Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Indonesia Disebut Masuk Hiperendemik Covid-19

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Petugas melayani penyintas Covid-19 yang mendonorkan plasma konvalesen di Stasiun MRT Dukuh Atas, Jakarta, Selasa, 24 Agustus 2021. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Petugas melayani penyintas Covid-19 yang mendonorkan plasma konvalesen di Stasiun MRT Dukuh Atas, Jakarta, Selasa, 24 Agustus 2021. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Top 3 Tekno berita hari ini dimulai dari topik tentang penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia memasuki babak baru. Setelah mengalami ledakan kasus akibat varian Delta, kebijakan PPKM membuat kurva kasus menjadi sedikit melandai. Beberapa pakar pun mulai memberikan proyeksinya mengenai akhir pandemi Covid-19 di Indonesia.

    Berita terpopuler selanjutnya tentang Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X masih memilih berhati-hati dalam mempertimbangkan kebijakan sekolah tatap muka walau sejumlah daerah telah memulai uji coba.

    Selain itu, varian baru Covid-19, C.1.2, telah terdeteksi di Afrika Selatan dan sejumlah negara lain. Menurut studi pracetak dari South Africa's National Institute for Communicable Diseases dan KwaZulu-Natal Research Innovation and Sequencing Platform, virus itu memunculkan kekhawatiran bahwa varian itu bisa lebih menular dan mengurangi efektivitas vaksin.

    Berikut tiga berita terpopuler di kanal Tekno.

    1. Disebut-sebut Indonesia Memasuki Periode Hiperendemik Covid-19, Apa Maksudnya?

    Penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia memasuki babak baru. Setelah mengalami ledakan kasus akibat varian Delta, kebijakan PPKM membuat kurva kasus menjadi sedikit melandai. Beberapa pakar pun mulai memberikan proyeksinya mengenai akhir pandemi Covid-19 di Indonesia.

    Dari banyaknya proyeksi yang diberikan, tak sedikit prediksi tersebut bernada pesimistis. Salah satu proyeksi yang cukup bernada pesimis adalah proyeksi yang menyatakan bahwa pandemi Covid-19 di Indonesia tidak akan hilang begitu saja, tetapi berubah menjadi hiperendemik. Kondisi ini tentu berkebalikan dengan beberapa negara yang telah mencatatkan penurunan kasus dalam jumlah tinggi. Lantas, apa yang dimaksud dengan hiperendemik?

    Hiperendemik terdiri dari dua kata, yakni hyper dan endemic. Dilansir dari dictionary.com, hyper berarti sesuatu yang berlebihan. Sementara itu, endemic berarti kemunculan suatu penyakit secara terus menerus di suatu wilayah geografis tertentu sebagaimana dilansir dari cdc.gov. Dengan demikian, seperti dikutip dari cdc.gov, hiperendemik bisa diartikan sebagai kemunculan suatu penyakit secara terus menerus di suatu wilayah geografis tertentu, yang terjadi dalam intensitas tinggi.

    2. Sultan: Kalau Sekolah Tatap Muka Lalu Banyak Tertular, Saya Bisa Digugat

    Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X masih memilih berhati-hati dalam mempertimbangkan kebijakan sekolah tatap muka walau sejumlah daerah telah memulai uji coba.

    Sultan menuturkan meski kasus Covid-19 harian di Yogya terus mengalami tren penurunan, namun status pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Yogyakarta saat ini belum juga turun dari Level 4. Artinya, sekolah juga masih belum memungkinkan tatap muka.

    "Kalau misalnya sekolah tatap muka digelar, lalu banyak siswa yang tertular tanpa gejala, saya digugat di PTUN, bagaimana?" ujar Sultan di Yogyakarta, Senin, 30 Agustus 2021.

    Masyarakat, ujar Sultan, jelas bisa mempersalahkan dan menggugat kebijakan sekolah tatap muka itu karena mau tak mau pembukaan sekolah itu pelaksanannya perlu dilandasi instruksi gubernur.

    3. Covid-19 Varian C.1.2 Terdeteksi di Afrika Selatan, Lebih Menular?

    Varian baru Covid-19, C.1.2, telah terdeteksi di Afrika Selatan dan sejumlah negara lain. Menurut studi pracetak dari South Africa's National Institute for Communicable Diseases dan KwaZulu-Natal Research Innovation and Sequencing Platform, virus itu memunculkan kekhawatiran bahwa varian itu bisa lebih menular dan mengurangi efektivitas vaksin.

    Para ilmuwan pertama kali mendeteksi C.1.2 pada Mei 2021, menemukan bahwa itu adalah turunan dari C.1, yang mengejutkan mereka karena C.1 terakhir terdeteksi pada Januari. Menurut mereka varian baru telah bermutasi secara substansial dibandingkan dengan C.1.

    “Dan lebih banyak mutasi dari virus asli yang terdeteksi di Wuhan daripada Variant of Concern (VoC) atau Variant of Interest (VoI) lainnya yang terdeteksi sejauh ini di seluruh dunia,” ujar para peneliti, seperti dikutip Jerusalem Post, Minggu, 29 Agustus 2021.

    Sementara pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan, C.1.2 sejak itu telah ditemukan di Inggris, Cina, Republik Demokratik Kongo, Mauritius, Selandia Baru, Portugal dan Swiss. Para ilmuwan percaya bahwa jumlah urutan C.1.2 yang tersedia mungkin kurang mewakili penyebaran dan frekuensi varian di Afrika Selatan dan di seluruh dunia. Simak Top 3 Tekno Berita Hari Ini lainnya di Tempo.co.

    Baca:
    Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Masker Hepa Filter Prabowo, Upgrade Windows 11


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    Ahok dalam Empat Nama Kandidat Kepala Otorita Ibu Kota Negara Baru

    Nama Ahok sempat disebut dalam empat nama kandidat kepala otorita Ibu Kota baru. Siapa tiga nama lain yang jadi calon pengelola IKN Nusantara?