Covid-19: Inggris Selidiki Varian Virus Baru Lagi, B.1.621

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Orang-orang yang memakai masker berjalan di sepanjang peron di Stasiun King's Cross, di tengah wabah penyakit virus corona (COVID-19) di London, Inggris, 12 Juli 2021. REUTERS/Henry Nicholls

    Orang-orang yang memakai masker berjalan di sepanjang peron di Stasiun King's Cross, di tengah wabah penyakit virus corona (COVID-19) di London, Inggris, 12 Juli 2021. REUTERS/Henry Nicholls

    TEMPO.CO, Jakarta - Otoritas kesehatan di Inggris menyatakan sedang menyelidiki varian baru lagi dari virus corona Covid-19, yakni B.1.621. Varian mutasi ini telah ditemukan di dalam negerinya, setelah sebelumnya diketahui di beberapa negara lain termasuk Amerika Serikat, saat Inggris sedang bergulat dengan varian Delta, varian Covid-19 paling agresif saat ini.

    Penyelidikan oleh Public Health England (PHE) Inggris diumumkan pada Jumat, 23 Juli 2021. Mereka menetapkan B.1.621 sebagai variant under investigation pada Rabu, 22 Juli 2021.

    Sejauh ini, sudah sebanyak 16 kasus infeksi virus varian itu yang telah terdeteksi di seluruh negeri, 10 di antaranya berada di London. “Mayoritas dari kasus ini terkait dengan perjalanan internasional,” bunyi keterangan PHE, pada akhir pekan lalu.

    PHE juga melaporkan bahwa belum ada bukti yang menunjukkan varian tersebut menyebabkan penyakit yang lebih parah atau membuat vaksin menjadi kurang efektif. Namun, mereka sedang menguji di laboratorium untuk lebih memahami dampak mutasi pada perilaku virus.

    “Dan akan mengambil semua intervensi kesehatan masyarakat yang tepat untuk mengidentifikasi dan menindaklanjuti kasus dengan tujuan membatasi penyebaran varian,” kata PHE.

    Menurut PHE, varian itu telah ditemukan pula di Amerika Serikat (592 kasus), Portugal (56), Jepang (47), Swiss (41) dan India (23). GISAID Initiative—organisasi nirlaba internasional yang mempelajari genetika virus--juga telah mengumpulkan sebanyak 1.230 sampel kasus Covid-19 yang berisi infeksi B.1.621.

    Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menjelaskan kasus pertama yang tercatat dari B.1.621 datang dari Kolombia pada Januari 2021. Sejak itu telah didokumentasikan di 26 negara di wilayah yang berbeda, serta data GISAID menunjukkan peningkatan jumlah negara yang melaporkan kasus infeksi varian baru ini sepanjang Juni dan Juli. Hampir setengahnya dilaporkan dari Amerika Serikat.

    Secara alami, virus memang akan bermutasi dari waktu ke waktu, tidak terkecuali SARS-CoV-2, virus corona penyebab Covid-19. Hingga kini pun sudah banyak versi yang terdeteksi berbeda dari  yang pertama kali diidentifikasi di Cina pada akhir 2019 lalu. Sementara banyak mutasi tidak mengubah perilaku virus, beberapa dapat memunculkan varian yang lebih menular, lebih mematikan, atau lebih resisten terhadap vaksin.

    FORBES | PHE | WHO

    Baca juga:
    Peneliti LIPI: Covid-19 Lokal Indonesia Kalah Agresif dari Varian Delta


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.