Bagaimana Penanganan Limbah B3, Apa Saja Termasuk Bahan Berbahaya Beracun?

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas kebersihan Rumah Sakit COVID-19 Wisma Atlet memasukan limbah B3 ke dalam truk sampah di Jakarta, Jumat 26 Februari 2021. Berdasarkan data per Jumat (26/2/2021) pukul 08.00 WIB, jumlah pasien COVID-19 yang dirawat di RS Wisma Atlet tersebut sebanyak 4.459 orang dengan keterisian tempat tidur di RS Wisma Atlet sebanyak 74 persen dari 5.994, sehingga yang tersisa sebanyak 26 persen atau 1.535 tempat tidur. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

    Petugas kebersihan Rumah Sakit COVID-19 Wisma Atlet memasukan limbah B3 ke dalam truk sampah di Jakarta, Jumat 26 Februari 2021. Berdasarkan data per Jumat (26/2/2021) pukul 08.00 WIB, jumlah pasien COVID-19 yang dirawat di RS Wisma Atlet tersebut sebanyak 4.459 orang dengan keterisian tempat tidur di RS Wisma Atlet sebanyak 74 persen dari 5.994, sehingga yang tersisa sebanyak 26 persen atau 1.535 tempat tidur. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

    TEMPO.CO, Jakarta - Sesuai Undang-Undang RI nomor 32 Tahun 2009, Bahan Berbahaya dan Beracun atau B3 merupakan zat, energi, atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung bisa merusak lingkungan hidup, membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, dan kelangsungan hidup manusia dan makluk hidup.

    Mengutip Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Direktorat Pengelolaan B3 , di laman sib3pop.menlhk.go.id, identifikasi B3 meliputi mudah meledak (ex plosive), pengoksidasi (oxidizing), sangat mudah sekali menyala (extremely flammable), mudah menyala (flammable), amat sangat beracun (highly toxic), berbahaya (harmful), korosif (corrosive), bersifat iritasi (irritant), berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment), karsinogenik (carcinogenic), teratogenik (teratogenic), mutagenik (mutagenic).

    Saat ini, beberapa jenis B3 yang boleh digunakan termasuk amonia, asam asetat, asam sulfat, asam klorida, asetilena, formalin, methanol, natrium hidroksida, gas nitrogen. Daftar lengkap B3 yang boleh dipergunakan dapat dilihat langsung pada Lampiran 1 Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2001.

    Sementara jenis B3 yang tidak boleh digunakan termasuk: aldrin, chlordane, DDT, dieldrin, endrin, heptachlor, mirex, toxaphene, hexachlorobenzene dan PCBs, yang daftarnya bisa dilihat pada Lampiran 2 Peraturan Pemerinah No.74 Tahun 2001.

    Bagaimana dengan limbah B3?

    Melansir Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Daerah Istimewa Yogyakarta di laman dlhk.jogjaprov.go.id, limbah Bahan Berbahaya dan Beracun atau B3 merupakan sisa usaha atau kegiatan yang mengandung B3. Yang mana limbah B3 dihasilkan dari kegiatan atau usaha, baik industri, pariwisata, pelayanan kesehatan, maupun domestik rumah tangga.

    Karena sifatnya yang berbahaya dan beracun, pengelolaaan limbah B3 perlu melalui proses penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan, dan penimbunan. Guna memastikan pengelolaan limbah dilakukan dengan benar dan mempermudah pengawasan, maka pihak-pihak terkait wajib memiliki izin dari bupati atau walikota, gubernur, atau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sesuai peraturan yang berlaku.

    DELFI ANA HARAHAP

    Baca: Masker Tak Masuk Limbah Medis, Apa Saja Kategori Limbah B3?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.