Sultan Sebut 3 Faktor Utama Tingginya Kematian Pasien Covid-19 di Yogya

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Sleman memantau pelaksaan vaksinasi Covid-19 untuk pelaku usaha pariwisata dari kalangan hotel dan restoran di Hotel Marriott Yogyakarta, Senin 21 Juni 2021. TEMPO | Pribadi Wicaksono

    Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Sleman memantau pelaksaan vaksinasi Covid-19 untuk pelaku usaha pariwisata dari kalangan hotel dan restoran di Hotel Marriott Yogyakarta, Senin 21 Juni 2021. TEMPO | Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X membeberkan tiga penyebab utama kematian pasien Covid-19 di wilayah itu.

    Berdasarkan data Gugus Tugas Covid-19 DIY dari total kasus kematian akibat Covid-19 yang sebanyak 2.780 orang hingga 23 Juli lalu, sebanyak 195 atau 7 persen kasus meninggal tidak diketahui tempatnya, lalu sebanyak 695 atau 25 persen kasus meninggal di rumah atau isolasi mandiri, dan 1.890 atau 68 persen meninggal di rumah sakit.

    Dari jumlah itu, ujar Sultan, penyebab tingginya kasus kematian akibat Covid-19 di DIY dikarenakan beberapa alasan.

    "Pertama, karena pasien meninggal mempunyai komorbid (penyakit penyerta) dan sudah berusia lanjut. Kedua, karena tidak mendapatkan oksigen, dan ketiga pasien belum mendapatkan vaksinasi," kata Sultan dalam keterangannya saat Rapat Koordinasi Penanganan CoViD-19 yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI, Luhut Binsar Panjaitan, Sabtu malam, 24 Juli 2021.

    Sultan juga mengungkap alasan lain penyebab kasus kematian di wilayahnya karena ada pasien mengalami gejala ringan yang berkembang menjadi berat tetapi tidak terpantau optimal karena isolasi mandiri atau isoman.

    "Untuk mengurangi yang meninggal saat isoman, kami sudah berkoordinasi dengan BNPB maupun dengan bupati/wali kota untuk membentuk satgas yang akan menangani isolasi di shelter terpusat," kata Sultan.

    Nantinya, lanjut Sultan, dari pihak pemerintah kabupaten/kota yang mendata nama dan alamat dari pasien yang isoman dan membantu pemerintah DIY melakukan tracing bagi seluruh isoman.

    Satgas ini nantinya akan memantau kondisi para pasien isoman, yang akan dipindahkan proses isolasinya ke shelter-shelter terpusat yang telah disiapkan.

    Sultan mengungkapkan, saat ini ada tiga shelter terpadu yang akan menjadi wilayah kerja dari satgas khusus DIY ini. Yakni di Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak, Balai Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Yogyakarta maupun asrama mahasiswa UNY. "Total kapasitasnya 506 orang," kata dia.

    Pasien isoman nantinya akan dibagi menurut gejala yang dialami. Mereka yang bergejala sedang akan dibawa ke shelter terpusat, sedangkan yang bergejala berat akan dirujuk ke rumah sakit.

    "Sehingga tinggal yang bergejala ringan saja yang boleh tetap isoman. Yang bergejala ringan ini juga akan tetap dipantau oleh kabupaten/kota dibantu oleh tenaga kesehatan yang nantinya dikoordinasikan dengan puskesmas terdekat," kata Sultan.

    Menurut Sri Sultan, penanganan pasien CoViD-19 di DIY selama ini sudah dilakukan sesuai standar dan sudah dilakukan pemberian terapi tambahan untuk kasus yang berat.

    Sultan mengatakan selain pembentukan satgas, upaya lain yang dilakukan Pemda DIY untuk menekan angka kematian akibat Covid-19 juga meningkatkan pengawasan pada pasien dengan gejala ringan. "Apabila pasien sudah lansia atau mempunyai komorbid akan dirujuk untuk dirawat di rumah sakit," kata Sultan.

    Selain itu, dilakukan pula upaya peningkatan akses layanan rujukan dengan meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan di rumah sakit rujukan Covid-19.

    "Kami juga berupaya meningkatkan pasokan dan ketersediaan oksigen bagi rumah sakit rujukan, melakukan rekrutmen tenaga relawan, serta mengoptimalkan masyarakat untuk memanfaatkan shelter untuk isolasi," kata dia.

    Sultan mengatakan pemerintah terus memberikan edukasi kepada masyarakat untuk tidak isolasi di rumah. "Shelter-shelter sudah tersedia tetapi baru dimanfaatkan sekitar 60 persen," ujarnya.

    Upaya terakhir, untuk menekan kematian Covid-19 di DIY ini juga dengan meningkatkan cakupan vaksinasi maupun distribusi obat-obatan.

    Sekretaris Daerah DIY Kadarmanta Baskara Aji mengatakan, kesimpulan dari banyaknya kasus pasien meninggal dunia saat menjalani isoman dikarenakan tidak dalam pengawasan tenaga kesehatan.

    "Pasien isoman tanpa pengawasan ternyata cukup memprihatinkan. Oleh karena itu, untuk para isoman ini kami upayakan segera digeser ke shelter atau justru kalau memang saturasinya sudah cukup rendah langsung ke rumah sakit yang ada," katanya.

    Terkait BOR rumah sakit yang hampir penuh, Aji menjelaskan, pihak rumah sakit akan melakukan pergeseran pasien Covid-19. Bagi mereka yang sudah mulai membaik, akan dipindahkan ke shelter, kemudian tempat yang kosong di rumah sakit akan diisi oleh para isoman yang punya gejala sedang sampai berat.

    Baca:
    Hari Terakhir PPKM Darurat, Covid-19 Yogya Kembali Tembus 2.000 Kasus


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.