RS Polri Akan Layani Terapi Stem Cell, Kerja Sama dengan Celltech

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala RS Polri Brigjen Asep Hendradiana dan Deby Vinski dari Celltech Stem Cell Centre Laboratory & Banking saat menyepakati nota kesepahaman untuk rujukan pengambilan sampel dan aplikasi terapi stem cell atau sel punca di Jakarta, Rabu 13 Oktober 2021. TEMPO/Wuragil

    Kepala RS Polri Brigjen Asep Hendradiana dan Deby Vinski dari Celltech Stem Cell Centre Laboratory & Banking saat menyepakati nota kesepahaman untuk rujukan pengambilan sampel dan aplikasi terapi stem cell atau sel punca di Jakarta, Rabu 13 Oktober 2021. TEMPO/Wuragil

    TEMPO.CO, Jakarta - RS Bhayangkara Tk I R. Said Soekanto atau RS Polri berniat meningkatkan kapasitas kemampuan demi mengejar ketinggalan pelayanan dari rumah sakit lain. Upaya yang dilakukan di antaranya adalah menjalin kerja sama dengan Celltech Stem Cell Centre Laboratory & Banking untuk rujukan pengambilan sampel dan aplikasi terapi stem cell atau sel punca.

    Nota kesepahaman untuk kerja sama tersebut ditandatangani di Vinski Tower, Jakarta Selatan, yang menjadi lokasi laboratorium dan bank stem cell milik Celltech, Rabu 13 Oktober 2021. Hadir dalam penandatanganan itu adalah Kepala RS Polri Asep Hendradiana beserta sejumlah jajarannya. MoU diteken Asep bersama Deby Vinski, pendiri Celltech.

    “Kami berharap lebih banyak dokter RS Polri yang dilibatkan, bukan cuma dalam pelayanan pengobatan, tapi juga penelitian dan pengembangan serta pendidikan tentang terapi stem cell,” kata Asep, dokter juga anggota polisi berpangkat brigjen itu, dalam penandatanganan MoU tersebut.

    Dia mengakui kemampuan Celltech, dengan teknologi Quantum Stem Cell yang dimilikinya—yang memungkinkan proliferasi atau perbanyakan sel dengan lebih cepat dan kualitas terjaga, lebih maju daripada periset stem cell lain di tanah air. Pada akhirnya, Asep berharap kerja sama layanan terapinya nanti tidak hanya berguna untuk keluarga besar Polri tapi masyarakat secara umum.

    Dalam keterangannya, Deby mengatakan kalau stem cell kini bisa digunakan untuk terapi berbagai penyakit termasuk leukimia dan diabetes. Dan selama ini, dia mengungkapkan, banyak orang Indonesia mencari terapi stem cell dan jasa penyimpanannya ke Singapura. “Padahal di Singapura hanya ada laboratorium. Kalau kami bukan hanya lab, tapi menyimpan juga,” kata Presiden World Council for Preventive, Regenerative and Anti-aging Medicine itu.

    Deby menambahkan sumber sel punca yang dinilai paling bagus oleh tim di Celltech adalah tali pusat. Informasi ini, berdasarkan MoU yang diteken hari ini, akan dibagikan di unit layanan bersalin RS Polri. Akan disampaikan ari-ari bayi jangan langsung dibuang, tapi ditawarkan kalau mau dipelihara dan disuburkan untuk sewaktu-waktu mau dipakai terapi stem cell.

    Di satu bagian di gedung Vinski Tower itu, didukung teknologi Uninterruptible Power Supply, tali pusat disimpan dalam suhu yang terjaga -196 derajat Celsius. “Apakah menyimpan untuk dimanfaatkan atau donatur, kami terima,” kata Deby tanpa menyebut detail besaran biaya. “Mirip-mirip biaya di Singapura tapi lebih terjangkau,” katanya.

    Anggota Komite Pengembangan Sel Punca dan Sel di Kementerian Kesehatan RI, Marhaen Hardjo, menilai terapi stem cell termasuk perkembangan yang tak bisa dihindari saat ini. Satu contoh figur terkenal pemetik manfaat dari terapi itu disebutkannya adalah mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad. “Umur hampir 100 tahun tapi dia sampai sekarang masih bisa dansa kayak anak muda,” katanya.

    Baca juga:
    Perkenalkan Bombyx, Robot Ulat Sutra dari Laboratorium Facebook


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Biarkan Satu Teman Yang Toxic Mempengaruhi Anda

    Berikut 5 tanda persahabatan yang beracun atau Toxic friendship, perlu evaluasi apakah harus tetap berteman atau cukup sampai di sini.