Heboh Burung Pipit Mati Massal, Profesor di IPB Sebut Fenomena Sudden Death

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang petani membebaskan seekor burung pipit yang terperangkap dalam jaring padi miliknya di desa Ujung Tanjung, Kecamatan Meurebo, Kabupaten Aceh Barat,  (21/9). Para petani di daerah mengaku resah akibat hama burung yang memangsa padi milik mereka akibatnya hasil panen akan mengalami penurunan.  ANTARA/Irwansyah Putra

    Seorang petani membebaskan seekor burung pipit yang terperangkap dalam jaring padi miliknya di desa Ujung Tanjung, Kecamatan Meurebo, Kabupaten Aceh Barat, (21/9). Para petani di daerah mengaku resah akibat hama burung yang memangsa padi milik mereka akibatnya hasil panen akan mengalami penurunan. ANTARA/Irwansyah Putra

    TEMPO.CO, Bogor – Peristiwa burung pipit mati massal terjadi beruntun di sejumlah daerah di Indonesia sepanjang dua pekan ini. Dua peristiwa di antaranya mencakup populasi yang cukup besar yang berguguran dari pohon tempat burung-burung itu singgah pada malam sebelumnya.

    Profesor di Fakultas Kedokteran Hewan, IPB University, I Wayan Teguh Wibawan menyebut kematian mendadak dan bersamaan burung-burung bertubuh dan patuk kecil itu sebagai fenomena sudden death. Menurutnya, ada beberapa kemungkinan penyebabnya.

    Selain stress dan keracunan seperti yang sudah disebut pula oleh beberapa kalangan sebelumnya, Wayan memunculkan kemungkinan penyebab lain yakni hipoksia atau kekurangan kadar oksigen dalam darah. "Ada beberapa penyebabnya, salah satunya adalah hipoksia karena burung pipit itu kan jenis burung yang bergerombol di mana pun mereka berada,” kata Wayan, Rabu 15 September 2021.

    Wayan menunjuk kemungkinan perubahan cuaca sebagai pemicu. Burung pipit disebutnya jenis unggas yang biasa hidup di cuaca hangat. “Ini bisa juga karena kedinginan, terus mereka berjubel satu sama lain dan dalam kondisi seperti itu hipoksia atau kekurangan oksigen bisa saja terjadi."

    Seperti yang terjadi di Gianyar, Bali, pada Jumat pekan lalu, dan viral di media sosial, Wayan menerangkan, kematian massal burung pipit ditemukan di antara dua pohon asam. "Kemungkinan bisa saja, burung itu berebut oksigen antar habitatnya juga dengan pohon yang mereka hinggapi untuk oksigennya,” ucapnya. 

    Faktor kelelahan juga diperhitungkannya. Secara teoritis, Wayan menjelaskan, bisa saja kawanan burung itu mengalami fenomena sudden death karena kelelahan dan stress. Saat di satu daerah mengalami cuaca dingin maka burung-burung itu melakukan migrasi yang jauh mencari tempat-tempat yang hangat sesuai habitat mereka.

    Tangkapan layar video temuan bangkai burung pipit dalam jumlah besar di satu area makam di Gianyar, Bali, Jumat 10 September 2021. Lokasi temuan kematian burung-burung itu menambah viral video peristiwa ini di media sosial. ANTARA/Ayu Khania Pranisitha.HO-BKSDA Bali.

    Setelah melakukan perjalanan atau penerbangan jauh itu, burung-burung itu satu atau dua diantaranya kelelahan dan mati. Sebab kematian itu, membuat stress kawanan burung pipit lainnya. "Itu secara teoritis ya," katanya sambil menambahkan koleganya di Balai Veteriner Denpasar, Bali, sedang melakukan pemeriksaan penyebab pasti fenomena itu. "Kita tunggu hasilnya nanti apa,” kata Wayan.

    Baca juga:
    Diselamatkan, Seekor Burung Gereja Terjerat Benang Layang-layang di Kabel Udara


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.