Kualitas Udara Jakarta 5 Kali Lebih Buruk daripada Standar Minimum Baru WHO

Alat berat mengeruk endapan sampah dengan latar belakang gedung bertingkat tersamar kabut polusi udara di Jakarta, Selasa, 20 April 2021. Berdasarkan data "World Air Quality Index" pada 20 April pukul 10.00 WIB tingkat polusi udara di Jakarta berada pada angka 174 yang menunjukkan bahwa kualitas udara di Ibu Kota termasuk kategori tidak sehat. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

TEMPO.CO, Jakarta - Relawan dan Konsultan Kesehatan Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI), Alvi Muldani, mencatat kualitas udara Jakarta cukup buruk. Per Kamis, 7 Oktober 2021, nilai rata-rata konsentrasi particulate matter PM 2,5 di udara mencapai rata-rata 26,9 ug/m3 atau lebih dari lima kali lebih buruk daripada ambang batas terbaru yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dalam webinar bertajuk ‘Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terkait Tuntutan Udara Bersih Jakarta, Apa Langkah Selanjutnya?’, Alvi yang juga seorang dokter umum itu menerangkan baku mutu udara ambien untuk PM 2,5 kini menjadi 15 mikrogram per meter kubik untuk batas harian 5,0 untuk tahunan. Standar baru itu ditetapkan WHO pada 22 September lalu.  

Standar terbaru dibuat lebih ketat dibandingkan yang berlaku sebelumnya. Alasannya, standar yang lama tak mampu mencegah tujuh juta orang di dunia dari kematian dini karena polusi udara. “Sementara di Jakarta, hampir enam kali lipat standar tahunan WHO terbaru tersebut. Ini membuat usia masyarakat hanya bisa sampai 55 tahun,” ujar Alvi, Kamis.

Alvi menerangkan bahwa PM 2,5 merupakan polutan yang paling banyak menimbulkan masalah kesehatan. Polutan ini dapat menembus paru-paru dan dialirkan oleh pembuluh darah ke seluruh tubuh. Meskipun ukurannya kecil, berat partkel ini lebih besar dibanding dengan polutan lain.

Pada 2013, Alvi mengingatkan, WHO telah mengklasifikasikan PM 2,5 sebagai zat penyebab kanker. Ditambahannya pula bahwa keberadaan zat tersebut tidak disadari dan penyakitnya tidak spesifik, membuat masyarakat cenderung abai dengan polutan sebagai salah satu penyebab utama masalah kesehatan.

Padahal, kata Alvi, ini bisa menyebabkan gangguan perkembangan janin, iritasi mata dan saluran napas, kanker paru, penyakit otak degeneratif, bahkan penurunan performa atlet. “Karena mereka bernapas 20 kali lebih banyak dibanding orang normal, sehingga berisiko 20 kali lipat terpapar,“ tutur Alvi.

Dia juga menyarankan agar masyarakat sering-sering memantau situs web Air Quality Index (AQI), yang menyajikan data secara real time mengenai kondisi udara di wilayahnya. Masyarakat bisa mengetahui seberapa bahaya polusi udara setiap harinya, termasuk juga keterangan apa yang harus dilakukan dengan kualitas udara yang ada.

“Kita bisa lihat, apakah pakai masker respirator atau N95, atau bahkan sampai petunjuk dilarang keluar rumah karena buruknya kualitas udara Jakarta,” katanya lagi sambil menambahkan bahwa sebaiknya informasi kualitas udara harian juga ikut ditayangkan di televisi, bukan hanya prakiraan cuaca saja.

Baca juga:
Standar Baru WHO untuk Polusi Udara dan Manfaatnya di Indonesia






Piala Dunia Qatar, Suporter Negara Lain Diminta Waspada Flu Unta

17 jam lalu

Piala Dunia Qatar, Suporter Negara Lain Diminta Waspada Flu Unta

MERS adalah satu dari delapan risiko infeksi potensial yang secara teoritis dapat muncul selama Piala Dunia Qatar 2022.


WHO: Kesenjangan Strategi Atasi Covid-19 Lahirkan Varian Baru

5 hari lalu

WHO: Kesenjangan Strategi Atasi Covid-19 Lahirkan Varian Baru

Kesenjangan dalam strategi mengatasi Covid-19 tahun ini terus menciptakan kondisi sempurna bagi munculnya varian baru yang mematikan


Indonesia Turut Berperan Aktif Wujudkan Keamanan Pangan Global

7 hari lalu

Indonesia Turut Berperan Aktif Wujudkan Keamanan Pangan Global

WHO dan FAO akan bekerja dengan negara-negara anggota dan mitra lainnya untuk memodifikasi, merancang ulang, atau memperkuat sistem keamanan pangan


1 Desember Hari AIDS Sedunia: Kilas Balik Penetapannya

7 hari lalu

1 Desember Hari AIDS Sedunia: Kilas Balik Penetapannya

Hari AIDS Sedunia merupakan momentum untuk menyatukan orang-orang di seluruh dunia untuk meningkatkan kesadaran tentang HIV/AIDS.


WHO Ganti Nama Virus Monkeypox Jadi Mpox, Simak Alasannya

9 hari lalu

WHO Ganti Nama Virus Monkeypox Jadi Mpox, Simak Alasannya

"Monkeypox sudah seharusnya dinamakan ulang untuk dua alasan utama yang satu di antaranya adalah tidak akurat secara saintifik."


Amerika Serikat Mendukung Protes Damai di China

9 hari lalu

Amerika Serikat Mendukung Protes Damai di China

Amerika menyatakan ini adalah momen untuk menegaskan kembali apa yang mereka yakini terkait dengan kebebasan berkumpul dan protes damai.


Hindari Stigma, WHO Gunakan Mpox daripada Monkeypox

9 hari lalu

Hindari Stigma, WHO Gunakan Mpox daripada Monkeypox

WHO meluncurkan proses konsultasi publik untuk menemukan nama baru bagi monkeypox atau cacar monyet awal tahun ini


Mengenal Gejala dan Penyebab Demam Kuning

11 hari lalu

Mengenal Gejala dan Penyebab Demam Kuning

Menurut World Health Organization disingkat WHO, diperkirakan ada 200.000 orang yang terinfeksi demam kuning setiap tahunnya.


Covid-19 Terkini: 300 Subvarian Omicron dan Batuk Kronis

11 hari lalu

Covid-19 Terkini: 300 Subvarian Omicron dan Batuk Kronis

Kasus-kasus Covid-19 telah benar-benar berubah sejak Omicron terdeteksi setahun yang lalu.


Rima Melati, Lifetime Achievement FFI 2022: Besar Kontribusi dalam Film, Perkasa Melawan Kanker

13 hari lalu

Rima Melati, Lifetime Achievement FFI 2022: Besar Kontribusi dalam Film, Perkasa Melawan Kanker

Mendiang Rima Melati mendapatkan Lifetime Achievement FFI 2022. Ini kisah kontribusinya dalam dunia film, dan perjuangannya melawan kanker.