal pentingnya transparansi data sejak pandemi melanda Maret tahun lalu.

    Temuan LaporCovid-19 yang terbaru adalah kejanggalan data kematian. Organisasi relawan di bidang kesehatan ini mendapat laporan adanya 26 orang meninggal yang dimakamkan dengan protokol Covid-19 di Malang, Jawa Timur, pada Selasa lalu. Pada hari yang sama pemerintah Jawa Timur tidak mencatatkan satu kematian pun akibat Covid-19 di wialayahnya.

    Data menarik lainnya adalah studi yang dilakukan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) yang menganggap pendeteksian kasus Covid-19 di DKI Jakarta masih sangat rendah. Temuan ini berdasarkan hasil survei serologi prevalensi antibodi positif SARS-CoV-2, penyebab penyakit Covid-19,  yang menyebutkan 44,5 persen penduduk di DKI Jakarta terinfeksi.

    Studi itu menyebutkan dari total penduduk Jakarta sebanyak 10,6 juta orang dan prevalensi pernah terinfeksi 44,5 persen, artinya jumlah penduduk yang pernah terinfeksi sebanyak 4.717.000 orang. Sementara kumulatif kasus terlaporkan per 31 Maret 2021 adalah 382.055 kasus, artinya proporsi kasus yang terdeteksi hanya 8,1 persen, dan yang tidak terdeteksi sebanyak 91,9 persen.

    Baca:
    Risiko Penularan Pengawetan Jenazah Pasien Covid-19, Apa Kata Dokter Forensik?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.