Membeludak di RS, Jenazah Covid-19 Diarahkan ke Stasiun Dekontaminasi BPBD

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemakaman jenazah dengan protokol pasien Virus Corona. REUTERS/Willy Kurniawan

    Pemakaman jenazah dengan protokol pasien Virus Corona. REUTERS/Willy Kurniawan

    TEMPO.CO, Yogyakarta – Lonjakan jumlah kematian pasien membuat tugas Posko Dukungan Operasi Satgas Penanganan Covid-19 Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bertambah. Tak lagi sebatas membantu pemakaman dengan protokol kesehatan ketat, tapi juga melakukan pemulasaran jenazah. “Stasiun dekontaminasi di markas kami sudah dipakai sekaligus untuk pemulasaran jenazah infeksius,” kata Komandan Posko Induk Operasi Satgas Penanganan Covid-19 Pemda DIY, Wahyu Pristiawan Buntoro, kepada TEMPO, Jumat sore, 23 Juli 2021.

    Setidaknya sudah dua jenazah infeksius yang dimintakan diurus di markas yang berada di area Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY itu. Bahkan ada donatur yang menyumbang 50 peti jenazah dan dikirimkan ke lokasi ini. Pristiawan mengaku kalau timnya sudah kewalahan melakukan pemakaman jenazah infeksius Covid-19, kini merasa bingung kebanjiran peti jenazah di markasnya. “Pusing juga ini. Semoga (peti jenazah) itu tak digunakan,” kata Pristiawan yang berharap jumlah kematian menurun.

    Selama ini, lanjut dia, tugas pemulasaran jenazah infeksius menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan yang dilaksanakan di tiap-tiap rumah sakit rujukan. Dia mengingatkan bahwa pelayanan terhadap jenazah infeksius melalui prosedur yang berbeda dari jenazah umumnya. “Pemulasaran jenazah infeksius kan titik yang bahaya juga. Bagaimana ketika prosesnya selesai, jenazah tidak infeksius lagi,” kata Pristiawan yang juga Komandan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD DIY itu.

    Namun lonjakan kematian yang kian tak terbendung membuat petugas pemulasaran jenazah di tiap-tiap rumah sakit di DIY kewalahan. Laju jenazah yang datang membuat ruang-ruang yang ada tak muat lagi. Belum soal keterbatasan tenaga. 

    Pristiawan mencontohkan saat 63 pasien meninggal di Rumah Sakit Umum Pusat atau RSUP Sardjito per pukul 07.00 tanggal 3 Juli 2021 hingga pukul 07.00 tanggal 4 Juli 2021. Ketika itu, pemulasaran di ruang forensik hanya ditangani tiga orang. Sementara antrean jenazah tak hanya terjadi di ruang forensik. Melainkan juga di bangsal-bangsal isolasi, ICU, juga IGD yang antre dibawa ke ruang forensik. 

    “Kami ikut membantu mengatasi, dan sekarang sudah ada tambahan sembilan tenaga pemulasaran di sana,” kata Pristiawan. 

    Saat ini, dia mengungkapkan, jumlah kematian masih terus meningkat. Setidaknya dalam sehari rata-rata ada 100 jenazah infeksius yang dimakamkan berdasar protokol kesehatan. Berdasarkan data posko induk, terhitung 14-21 Juli 2021 ada 1.022 jenazah meliputi yang meninggal di rumah sakit sebanyak 804 dan meninggal saat isolasi mandiri sebanyak 218 jenazah. “Dan ini sudah dilempar kepada publik soal kapasitas rumah sakit untuk pemulasaran sudah penuh,” kata Pristiawan.

    BPBD DIY kemudian membuka rekrutmen relawan pemulasaran jenazah sekaligus mengadakan pelatihan. Pelaksanaannya dengan melibatkan jaringan satgas-satgas di kabupaten dan kota hingga tingkat kelurahan. Saat ini telah ada dua relawan pemulasaran yang dilatih tim posko induk yang ditempatkan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Yogyakarta.

    Baca juga:
    Jenazah Covid-19 Bisa Dikubur di Pemakaman Umum, Ini Penjelasannya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.