Riset Mahasiswa UGM Tunjukkan Bahwa Santet Pada Mulanya Bernilai Positif

Reporter:
Editor:

Iqbal Muhtarom

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Untung Hadi, anak korban pembantaian dukun santet Banyuwangi, Hasin, mengisahkan kematian ayahnya pada September 1998. TEMPO/Ika Ningtyas

    Untung Hadi, anak korban pembantaian dukun santet Banyuwangi, Hasin, mengisahkan kematian ayahnya pada September 1998. TEMPO/Ika Ningtyas

    TEMPO.CO, Jakarta - Santet, bagi sebagian atau hampir mayoritas masyarakat dianggap sebagai sesuatu yang menyimpang. Tak jarang, bila seseorang sakit, ada anggapan bahwa ia terkena santet yang dikirim orang lain.   

    Kasus dukun santet di Banyuwangi beberapa tahun silam, adalah salah satu catatan kelam dalam sejarah Republik Indonesia. Kasus tersebut, hingga kini, agaknya belum ada kejalasan. Asal-usul mengapa kisruh di ujung timur Pulau Jawa itu bisa terjadi.   

    Santet, seperti halnya konsep lain yang tumbuh dan berakar dari tradisi masyarakat, antara diterima dan ditolak. Diterima sebagai sesuatu yang turun-temurun, tapi juga ditolak karena kerap kali tak sejalan dengan tatanan baru di masyarakat. 

    Sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada atau UGM melakukan penelitian terkait bagaimana santet dipahami di masyarakat dan bagaimana pemahaman tersebut berubah dari sesuatu yang memiliki nilai positif menuju hal yang sepenuhnya negatif.

    Penelitian ini bertujuan untuk mengangkat kembali nilai positif santet yang sudah mengalami pergeseran dan marginalisasi di era modern sekarang ini.

    Tim yang beranggotakan Izza  mahasiswa Arkeologi 2019, Derry (Bahasa dan Sastra Indonesia 2019), Ana (Arkeologi 2019), Syibly (Psikologi 2018), dan Fadli (Sastra Jawa 2018) ini melakukan penelitian dengan melibatkan banyak pihak, mulai dari wawancara, analisis digital, serta analisis tekstual terhadap berbagai teks.

    Riset tentang santet ini dijalankan di bawah bimbingan Dosen Antropologi Budaya UGM, Agung Wicaksono. Penelitian bertema santet ini berangkat dari fenomena beragamnya persepsi masyarakat mengenai santet.

    Masyarakat Indonesia belum sepenuhnya memahami santet, anggapan yang tumbuh di masyarakat masih simpang siur tanpa adanya bukti valid. Hal ini dikarenakan minimnya pengetahuan, dan masyarakat hanya mengandalkan persepsi mereka.

    “Mayoritas masyarakat menilai santet sebagai suatu hal yang negatif dan sudah selayaknya ditinggalkan. Persepsi tanpa dasar semacam ini kerap melahirkan reaksi tanpa argumen dan hanya berdasar sentimen belaka,”  ujar Izza pada Kamis, 16 September 2021.

    Adapun hasil penelitian Tim Mahasiswa UGM ini, menunjukkan bahwa keberadaan santet dengan segala ruang praktik dan nalar positif dalam masyarakat Jawa terekam dalam peninggalan-peninggalan tekstual seperti manuskrip dan aktivitas manusia pada waktu itu.

    Secara tekstual kata santet tidak ditemukan dalam manuskrip. Kata yang memiliki hubungan erat dengan santet adalah kata sathet  yang terdapat dalam Serat Wedhasatmaka tahun 1905 yang berarti ‘jenis pesona dengan menggambar’.

    Secara tekstual kata santet tidak terdapat dalam beberapa manuskrip sebagai objek kajian data. Sebab dalam kasusastran Jawa santet merupakan akronim dari mesisan kanthet dan mesisan benthet. 

    Dalam wawancara riset, Persatuan Dukun Nusantara atau Perdunu mengungkapkan masyarakat Jawa khusunya Banyuwangi terungkap bahwa sifat dari santet adalah membuat sesuatu menjadi rekat sekalian atau mesisan kanthet ataukah justru sebaliknya yaitu membuat sesuatu menjadi retak atau pecah sekalian mesisan benthet.

    Oleh karena itu, dulu dalam ruang nalar orang Jawa santet memuat dua paradigma nilai. Yakni nilai positif atau kebaikan yang tergambarkan melalui piranti-piranti dan konsep yang membingkai santet menjadi positif serta paradigma nilai santet yang negatif akibat penyalahgunaan santet tersebut.

    Menurut Izza, santet memiliki nilai positif yang dibuktikan dalam penggunaanya dalam aktivitas keseharian masyarakat Madura untuk menangkap ikan, memanggil hujan, menyembuhkan sakit, dan sebagainya.

    Bentuk-bentuk praktek tersebut merupakan bentuk santet yang bermanfaat bagi pelaku dan lingkungan di sekitarnya tanpa merusak dan melukai siapapun. Nilai positif santet ini hidup karena adanya piranti santet yang positif atau mantra, dukun dan perlengkapan sajian.

    “Seperti tersebut di atas bahwa santet memiliki konsep nilai positif dan negatif. Akibat perlakuan yang tidak sebagaimana mestinya santet menjadi disalahgunakan,” ucap Izza.

    WILDA HASANAH

    Baca juga:  Telusuri Fungsi Surau di Sumatera Barat, Ini Rekomendasi Tim Riset Mahasiswa UGM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Yang Perlu Diketahui Tentang Kemenangan Indonesia di Thomas Cup 2020

    Kemengan Jonatan Christie di Thomas Cup 2020 menandai kemenangan Tim Merah Putih. Sejumlah catatan ditorehkan oleh regu yang menang atas Cina ini.