Gerah Sebelum Hujan, Kok Bisa?

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi hujan di Jakarta. TEMPO/Frannoto

    Ilustrasi hujan di Jakarta. TEMPO/Frannoto

    TEMPO.CO, Jakarta - Udara panas sebelum hujan sebenarnya berkaitan dengan proses terjadinya hujan. Hujan terbentuk ketika air yang ada di laut, sungai, danau, genangan atau sumber air lainnya mengalami penguapan yang disebabkan oleh sinar matahari. Proses ini dikenal juga dengan sebutan evaporasi.

    Dikutip dari laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suasana gerah sebelum hujan secara meteorologis disebabkan suhu udara yang panas disertai dengan kelembapan udara yang tinggi.

    Dalam proses evaporasi atau perubahan air menjadi uap. Proses ini memerlukan energi panas dari matahari. Energi panas matahari nantinya akan disimpan oleh molekul-molekul uap air yang akan naik ke atas hingga ketinggian bersuhu lebih rendah.

    Ketika sampai di ketinggian tertentu bersuhu lebih rendah, molekul-molekul air yang menyimpan energi panas tersebut akan mengalami proses kondensasi atau perubahan air menjadi embun hingga membentuk awan.

    Awan yang terbentuk tersebut akan menetap di atmosfer hingga titik embun semakin banyak dan padat. Untuk menjadi hujan, maka molekul uap air yang telah jadi awan harus mengeluarkan energi panas yang disimpan.

    Awan mendung berada lebih di bawah awan-awan yang lain, tidak terlalu tinggi jaraknya dengan daratan. Karena itulah udara panas yang dilepaskan awan mendung akan lebih terasa. Saat semua panas terlepas, barulah udara dingin mulai terasa, dan saat itulah hujan akan turun.

    WINDA OKTAVIA

    Baca: BMKG: Hujan di Sebagian Wilayah Jakarta


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.