Covid-19: Tekan Mobilitas di Permukiman, Yogya Sekat Ratusan Jalan Kampung

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana di salah satu kampung Wirobrajan, Yogyakarta, pascakasus penularan Covid-19. Satu RT di kampung tak jauh dari Malioboro ini terpaksa di-lockdown sementara. (Dok. Kampung Tangguh Bencana Wirobrajan)

    Suasana di salah satu kampung Wirobrajan, Yogyakarta, pascakasus penularan Covid-19. Satu RT di kampung tak jauh dari Malioboro ini terpaksa di-lockdown sementara. (Dok. Kampung Tangguh Bencana Wirobrajan)

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Ketua Harian Gugus Tugas Covid-19 Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi menyatakan ada ratusan wilayah rukun tetangga (RT) di wilayah kota itu yang membatasi akses keluar masuk di masa PPKM Level 4 yang diperpanjang hingga 9 Agustus nanti.

    "Saat ini ada 235 RT yang sudah melakukan penyekatan jalan ke luar masuk lingkungannya. Jadi begitu ada pertumbuhan kasus Covid-19 dan ada kontak erat, maka posko dan satgas kelurahan langsung menutupnya," kata Heroe Selasa 3 Agustus 2021.

    Heroe mengatakan untuk penyekatan akses permukiman ini, satgas dan posko kelurahan di Kota Yogya wajib memonitor setiap gang di kampungnya untuk membatasi mobilitas warga. Khususnya untuk permukiman yang kasusnya masuk kategori oranye, merah, ada pertumbuhan kasus, atau mobilitasnya tinggi.

    "Sehingga penularan yang terjadi di permukiman bisa ditekan semaksimal mungkin," kata dia.

    Heroe yang juga Wakil Walikota Yogya itu mengatakan konsentrasi Pemerintah Kota Yogya di masa perpanjangan PPKM Level 4 ini menurunkan mobilitas di pemukiman dan cara penanganan kasus Covid-19 ringan, atau tanpa gejala. Sebab saat PPKM Darurat dan Level 4 tahap pertama yang berlangsung 3 Juli-2 Agustus lalu, penyekatan di jalan raya dan tempat-tempat umum berhasil menurunkan mobilitas mencapai 50-60 persen.

    "Tetapi ketika evaluasi, mobilitas di permukiman hanya turun 19 persen. Artinya mobilitas pemukiman masih signifikan untuk terjadinya penularan kasus," ujar Heroe.

    Padahal, kecenderungan kasus penukaran Covid-19 yang terjadi di Kota Yogyakarta belakangan ini tak lain melalui kontak erat di rumah dan perkantoran. Pascaberkembangnya Covid-19 varian Delta, ujar Heroe, setiap kasus baru ditemukan, sebagian besar lokasinya terjadi di lingkungan rumah atau ruangan kantor.

    "Maka masa perpanjangan PPKM ini fokus kami penyekatan dan pemisahan secepatnya kasus di pemukiman," ujar Heroe.

    Pemerintah Kota Yogya telah menginstruksikan posko dan satgas setiap kelurahan dan kecamatan juga merespon cepat setiap kasus baru agar segera ditangani secara terintegrasi agar tak meluas. "Kalau ketemu kasus baru, kami minta secepatnya dilakukan isolasi, baik di shelter kota maupun shelter wilayah. Sehingga yang negatif tidak tertular dari satu rumah atau satu ruangan," kata dia.

    Heroe mengatakan pemerintah kota tetap akan menutup jalan-jalan utama secara berkala di jalan raya serta pembatasan akses. Pengawasan pada pasien yang isolasi mandiri juga jadi fokus guna menekan kematian.

    "Pemantauan pasien isolasi mandiri yang selama ini dilakukan petugas puskesmas, kami minta juga dilakukan lewat tim PKK wilayah setempat. Jadi warga yang isolasi tetap ada yang menemani dan mengajak bicara soal keluhannya," ujar Heroe.

    Warga yang isolasi mandiri, ujar Heroe, selain harus dijamin mendapat multivitamin atau obat, juga musti dijamin kebutuhan makanan setiap hari minimal dua kali. "Satgas Covid-19 kelurahan yang akan mengantar makanan sehari dua kali bagi pasien isolasi mandiri di rumahnya," kata Heroe.

    Baca juga:
    Dokter Tak Rekomendasikan Penggunaan Tabung Oksigen saat Isolasi Mandiri


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.